Jalur Sepeda

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

KATA si empunya berita, 30 stasiun sepeda akan dibangun di Kota Bandung, dan 350 sepeda bakal disediakan di stasiun-stasiun itu. Dananya, Rp 7,6 miliar, berasal dari kocek pemerintah kota, dan programnya dilelang kepada kalangan pengusaha. Lelang direncanakan akhir tahun ini, dan stasiun-stasiun itu diharapkan berfungsi awal tahun depan. (Pikiran Rakyat, 22 Agustus 2016).

Program ini dinamai bike sharing. Maksudnya, sewa-menyewa sepeda. Anda tinggal datang ke stasiun dimaksud, titipkan katepe atau kartu sejenis, bayar di muka, dan silakan mengayuh pedal berkeliling kota. Bukan program baru, sebetulnya. Program ini sudah berlangsung sejak 2012. Tempat menyewa sepeda itu dapat dicari, misalnya di sekitar kampus ITB, Dago, dan tempat lain. Cuma, entah kenapa, program itu kelihatannya macet. Stasiun dan sepedanya sih masih ada, tapi kegiatannya kayaknya terhenti.

Bagus juga sih kalau para pelancong berduyun-duyun ke Bandung buat naik sepeda. Kelak, barangkali, ada layanan kereta yang lebih mantap sehingga turis dari luar kota tidak usah bawa mobil sendiri. Nanti, siapa tahu, ada angkutan umum yang lebih nyaman, sehingga para penumpang kereta bisa terus naik bus ke pusat kota. Di sekitar pusat kota, barulah mereka bisa menyewa sepeda. Barangkali, seperti itulah impian pengelola kota.

Untuk sementara, saya sendiri masih terjaga di dunia nyata. Di akhir pekan, atau di musim liburan, baru saja keluar dari gang buntu tempat kami tinggal, saya lihat mobil-mobil antre di Sersan Bajuri. Dalam Google Maps, jalur-jalur di sekitarnya, seperti Setiabudhi, Suriasumantri, Cipaganti, Cihampelas, dan jalur-jalur lain terlihat berwarna merah pertanda para pelancong akhir pekan sedang menikmati wisata karbon monoksida. Kalau sudah begitu, biasanya saya segera masuk ke gang lagi, seperti seekor tikus got yang gugup dan terserang sejenis frustrasi.

Seingat saya, salah satu alasan saya bersepeda ke kampus dan tempat-tempat lain di sekitar pusat kota adalah frustrasi seperti itu. Mau naik mobil, selain berat di ongkos, juga sering ribet di jalur-jalur sibuk. Apalagi bawa mobil sendiri, masalahnya tambah pelik sebab tempat parkir kian hari kian susah. Mau naik motor, selain merasa tak lagi secekatan dua dasawarsa silam, juga terasa kian mengerikan. Ya, sudah, lebih baik pakai sepeda, paling tidak buat bepergian ke tempat-tempat berjarak dekat. Mitos tanjakan, juga ancaman terserempet kendaraan bermotor, toh bisa diatasi dengan kebiasaan.

Dan bike sharing? Tidak, terima kasih. Jelek-jelek, sepeda yang saya pakai hampir saban hari toh kepunyaan sendiri. Memang barang lama, tapi kondisinya masih prima, hasil rakitan ulang montir-montir cekatan dari Jalan Veteran. Rusak sedikit, tinggal pergi ke Jalan Adiwarta di Lembang. Cukup curhat kepada Mang Ujang, dan segala masalah perbosehan segera hengkang. Banyak komunitas pula, mulai dari komunitas penggemar jersey yang selalu merindukan hari Minggu hingga komunitas penggemar tenda yang senantiasa merindukan libur panjang. Bersama mereka, saya punya kesempatan memulihkan kegembiraan.

Apa yang paling saya perlukan saat ini adalah jalur sepeda. Memang, di Bandung sudah ada bike lane, tapi dalam penglihatan saya yang rabun fasilitas itu tidak terpelihara dan tidak terjaga. Jalur sepeda di sepanjang Juanda, yang dikasih cata hijau itu, sudah lama catnya terkelupas dan fungsinya beralih. Jalur sepeda di sepanjang Dipatiukur, meski dilengkapi gambar sepeda baik di permukaan maupun di tepiannya, malah jadi tempat parkir kendaraan bermotor dan tempat jualan jajanan. Jalur sepeda yang masih bagus terdapat di dekat Balai Kota, misalnya di Jalan Merdeka atau Jalan Aceh, tapi itu pun masih lebih sering berfungsi sebagai jalur kendaraan bermotor. Dengan terpaksa, meski tetap gembira, saya ambil jalur tengah tak perduli dengan teror klakson.

Sudah dua orang teman saya yang terpelanting di jalan raya. Yang satu, tetangga, diseruduk sepeda motor yang ngebut ke arah Lembang. Sepedanya ringsek, dan sang teman dilarikan ke RS Dokter Salamun di Ciumbuleuit. Yang satu lagi, sejawat, juga diseruduk sepeda motor, tapi untungnya tidak sampai cedera fatal. Berita baiknya adalah kenyataan bahwa teman-teman itu tidak kapok bersepeda di kota ini.

Begitulah, tanpa jalur sepeda yang memadai, saya kira, stasiun-stasiun sepeda buat para turis itu jangan-jangan bakal bernasib serupa dengan program tahun 2012. Paling tidak, lucu juga kalau kita membangun stasiun tapi tidak membangun jalur.***