Komunitas Cirebon Art Hadirkan Sentuhan Mural untuk Ubah Kesan Kumuh Gang

Mural/ANI NUNUNG ARYANI/PR
DUA pesepeda melintas di depan lukisan mural bertema ikon kota besar di dunia, sepanjang tembok pembatas pemukiman warga dengan rel kereta api, di kawasan Karang Anyar Kesambi Selasa 11 September 2018.*

YANTI siswi salah satu SMP Negeri di Kota Cirebon senang. Sudah sebulan ini, rumahnya di Karang Anyar Kesambi (Karsem), Kota Cirebon sering menjadi tempat main teman-teman sekolahnya.

Meski alasan sesungguhnya teman sekolahnya hanya untuk bisa foto-foto selfie di depan rumahnya, namun bagi Yanti itu bukan masalah. Saat ini tembok panjang di depan rumah siswi kelas VIII ini, yang semula penuh coretan tidak jelas, sudah bersalin rupa, menjadi elok dilihat.

Tembok pembatas pemukiman warga dengan rel kereta api sepanjang sekitar 500 meter saat ini menjadi ikon kawasan setempat. Lukisan mural dengan berbagai tema, dari mulai obyek tujuh keajaiban dunia dan ikon-ikon kota besar di dunia sampai lukisan pemandangan alam, sungai, pegunungan dan binatang telah mengubah “wajah” gang.

“Obyek tujuh keajaiban dunia menjadi lokasi favorit kami untuk foto-foto, “ kata Yanti.

Tono, salah seorang anggota pertahanan sipil (hansip) di Kelurahan Kesambi juga mengungkapkan kegembiraannya. Menurut bapak dua anak ini, sejak ada lukisan mural, kawasan Karsem menjadi lokasi wisata dadakan warga Kota Cirebon, terutama saat hari Minggu.

“Setiap hari Minggu , istri saya bisa jualan jajanan di depan rumah, karena banyak warga yang foto-foto atau sekedar lihat-lihat, “ katanya. Lukisan mural di kawasan Karsem, merupakan salah satu hasil karya, kerja sosial komunitas Cirebon Art.

Menurut Izudin, pendiri Cirebon Art, motivasi utama berdirinya Cirebon Art memang dari keprihatinan seniman akan sumpek dan kumuhnya kawasan kota, terutama yang masuk gang. Mereka berharap keindahan lukisan mural, setidaknya bisa menghadirkan keceriaan, kebahagiaan dan energi positif lain, bagi penghuni kawasan itu maupun warga yang melintas.

“Saat kumpul ngopi itulah muncul ide untuk sedikit memberikan warna kawasan kota, terutama gang-gang yang kesannya sumpek dan kumuh, dengan memanfaatkan kemampuan teman-teman yang pandai melukis, “ kata Izudin didampingi Toni, Dadang dan Guntur anggota komunitas Cirebon Art yang ditemui di pojok baca kantor Kelurahan Pekiringan Senin 10 September 2018.

Diakui Izudin, Cirebon Art lahir nyaris tanpa target apa pun, hanya didorong keprihatinan dan motivasi bisa ikut memberi warna dan memberikan arti kepada sesama.

Bersambutnya gayung keprihatinan dan keinginan memberikan arti, dimungkinkan juga karena sebagian anggota komunitas adalah seniman yang sudah berumur, sehingga mereka sudah pada tahap usia ingin menyumbangkan sisa usia kepada sesama.

“Tanpa sokongan dana dari lembaga manapun, hanya senyum ramah dan ucapan terima kasih yang selama ini menjadi suntikan energi bagi Cirebon Art untuk terus memberikan arti, “ paparnya.

Diisi para seniman berpengalaman

Selain kematangan pengalaman dalam hidup dan berkesenian, anggota Cirebon Art juga bukan seniman sembarangan. Salah satu anggota Cirebon Art,  Toni adalah desainer furnitur yang pernah menyabet posisi 5 desain furnitur terbaik tingkat dunia tahun 2003 dan desainer furnitur Indonesia terbaik tahun 2009.

Meski baru berdiri sekitar 1 tahun, komunitas seniman dari mulai seniman lukis, lanskap, designer produk, ukir, patung, teater dan seni pertunjukan, kaligrafi dan lainnya, berhasil menyulap belasan titik gang di kawasan Kota Cirebon, yang semula kumuh, menjadi indah.

