Teman Jomblo

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

KATA jomblo hari ini mengalami pergeseran arti. Kalaupun artinya tidak begitu bergeser, nilai rasanya berubah. Dulu kata ini seperti aib, sekarang dianggap gaul. Di Bandung bahkan ada Taman Jomblo, sebutan populer buat Taman Pasupati yang diresmikan oleh Wali Kota Ridwan Kamil pada 2014. Kata wali kota, taman di bawah jembatan layang yang melintasi Dago itu disediakan karena pemerintah “memahami perasaan para jomblo”. 
 
Sebagai orang kampung penutur bahasa Sunda, saya senang tapi juga bingung dengan gejala itu. Saya senang karena ada kata dari bahasa ibu saya yang sekarang sering dipakai oleh kalangan muda di kota, tak terkecuali oleh pejabat pemerintah, terutama melalui media sosial. Namun, saya bingung dengan pergeseran arti, fungsi, dan nilai rasa istilah itu. Bagaimana mungkin aib diumbar begitu rupa?
 
Biar tidak bingung, saya cari penjelasan. Keterangan mengenai arti jomblo dewasa ini saya dapatkan dari buku Twitter Power: @ridwankamil (2014) karangan Maulana Yudiman dan Muhammad Sufyan. Buku ini kiranya merupakan salah satu buku yang belakangan terbit dari kalangan follower Ridwan Kamil, figur publik yang getol main media sosial. “Sekedar (Sic!) info, jomblo adalah istilah gaul untuk mereka yang sendirian, sorangan (Bahasa Sunda), atau single,” urai kedua penulis itu. 
 
Rupanya, kata jomblo hari ini diartikan sebagai “(orang yang) tidak punya pacar” atau “(orang yang) tidak punya pasangan”. Dalam fungsinya, kata ini sekarang bisa jadi kata benda alias nomina, baik tunggal maupun jamak, misalnya “para jomblo” yang dipakai oleh wali kota. 
 
Karena bahasa Sunda tercipta bukan lima menit yang lalu atau tadi malam, saya merasa perlu melongok istilah jomblo dalam konvensinya yang lama. Setelah membuka-buka lagi kamus bahasa Sunda yang dianggap baku, saya dapatkan sedikitnya dua kandungan pengertian. Pertama, jomblo berarti barang dagangan yang tidak laku. Kedua, jomblo berarti perempuan yang tidak kunjung mendapat jodoh. Dalam fungsinya, kata ini cenderung jadi kata sifat alias adjektiva.
 
Baik kita buka Kamus Basa Sunda (cet. ke-2, 2009) susunan R.A. Danadibrata. Dikatakan: “jomblo tumerap kana barang dagangan anu kurang atawa teu payu, sok disebut ogé jomlo, sabalaikna tina raris; dina musim ngijih loba dagangan jaromblo, komo nu dagang sirop és mah: awéwé dianggap barang dagangan, lantaran éta lamun awéwé teu buru-buru laku ka lalaki hartína teu buru-buru boga salaki dina waktuna sok disebut ~; ronggéng ~ ronggéng nu teu laku, euweuh nu ngigelan, upamana dina ketuk tilu.
 
Contoh pemakaian jomblo dalam artinya yang pertama terdapat dalam buku Sjarif Amin (1907-1991) dalam buku Keur Kuring di Bandung (1983). “Cénah, ari dagangan dikedengan téh pamali, matak jomblo, teu payu (Katanya, barang dagangan yang dijadikan alas berbaring itu pamali, bisa jadi jomblo, tidak laku),” tulis wartawan dan sastrawan itu. 
 
Contoh pemakaian jomblo dalam artinya yang kedua terdapat dalam buku Yuhana (w. 1930), Kalepatan Putra, Dosana Ibu Rama (1991, cet. ke-2). Dalam novel yang pertama kali terbit pada 1928 itu, seorang ayah menasihati anaknya agar segera mau bersuami: “Tah, ayeuna Ijah geus kaluar ti sakola, turug-turug umur Ijah geus leuwih ti tujuh welas taun, éta téh geus leuwih ti meujeuhna, malah sok jadi panyangka deungeun, majar téh parawan jomblo, cenah. Kahayang mama manéh téh kudu boga salaki.
 
Bahasa, tentu saja, selalu berubah. Soalnya adalah bagaimana perubahan itu terjadi. Dalam kasus jomblo, saya melihat pendangkalan kebudayaan. Orang memperlakukan kata tanpa pertimbangan mendalam perihal asal-usulnya. 
 
Betapapun, ada satu hal yang saya senangi dari populernya istilah jomblo dewasa ini, yakni kenyataan bahwa istilah ini tidak lagi secara khusus dilekatkan kepada perempuan yang dalam tatanan sosial jadul seakan disebandingkan dengan barang dagangan.
 
Waktu Ridwan Kamil mengumumkan alasannya tak jadi berangkat ke Jakarta buat bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama, ia menutup pernyataannya dengan imbauan kepada kaum jomblo untuk segera menikah. Kedengarannya tidak nyambung seperti dikatakan oleh si empunya pernyataan itu sendiri. Namun, jangan-jangan ada juga persambungannya. Bayangkan, seandainya waktu itu ada partai politik yang “meminang” Emil, saya kira, ia pasti tidak merasa jadi jomblo. (Hawe Setiawan, budayawan)***