Puncakeurad

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SETIDAKNYA ada tiga jalan menuju Puncakeurad, di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang. Pertama dari sekitar Cikole, kedua dari Langensari di utara Gunungbatu, dan ketiga dari Maribaya. Perjalanan kali ini melalui Maribaya, yang jaraknya sampai Puncakeurad sekitar 6 kilometer. Setelah melewati Ci Gulung, ada belokan ke utara. Inilah tantangan pertama. Dari ketinggian +1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Maribaya, tiba-tiba harus naik dengan kelokan tajam ke +1.180 mdpl. Dengan jaraknya hanya 400 meter, jalanan menjadi berkelok tajam, sehingga perlu kehati-hatian ekstra. Setelah melewati tanjakan, perjalanan akan masuk ke wilayah Wangunharja, Cikawari, dan Cibeureum. Mulai kaki Pasir Reungit, jalannya masih berupa batu yang disusun, kadang tinggal tanah yang licin bila turun hujan.

Dari arah Cibeureum, sudah terlihat ada jalan merah yang menggaris di atas lereng. Lereng itu merupakan sebagian kecil dari lereng selatan gunung api purba. Jalan terus menanjak sampai ketinggian + 1.390 mdpl, itulah Puncakeurad, puncak tertinggi di lintasan jalan antara Maribaya–Cibitung. Dari batas inilah, perjalanan ke arah utara akan terus menurun tajam dan berkelok.

Dalam bahasa Sunda, eurad berarti jerat. Kalau dibuat rekonstruksi sosialnya, di kawasan inilah pada masa lalu, para pemburu sering memasang eurad untuk menjerat binatang seperti mencek. Binatang jago lari di dalam hutan ini akan dikepung dari bawah, lalu digiring menuju lereng atas agar larinya tidak terlalu cepat. Bila pemburu itu warga dari Maribaya atau Cibodas, mencek akan digiring ke utara menuju puncak. Demikian juga para pemburu dari Cibitung, akan menggiring buruannya ke selatan. Dengan bantuan anjing pemburu yang terlatih, mencek akan diarahkan, didesak, dikejar sehingga berlari ke arah lereng curam menuju puncak.

Di titik tertinggi itulah para pemburu sudah memasang eurad sebelum perburuan dimulai. Eurad-nya dipasang dengan penyamaran, dan bagi binatang buruan, tidak ada pilihan lain kecuali masuk ke dalam jebakan yang sudah dipersiapkan. Eurad itu dapat menjerat buruannya secara otomatis, bila binatang itu manginjak jebakan, maka jerat akan berfungsi, tali tertarik, lalu tubuh bintang buruan akan terikat kuat. Karena seringnya para pemburu memasang eurad di sana, maka tempat itu disebut Puncakeurad.

Lereng yang telah ditempuh dari arah selatan tadi semula merupakan lereng gunung api yang menjulang tinggi, yang kemudian meletus dahsyat sekitar 59.000.000 tahun yang lalu (Paleosen akhir). Letusannya terbuka ke arah utara, mengembuskan gas gunung api dengan tekanan yang sangat tinggi, sehingga menghamburkan "rempah-rempah" dari dalam tubuh gunung ini ke angkasa. Karena banyaknya material dari dalam tubuh gunung ini yang dihamburkan ke luar, maka bagian atas gunung tak mampu lagi menahan beban yang semakin berat. Akhirnya tubuh gunung itu ambruk membentuk kaldera dengan garis tengah sekitar 5 kilometer.

Bibir kalderanya melingkar setengah lingkaran. Di bagian lemah, di sisi kaldera itulah magma menerobos membentuk kerucut-kerucut gunungapi, seperti: Pasir Meong (+1.397 mdpl), Pasir Waspada (+1.533 mdpl), Gunung Korsi (+1.430 mdpl), Gunung Cikendung (+1.500 mdpl), Gunung Lingkung (+1.529 mdpl), dan Gunung Pamoyanan (+1.517 mdpl). Dari dinding kaldera yang berupa hutan, anak-anak sungai mengalirkan air, masuk ke lembah-lembah, lalu mengalir ke Ci Bitung dan Ci Punagara, yang bergabung di lingkaran kaldera sisi utara. Kini, aktivitas magma sudah tidak ada lagi, sehingga gunung api ini sudah menjadi fosil gunung api atau gunung api purba.

Puncakeurad itu berada persis di bibir kaldera, sekaligus batas daerah aliran sungai (DAS). Bila hujan turun di kawasan ini, maka air akan yang jatuh di permukaan akan mengalir ke selatan dan ke utara. Yang ke selatan akan bermuara di Ci Kapundung, dan yang ke utara masuk ke Ci Bitung dan Ci Cupunagara yang bergabung di lingkaran luar kaldera Cibitung. Di dasar kaldera ini sudah dihuni warga dengan segala kegiatannya, dengan pusat kegiatan di Cibitung.

Turun dari Puncakeurad ke arah utara, memasuki wilayah Kabupaten Subang. Sesungguhnya jalan yang curam itu adalah dinding bagian dalam Kaldera Cibitung. Jalanannya menurun tajam dan berkelok. Jalannya masih berupa jalan batu yang disusun, yang bila batunya ada yang lepas, akan melaju di jalan tanah yang licin. Dari Puncakeurad menurun ke utara, akan segera terlihat bagaimana alih fungsi lahan sangat kuat terjadi, yang semula hutan, kini menjadi kebun sayur di lereng-lereng yang curam.

Bila terus menurun di dasar Kaldera Cibitung ke arah timur akan sampai di pemukiman di Cupunagara. Pada masa kolonial, dasar kaldera ini dijadikan perkebunan teh yang subur dan terpelihara baik. Lereng kalderanya dibiarkan berupa hutan, sehingga dapat menjaganya ketersediaan air dan kestabilan lereng.***