Ada Tol Cipali, Jalur Pantura Tak Mengerikan Lagi

Jalur Pantura/GELAR GANDARASA/PR

SEBELUM menginjak pertengahan tahun 2015, setiap tahunnya jalur Pantai Utara Indramayu kerap dipenuhi para pengguna jalan. Betapa tidak, pada waktu itu masyarakat terutama pengendara roda empat masih sangat mengandalkan keberadaan jalur Pantura untuk bepergian ke wilayah provinsi Jawa Tengah dan Timur.

Selepas peresmian ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) secara berangsur masyarakat pun mulai beralih dari jalur Pantura. Ruas tol Cipali dinilai lebih efisien untuk menjangkau wilayah-wilayah perbatasan. Sarto, salah seorang pengguna ruas tol Cipali menuturkan, dirinya lebih memilih melewati ruas tol untuk bepergian ke luar kota. “Saya sering ke Bandung. Lebih enak lewat Cipali masuk dari Kertajati Majalengka,” katanya.

Pada tahun 2015, Satuan Lalu Lintas Polres Indramayu mencatat ada sebanyak 456 kasus kecelakaan di ruas Pantura. Dari ratusan kasus tersebut, 118 jiwa dinyatakan meninggal dunia. Kendati dinilai lebih nyaman, ruas tol Cipali ternyata cukup mencekam. Dari awal diresmikan hingga akhir tahun 2015 tercatat ada 14 kasus kecelakaan dengan korban jiwa sebanyak 12 orang. “Pada tahun 2016 ada 800 lebih kasus kecelakaan,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Indramayu, AKP Asep Nugraha, Selasa 11 September 2018.

Meski sempat meningkat, kenyataannya dari tahun ke tahun angka kecelakaan lalu lintas di jalur Pantura menurun drastis. Asep mengatakan hingga akhir tahun 2017 Satlantas Polres Indramayu mencatat jumlah kecelakaan di Pantura hanya 185 kasus saja dengan 27 korban jiwa. Rendahnya angka kecelakaan disebabkan banyaknya pengguna roda empat yang sudah beralih ke tol Cipali. Angka kecelakaan di Cipali pun naik menjadi 25 kasus dengan 16 korban meninggal dunia.  

Asep menerangkan, keberadaan Cipali memang bisa mengurai kemacetan yang kerap melanda wilayah Pantura. Selain itu, dapat juga menekan kasus kecelakaan di wilayah Indramayu. Saat ini jalur Pantura memang relatif sepi dan lengang. Jalur Pantura kini kebanyakan dilalui oleh truk-truk besar pengangkut muatan barang.

Jalur jenuh

Jalur Pantura memang dinilai rawan terjadi kasus kecelakaan. Hal itu, kata Asep, disebabkan karena wilayah Pantura Indramayu termasuk ke dalam titik jenuh pengendara. Artinya para pengendara akan memasuki titik puncak kelelahan saat tiba di wilayah Indramayu. Untuk itu Satlantas Polres Indramayu tak henti-hentinya memberikan peringatan kepada para pengguna jalur Pantura untuk banyak istirahat. “Banyak titik rest area di sepanjang Pantura,” ungkapnya.

Peringatan itu kerap disosialisasikan kepada masyarakat baik melalui media ataupun secara langsung kepada warga. Masih adanya kasus kecelakaan menjadi sorotan Polres Indramayu. Terlebih kebanyakan kasus kecelakaan lalu lintas disebabkan karena faktor kesalahan manusia. Pengendara seringkali mengabaikan standar keselamatan saat berkendara. Misalnya saja masih ada pengendara roda empat yang tidak mau memakai sabuk pengaman. Pengendara roda dua pun acapkali tidak memakai helm saat berkendara.

Sosialisasi dinilai cukup efektif menekan angka kecelakaan di Pantura. Hingga September 2018 angka kecelakaan baru 126 kasus saja. Meski kecelakaan menurun, warga tetap diminta untuk tetap berhati-hati saat berkendara. “Patuhi rambu lalu lintas dan tanda-tanda lalu lintas, “ katanya. Diharapkan ke depan masyarakat bisa lebih peduli lagi dengan keselamatan diri masing-masing.***

Baca Juga

Kulminasi Pengaruhi Cuaca Panas di Indramayu

INDRAMAYU, (PR).- Wilayah Kabupaten Indramayu mengalami puncak titik kulminasi, Kamis, 11 Oktober 2018. Akibatnya suhu di Indramayu pun meningkat. Kondisi tersebut sudah dirasakan selama dua hari terakhir ini.