Kucing Hitam

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

PENDEKAR pencak Sumianto dari Perguruan Ilmu dan Seni Beladiri Haji Salam, Banten, berkunjung ke Bandung akhir pekan lalu. Selama dua hari, dari 1 hingga 2 Oktober 2016 lalu, ia menjadi instruktur dalam workshop pencak di sekretariat Lembaga Budaya Sunda (LBS) Universitas Pasundan di Gegerkalong, Bandung. Dalam workshop yang diselenggarakan oleh Lembaga Pewarisan Pencak Silat (Garis Paksi) ini, Pak Yanto —panggilannya— memperkenalkan karakteristik jurus pencak aliran Haji Salam beserta aplikasinya dan kandungan makna filosofisnya. 

"Lamun aya sémah, ampihan. Lamun sémah balik, anteurkeun jeung bahanan," tutur Pak Yanto. Secara harfiah, kata-kata itu berarti jika kita mendapat tamu, kita mesti mempersilakannya masuk, dan jika tamu pulang, kita mesti mengantarkannya seraya membekalinya. Secara konotatif, ungkapan itu menyarankan agar sang pesilat dapat menyesuaikan gerak tubuhnya dengan gerak tubuh lawannya. Dengan kata lain, kita membalas serangan lawan dengan memanfaatkan tenaganya. Ada ungkapan lain yang senada dengan kata-kata itu tadi: datang sampakkeun, balik bahanan.

Nama perguruan H.S. mengingatkan orang kepada perintisnya, yakni Haji Salam (1869-1955), sang pendekar dari Serang. Alkisah, dahulu kala, Haji Salam berupaya menaklukkan musuh utamanya, Lurang Bintang. Namun, sang musuh begitu tangguh. Meski telah berguru ke berbagai perguruan, Haji Salam tidak berhasil menjatuhkan sang musuh. Barulah, setelah ia menggembleng diri di perguruan kesekian, di gunung yang sunyi bersama guru yang luhung, ia berhasil juga menaklukkan musuhnya itu. Segera terbayang kerasnya tekad sang pendekar mendatangi perguruan demi perguruan sebelum pada gilirannya ia menguasai jurus-jurus andalan.

Tidak mengherankan jika, sebagaimana kata pemuka Garis Paksi Gending Raspuzi, pencak aliran H.S. dapat merangkum berbagai aliran pencak yang dikenal terutama di Tatar Sunda. Dari gerak khas Cikalong hingga gerak ulin Sera, misalnya, sedikit banyak tercakup pula dalam karaktertistik H.S. Itulah salah satu bukti kecerdasan, kreativitas, dan kemahiran para pendahulu H.S. dalam upaya menggali, mengolah, dan mengembangkan ilmu dan seni bela diri yang sudah menjadi tradisi. 

"Walaupun jurus kita sudah bisa mengukir langit, itu tidak ada artinya kalau kita durhaka kepada orang tua dan guru," kata Pak Yanto lagi.

Haji Salam menurunkan ilmunya kepada antara lain empat penerus, yakni R. Djoemlan, H. Sopyan, H. Toha, dan Sutoro. Pak Yanto sendiri adalah bagian dari generasi ketiga penerus H.S. Ia belajar kepada Pak Djoemlan yang wafat pada 1980-an. Mulanya, Pak Yanto mengajarkan seni ibing di lingkungan H.S. hingga perguruan ini meraih prestasi membanggakan dalam bidang tersebut di lingkungan masyarakat pencak. Atas jasa-jasanya, Pak Yanto dipersilakan mendalami aspek bela diri di lingkungan H.S. Sejak itulah pria kelahiran 1960 ini menjadi pewaris H.S. 

Pak Yanto tinggal di Ciruas, Rangkasbitung, sebagai ayah tiga anak. Semasa remaja ia mengenyam pendidikan formal antara lain di Cilegon. Ia menikah dengan seorang pegawai negeri sipil. Pada 1987, mendampingi sang istri, ia pindah ke Riau, dan baru kemabli ke Rangkasbitung pada 2011. Sehari-hari, di tempat tinggalnya, Pak Yanto membuka kios tempat isi ulang galon air minum. "Jadi, usaha saya ini di bidang pemasaran kementerian pengairan," seloroh Pak Yanto di sela-sela workshop seraya terkekeh.

Dalam obrolannya, Pak Yanto juga sempat menyinggung-nyinggung gambar kucing hitam sebagai lambang perguruan H.S. Katanya, lambang itu dikenal sejak zaman Pak Djoemlan. Adapun kucing diberkati tubuh yang amat lentur. Kalau terjatuh, ia tidak pernah telentang. Kalau meloncat, ia bisa meliuk. Bahkan dapat disebutkan bahwa kucing memiliki kharisma tersendiri. Pengemudi kendaraan bermotor biasanya segera mengerem kendaraannya manakala terlihat ada kucing lewat. 

Sungguh banyak pengajaran berharga yang disampaikan oleh kucing hitam dari Rangkasbitung ini. Berkali-kali, sebagai salah seorang peserta workshop, saya berterima kasih kepadanya.***