Menurut Guntur, upaya memperindah kawasan kumuh dengan lukisan mural yang memanfaatkan dinding-dinding kosong juga bertujuan memancing anak-anak untuk keluar rumah dan bersosialisasi.

“Makanya sebagian obyek lukisan mural juga inspirasinya dari super hero atau tokoh kesukaan anak-anak, agar mereka mau keluar rumah dan bisa sedikit melepaskan ketergantungan anak-anak sekarang akan perangkat gadget,” ungkap Guntur.

Lurah Pekiringan, Gandi mengakui, dirinya memanfaatkan betul motivasi komunitas Cirebon Art untuk memperindah kota. “Kalau harus membayar pelukis yang komersial kami pasti tidak akan mampu. Karena ada banyak gang yang ingin kami perindah, “ katanya.

Menurutnya, di Kelurahan Pekiringan masing-masing RW menerapkan tema lukisan mural yang berbeda sesuai dengan keunggulan yang dimiliki RW. “Di kampung hijau yakni di RW 1, tema lukisan mural adalah go green. Ada pula RW yang mengusung tema global warming. Di kampung kuliner tema lukisan mural yang diangkat berbeda lagi, “ ungkap Gandi.

Di beberapa di gang di Kelurahan Pekiringan, bahkan lukisan mural dibuat 3 dimensi, sehingga menjadi lokasi favorit lainnya bagi warga dan pengguna jalan untuk berfoto-foto.
Lokasi lain yang ikut diperindah Cirebon Art yakni ruang terbuka hijau Kelurahan Kesambi, SD Kalijaga Permai dengan tema perintis litetasi, visual terapi di fasilitas Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)  RSUD Gunungjati Cirebon.

Di tangan komunitas Cirebon Art pula, rumah dinas wali kota di Jalan Siliwangi disulap bukan hanya sekedar rumah dinas, namun menjadi “rumah cerita”, yang mencoba menceritakan kembali sejarah perjalan, budaya dan tradisi Kota Cirebon dalam satu media dinding, dari awal berdirinya Cirebon,  hingga Cirebon kekinian yang sempat dilanda “demam” film Dilan.

Dari gang hingga masjid di BIJB

Selain menggarap kerja sosial, diakui Izudin, Cirebon Art juga mengerjakan proyek komersial. Di antara garapan Cirebon Art yakni lukisan dinding wujud Masjid Nabawi di areal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yang digunakan sebagai tempat salat.

“Kami juga kan harus membiayai dapur dan komunitas. Namun komitmen kami tetap yakni, kerja sosial yang utama, “ kata Izudin.

Meski lahir tanpa target apa pun dan hanya mengalir saja, mungkin karena melihat kiprah komunitas, mereka dipercaya untuk memanfaatkan tanah milik perseorangan seluas 1.300 meter2 di kawasan Majasem.

“Kami akan memanfaatkan tanah tersebut untuk mewujudkan kampung seni, yang belum ada di Cirebon,” ucapnya.

Di kampung seni itu nantinya bakal ada pagelaran seni pertunjukkan dan tradisi, sehingga warga Cirebon maupun wisatawan tidak kesulitan untuk melihat pertunjukkan seni asli Cirebon. Ada pula pusat kuliner khas Cirebon dan sanggar.

Menurut Toni, kampung seni menjadi tumpuan harapan mereka, untuk menularkan “virus” kreatif dan kecintaan akan seni dan budaya kepada warga Cirebon.

“Cita-cita besar kami adalah, aura dan kehidupan budaya dan berkesenian di Cirebon bisa semarak seperti di Yogyakarta dan Bali. Karena Cirebon sebenarnya lebih kaya akan seni dan budaya, ketimbang Yogyakarta dan Bali, “ kata Dadang.***

Baca Juga

Hari Jadi Kota Cirebon Masih Jadi Polemik

POLEMIK Hari Jadi Kota Cirebon kembali mencuat, bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Kota Cirebon tahun ini. Usia Kota Cirebon yang diyakini Pemkot Cirebon, memasuki 649 tahun pada 1 Muharam 1440.