Suara Daerah

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Nama-nama geografi bukan saja bersumber dari bentukan alam yang terlihat, tetapi ada juga nama-nama geografi yang bersumber dari suara, baik dari suara langsung yang ditimbulkan oleh alam, atau dari suara binatang di suatu kawasan.

Di Kota Bandung, misalnya, ada nama geografi Ciharegem. Haregem itu suara menggambarkan suara harimau. Sangat mungkin, penduduk di kawasan ini saat itu, tidak pernah melihat wujud harimau-nya. Sebab, bila masyarakat melihat harimaunya secara langsung, daerah itu akan diberi nama Cimaung. Atau bila macan yang terlihat, maka daerah itu akan dinamai Cimacan. Bila setiap malam hanya suara harimau yang terdengar, hanya geraman, haregem yang terdengar, maka daerah itu dinamai Ciharegem.

Nama geografi yang bersumber dari suara di langit adalah Cigugur, seperti nama geografi yang ada di Kabupaten Bandung Barat. Dalam bahasa Sunda, gugur adalah suara guruh yang menggelegar di langit. Nama geografi Cigugur, menunjukkan bahwa di kawasan itu, guruhnya jauh lebih banyak atau sering terdengar dari pada yang terjadi di daerah lain di sekitarnya. Maka daerah itu dinamai Cigugur.

Di Kabupaten Bandung, ada nama geografi Ciseah, dan di Kabupaten Garut ada nama geografi Haurseah. Dalam bahasa Sunda, seah itu tiruan bunyi angin yang bertiup kencang, atau suara hujan yang tertiup angin. Di Ciseah dan di Haurseah, sangat mungkin pada waktu-waktu tertentu, anginnya bertiup sangat cepat meniup hujan dan rumpun bambu haur, sehingga menimbulkan suara keras yang khas.

Di sekitar jalan Dr Setiabudhy, Kota Bandung, ada nama geografi Korobokan. Korobokan, dalam bahasa Sunda berupa tiruan bunyi yang ditimbulkan dari air dengan tekanan yang kuat, yang berasal dari aliran di dalam tanah.

Lain lagi dengan nama Curug Dogdog dan Curug Citambur. Dari kejauhan, suara yang ditimbulkan dari air terjun itu seperti irama dogdog dan irama tambur. Dogdog itu tetabuhan yang menyerupai bedug kecil, yang biasa dipakai dalam grup musik reog. Air terjun yang menimbulkan bunyi seperti irama dogdog, maka air terjun itu dinamai Curug Dogdog, seperti yang terdapat di Kabupaten Bandung.

Sama seperti tetabuhan yang terdengar di Curug Dogdog, ada air terjun yang terdengar menimbulkan seperti suara tambur. Bur… bur…. Maka masyarakat di sana menamainya Curug Citambur, seperti yang terdapat di Kabupaten Cianjur.

Nama geografi Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, konon bersumber dari suara yang terdengar dari kawah Gunung Papandayan. Suara yang terdengar seperti hantaman palu pandai besi yang sedang membuat perkakas. Panday itu tukang yang membuat perkakas dari besi dengan cara ditempa.

Seperti nama geografi Ciharegem, ada juga nama geografi Cigulukguk di Purwakarta, dan Cigalukguk di Kabupaten Bandung, dan di Kabupaten Bandung Barat. Dalam bahasa Sunda, gulukguk itu kata yang menggambarkan suara bagong, babi hutan. Namun, dalam pengucapannya ada yang berubah menjadi galukguk, namun maknanya sama seperti kata asalnya gulukguk. Di daerah yang diberi nama Cigulukguk dan Cigalukguk, pastilah di sana, pada mulanya, terutama pada pada malam hari, saat bagong itu keluar untuk mencri makan, akan terdengar suara babi hutan di sekitar kebun di dekat perkampungan.

Nama geografi yang bersumber dari suara adalah Gerendong dan Cigerendong. Bila ada nama geografi seperti itu, dapat disimpulkan bawa di sana terdapat goa, kawasannya berupa kawasan batukapur/kars, sehingga banyak terdapat goa. Bila bersuara di dalam goa akan menimbulkan suara yang bergema, ngagerendong, sehingga daerah-daerah bergoa yang menimbulkan gema, yang ngagerendong, mana kawasan itu dinamai Cigerendong seperti yang terdapat di Kabupaten Tasikmalaya, dan Gerendong di Cirebon dan Pandeglang.

Kini, harimau Jawa sudah musnah di Pulau Jawa, sehingga masyarakat di Ciharegem sudah tidak akan lagi mendengar suara harimau ngaharegem, harimau menggeram. Demikian juga bagong atau babi hutan sudah semakin terdesak ke kaki hutan, sehingga masyarakat di Cigulukguk dan Cigalukguk, sangat mungkin sudah tidak lagi mendengar suara bagong malam hari yang sedang mencari makan.

Boleh jadi, dengan semakin kuat dan banyaknya bunyi-bunyian yang ada di sekitar kita saat ini, telah mengganggu dan mengurangi irama suara yang menyerupai suara dogdog dari Curug Dogdog, suara tambur dari Curug Citambur, suara di Korobokan, suara angin yang meniup hujan dan rumpun bambu di Ciseah dan di Haurseah, serta suara palu yang menempa besi yang sedang dibentuk menjadi perkakas yang keluar dari kawah Gunung Papandayan.***