Lima Kaki

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

Hari ini sering jadi kebalikan dari hari kemarin. Pada zaman Ismail Marzuki orang terpikat oleh sepasang “mata bola”, sedangkan pada zaman Marzuki Ali orang terpincut oleh “bola mata”. Era Said Effendi mendendangkan “asmara dewi”, sedangkan era Effendi Gazali melantunkan “dewi asmara”.
“Kalau kaki lima, Yah?” tanya anak saya.

“Sama saja, Jang. Itu juga kayaknya istilah jadul. Kalau istilah itu harus dibalikkan juga, maka kita punya ‘lima kaki’. Kurang lebih satu setengah meterlah,” jawab saya.

Sejarah bergulir sebagaimana frase dalam bahasa Indonesia. Terjadi perubahan dalam susunan hal yang diterangkan dan hal yang menerangkan. Sebelumnya tak sedikit susunan frase kita yang “menerangkan-diterangkan” (MD) kayak istilah Inggris, kemudian susunannya jadi “diterangkan-menerangkan” (DM). Dengan itu, Indonesia tidak ikut Belanda yang punya istilah ziekenhuis, melainkan menempuh jalan sendiri dengan memakai istilah “rumah sakit”.

Jika istilah “kaki lima” dibalikkan jadi “lima kaki”, maka kita mendapatkan ukuran umum teras rumah, trotoar, dan emperan toko. Kalau ada orang membikin teras lebih dari lima kaki, misalnya sampai lima meter, pasti rumahnya besar sekali. Jangan-jangan, untuk pergi dari ruang tamu ke dapur saja, orang sekaya dan seboros itu harus naik ojek. Dengan kata lain, ukuran teras dan trotoar tidak seberapa lebar. Lima kaki sudah cukup.

Istilah “kaki lima” dikenal baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Melayu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagaimana menurut Kamus Dewan, istilah “kaki lima” mengandung tiga arti. Pertama, lantai beratap yang menghubungkan rumah dengan rumah. Kedua, serambi muka atau emper toko di pinggir jalan. Ketiga, lantai di tepi jalan alias trotoar.

Dengan begitu, istilah “kaki lima” mengacu kepada tempat, ruang, spasi. Itulah ruang tempat para pedagang kaki lima. Istilah “pedagang kaki lima” sendiri, tentu saja, tidak berarti orang yang memperdagangkan kaki lima, atau pedagang yang kakinya lima, melainkan berarti orang yang berdagang dengan memanfaatkan ruangan sempit kaki lima sebagai tempatnya.

Entah sejak kapan istilah “kaki lima” dikenal dalam bahasa Indonesia. Yang pasti, jauh di masa silam, di permulaan abad ke-20, istilah yang dipakai dalam bahasa Melayu buat serambi justru “lima kaki”, bukan “kaki lima”. Salah satu rujukannya adalah Nieuw Maleisch-Nederlandsch Woordenboek (Kamus Melayu-Belanda Baru) susunan H.C. Klinkert terbitan Brill di Leiden tahun 1902. Di situ, dalam lema “lima” (vijf), terdapat keterangan tentang istilah “lima kaki” yang berbunyi: “lima kaki, vijf voeten, de naam v.d. voorgalerij van Mal. woningen (lima kaki, nama serambi rumah Melayu)”.

Meski bahasa Indonesia telah sedemikian berkembang, ekonomi Indonesia terasa masih timpang. Begitu senjang perbedaan antara surga pedagang bermodal besar dan neraka pedagang bermodal cekak. Pedagang besar ingin emperan malnya rapi dan necis kayak jalur suci hama. Adapun pedagang kecil dipaksa pindah ke ruangan bawah tanah, seperti tahanan politik yang dikarantina. Betapapun, selama ekonomi masih timpang, ruang-ruang lima kaki kelihatannya akan terus dimanfaatkan buat berjualan. Lagi pula, bagi mereka yang tidak begitu beruntung untuk mendapatkan barang-barang konsumsi kelas mal, kios kaki lima merupakan penawar frustrasi.

Saya sendiri adalah konsumen kaki lima. Tidak sedikit buku yang saya baca didapatkan dari emperan Gedung PLN di Jalan Cikapundung, emperan toko di Jalan Dewi Sartika, tepi jalan dekat Masjid Salman, atau dari kios kecil di tepi jalan di Cihapit. Sesekali, memang, saya keluar-masuk mal, berpura-pura kaya, biasanya buat sekadar melihat perkembangan produksi buku yang kian hari produknya kian mahal saja. Selebihnya, tambatan penghabisan adalah pedagang kaki lima.

Hari ini, ketika isyu mengenai pedagang kaki lima lagi-lagi jadi bising, saya menyadari satu hal lagi: emperan jalan atau teras kota yang lebarnya cuma lima kaki itu rupanya termasuk barang dagangan itu sendiri. Para pedagang kaki lima niscaya sudah banyak makan asam garap dalam urusan ini. Buat berjualan dengan memanfaatkan kaki lima, mereka toh harus membayar juga.

Rupanya, ada pedagang yang lebih besar, jauh lebih besar, yang salah satu barang dagangannya adalah kaki lima. Baik di masa lalu maupun di masa kini, biasanya pedagang besar jauh lebih berkuasa ketimbang pedagang kecil. Baik di masa lalu maupun di masa kini, kaum kecil biasanya akan sedapat mungkin melawan kaum besar. Dalam hal ini, hari ini belum tentu jadi kebalikan dari hari kemarin.

“Yah, kenapa atuh istilahnya tetap ‘kaki lima’, tidak jadi ‘lima kaki’?” tanya si anak lagi.
Sejenak, saya melongo. “Itulah hebatnya pedagang kaki lima, Jang. Mereka tidak mudah dijungkirbalikkan. Sebab, kalau kakinya tidak kuat, mereka pasti kalah oleh si kaki seribu. Sudah kakinya seribu, pakai sepatu lars pula,” jawab saya seenaknya.***

*) Penulis adalah kolumnis Pikiran Rakyat