Jembatan Sementara Cipatujah Diupayakan Bisa Dilintasi Akhir Pekan Ini

BAMBANG ARIFIANTO/PR
AKTIVITAS para pekerja di proyek pemasangan bailey atau jembatan sementara Cipatujah di Kampung Pesanggrahan, Desa/Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis 6 Desember 2018. Pemasangan bailey diperkirakan rampung dan bisa digunakan akhir pekan ini.*

SINGAPARNA, (PR).- Proses pemasangan jembatan bailey penghubung Kabupaten Tasikmalaya-Garut telah mencapai 90 persen. Jembatan itu diperkirakan bisa dilintasi kendaraan pada akhir pekan ini.

Pantauan "PR" pengerjaan pemasangan bailey tengah berlangsung di lokasi jembatan yang ambruk di Kampung Pasanggrahan, Desa/Kecamatan Cipatujah, Kamis 6 Desember 2018. 

Sejumlah pekerja terlihat mengelas sambungan-sambungan besi yang terentang di atas Sungai Cipatujah. "Sudah sampai 90 persen, ini kita sedang mau menyelesaikan penyambungan," kata Pejabat Pembuat Komitmen 1 Pelaksanaan Jalan Nasional III Jawa Barat Slamet Riyadi saat ditemui di lokasi proyek, Kamis siang. 

Pemasangan jembatan sementara tersebut diupayakan rampung dan bisa dilewati kendaraan pada Minggu 9 Desember 2018. "Kalau nanti kita cek sudah siap semua terus rambu-rambu yag diperlukan (sudah terpasang) kita open traffic," tuturnya.

Meski demikian, proses pengerjaan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Bila cuaca buruk, Slamet, memilih menghentikan aktivitas para pekerja. Pasalnya, arus Sungai Cipatujah membesar dan kencang sehingga membahayakan para pekerja. Apalagi, pekerja juga mengoperasikan alat berat berupa eksavator yang masuk ke badan sungai menggunakan pelampung sebagai landasannya. 

Arus yang kencang berpotensi menyeret alat berat sekaligus para pekerja tersebut. Kendala lain yang dihadapi adalah pasangnya air laut. Letak jembatan yang berada di dekat muara sungai atau tepi pantai membuat air laut pasang dan menyulitkan pengerjaan proyek. Jika air laut pasang sekaligus arus kencang terjadi, permukaan sungai pun seperti berputar. 

Terkadang, lanjut Slamet, arus sungai menjadi kencang terjadi saat hujan terjadi di hulu Cipatujah. Padahal, hujan tak turun di area proyek. Guna mengantisipasi kemungkinan terjangan arus sungai yang tak terduga, Slamet mengatakan ada pekerja yang ditempatkan di wilayah hulu. 

"Kalau di sana hujan kontak (pekerja itu mengabari)," ujarnya. 

Warga dan pengusaha pasir harap mematuhi aturan

Meskipun akses penghubung Tasikmalaya-Garut itu penting segera dibangun, Slamet tak mau berkompromi dengan keselamatan para pekerjanya. Pemasangan harus segera dirampungkan dengan tetap tak mengabaikan aspek keselamatan pekerja. 

Jika bailey telah tersambung, tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai dari kayu dan bronjong oprait atau penghubung jembatan. 

Selepas itu, jembatan siap digunakan namun dengan sejumlah aturan bagi kendaraan yang melintas berupa batas tonase dan ketinggian. "Yang diperbolehkan (melintas), maksimal bobot totalnya lima ton, barang plus kendaraan," ujar Slamet. 

Truk-truk pengangkut pasir bobot besar dengan bus-bus dengan sumbu roda dua ikut dilarang. Selain itu, ketinggian kendaraan yang boleh melewati jembatan maksimal sekitar dua meter. Rencananya, pekerja akan memasang pula portal dan rambu-rambu terkait aturan itu.

Slamet juga meminta pengertian warga dan pengusaha pasir guna mematuhi aturan tersebut. "Para pengusaha kalau ngangkut pasir yang pakai mobil kecil, ada kan mobil bak kecil," ucapnya. 

Aturan itu diberlakukan agar jembatan sementara tersebut tak rusak karena aktivitas lalu lalang kendaraan berbobot besar. Bailey Cipatujah memiliki lebar 3,5 meter dengan bentang panjang 81 meter. Sedangkan jembatan lama yang ambruk hanya memiliki panjang 64 meter. 

Bailey pun memiliki 10 tiang pancang serta dua tiang yang berfungsi sebagai bemper atau penahan terjangan sampah-sampah yang terbawa arus sungai. 

Sementara itu, warga yang bermukim di sekitar jembatan berharap pengerjaan bailey itu segera rampung. Pasalnya, putusnya akses berdampak pada kegiata ekonomi masyarakat. 

"Gara-gara ini (jembatan ambruk) ongkos bongkar muat double," kata Triyanto, warga Kampung Pasanggrahan. Triyanto yang memiliki usaha bengkel las listrik tersebut mesti mengeluarkan ongkos lebih untuk mengantarkan pesanan teralis.

 Dia harus menyeberangkan teralis menggunakan perahu/rakit hingga tiba di tempat pemesan. Hal serupa terjadi pada pengiriman hasil bumi dan gas tiga kilogram. Gas ‎tiga kilogram yang harga di Pesanggrahan Rp 20 ribu melonjak menjadi Rp 35 ribu di Cikanyere dan Sukahurip. 

Kedua lokasi itu berada di seberang Pasanggrahan dan telah terpisah sejak jembatan lama ambruk.

Seperti diketahui, cuaca buruk yang terus terjadi membuat Jembatan Cipatujah ambruk pada Selasa 6 November 2018. Tak hanya akses yang putus, longsor juga terjadi di Kecamatan Culamega yang lokasinya berdekatan dengan Cipatujah. Hitungan kerugian sementara akibat bencana banjir dan longsor yang menerjang Kecamatan Cipatujah dan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya mencapai Rp 71.311.903.496.  

Jumlah kerugian tersebut terdiri dari kerusakan perumahan sebesar Rp 10.693.500.000, pertanian Rp 5.507.000.000, infrastruktur Rp 51.900.000.000, lingkungan hidup Rp 1.527.903.496, kelautan dan perikanan Rp 3.683.500.000. Jumlah itu berdasarkan data rekapitulasi ‎ Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Tasikmalaya.***

Baca Juga