Depok Jadi Tempat "Bunuh Diri" Pejalan Kaki

Trotoar Berlubang/BAMBANG ARIFIANTO/PR
LUBANG-lubang trotoar bertebaran di trotoar Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jumat 7 September 2018. Meskipun seorang warga telah menjadi korban karena buruknya fasilitas pejalan kaki, Pemkot Depok tak kunjung memperbaiki lubang-lubang trotoar di ruas jalannya.

DEPO‎K, (PR).- Meskipun telah ada warga yang menjadi korban akibat buruknya fasilitas pejalan kaki, Pemerintah Kota Depok tak kunjung memperbaiki lubang-lubang trotoar di sejumlah ruas jalannya. Ancaman terperosok ke dalam lubang-lubang pun mengintai para  pejalan kaki.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus mengungkapkan, seorang warga Depok terperosok ke dalam saluran air di Jalan Tole Iskandar pada Jumat pekan lalu (31 Agustus 2018). Warga yang diketahui bernama Cahyo itu mengalami luka di bagian wajah dengan sembilan jahitan. Saluran air tersebut semestinya ditutup dan menjadi area trotoar atau tempat pejalan kaki melintas. Namun, lanjut Alfred,  Pemkot justru tak menyediakan fasilitas yang laik bagi pejalan kaki. Akibatnya, seorang warganya terjatuh dan terluka karena buruknya fasilitas pejalan kaki di tepi jalan yang menyisakan lubang-lubang menganga.

"Jadi Depok itu tempat bunuh dirinya pejalan kaki," kata Alfred saat dihubungi, Minggu 9 September 2018. Pernyataan Alfred merujuk pada masih banyaknya lubang-lubang trotoar yang dibiarkan tanpa perbaikan di Depok. Tanpa adanya perbaikan, para pejalan kaki berpotensi mengalami nasib serupa. Alfred menuding pembangunan fasilitas umum oleh Pemkot lebih berorientasi kepada kepentingan kendaraan bermotor ketimbang pejalan kaki.

"Memang  fasilitas pejalan kaki jadi (prioritas -red) nomor seribu di Depok," ucapnya. Dalam catatan "PR", Pemkot memang lebih banyak berkutat dalam mengatasi persoalan macet di ruas-ruas jalannya. Berbagai rekayasa arus kendaraan seperti sistem satu arah bahkan telah diuji coba dan diterapkan di Jalan Arif Rahman Hakim, Nusantara dan Dewi Sartika. Di Jalan Margonda Raya, Pemkot juga menerapkan sistem pemilahan jalur untuk lajur lambat dan cepat. Separator jalan pun dibongkar pasang demi pemberlakuan aturan tersebut. Tak hanya itu, Pemkot mengkaji pula penerapan sistem ganjil genap plat kendaraan di Margonda guna mengatasi permasalahan kemacetan.

Namun dari sekian banyak uji coba dan sistem yang diterapkan, kepentingan pejalan kaki akan trotoar yang laik dan nyaman luput diperhatikan. "Selevel Kota Depok saja  trotoar yang nyaman dilalui bahkan wujudnya tidak bisa terlihat," ucap Alfred. Lubang-lubang jalan justru bertebaran di jalan utama seperti Margonda yang menjadi etalase atau wajah Depok karena menjadi pusat ekonomoi, pemerintahan dan keramaian. "Wajah Kota Depok saja tidak bisa dibenahi bagaimana dengan jalan-jalan lain," ucap Alfred. Dia berharap, Wali Kota Depok Mohammad Idris yang akrab disapa pak kyai mencoba menjadi merasakan diri menjadi pejalan kaki di wilayahnya agar merasakan sendiri tak laik dan nyamannya trotoar. 

"Saya berharap pak kyai sering berjalan kaki jangan banyak di dalam mobil yang difasilitasi dengan voorijder (petugas pengawalan -red)," ucap Alfred. Dia tak menampik, Idris sempat melakukan aktivitas berjalan kaki dari kediamannya di wilayah Cilodong hingga Kantor Pemkot Depok di Margonda beberapa waktu lalu. Akan tetapi, aktivitas justru menuai sorotan dan mempertegas kesimpulan Depok minim trotoar. "Tetapi (Idris) jalannya di jalan raya, trotoarnya enggak ada," tutur Alfred.

Dia menegaskan, penyediaan fasilitas pejalan kaki yang laik dan nyaman merupakan kewajiban Pemkot. Pemkot tak boleh hanya memprioritaskan kepentingan pengendara kendaraan dan mengabaikan hak-hak pejalan kaki. Alfred mempersilahkan, warga yang menjadi korban karena buruknya penyediaan fasilitas pejalan kaki melakukan gugatan hukum kepada Pemkot dengan didampingi Koalisi Pejalan Kaki. Buruknya fasilitas umum tersebut juga dikeluhkan Ahmad (25), warga Beji, Depok. "Ya seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah, khususnya dinas terkait," ujar Ahmad.

Ada di sejumlah titik

Dia mempertanyakan tak adanya respon cepat Pemkot memperbaiki jalur pedestrian yang berlubang dan tak terurus. "Gimana mau nyaman warganya," ucap Ahmad. Keprihatinan dilontarkan pula warga lain, Miftahul (30). Dia menilai Pemkot  tak memiliki arah yang jelas dalam penataan wilayahnya. "Hal sepele seperti trotoar tidak pernah diurus," ucapnya. Miftahul kebingungan dengan arah pembangunan Depok ke depan. "Apakah Pemkot punya rencanan jangka pendek, menengah dan panjang untuk pembangunan Depok, terutama soal trotoar ini," katanya. Sejak pasangan Idris dan Pradi Supriatna selaku wali kota dan wakil walikota terpilih dilantik, urusan trotoar itu tak kunjung selesai.

Miftahul meminta Idris blusukan langsung melihat kondisi fasilitas umum. Dia juga mesti melek dengan media sosial dan media massa yang berkali-kali menyuarakan buruknya penyediaan fasilitas pedestrian di Depok. "Jika ingin Depok terlihat maju, hal dasar yang harus diselesaikan dulu adalah urusan infrastruktur, salah satunya trotoar," ucapnya. ‎ Pantauan "PR", lubang-lubang trotoar terlihat di sejumlah titik di Margonda. Lubang menganga tampak di dekat putaran Jalan Margonda menuju Jalan Komjen Pol M Jasin dan Akses UI. Lubang lain terlihat di Margonda sekitar Pondok Cina.

 Dari sana, deretan lubang pun menghadang di trotoar Margonda di dekat pertigaan Ramanda. Lubang-lubang tersebut cukup untuk menampung tubuh pejalan kaki yang terperosok serta menelan ban sepeda motor yang melintas. Saat "PR" mencoba meminta konfirmasi dan klarifikasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Depok Manto, nomor telefon yang bersangkutan tak bisa dihubungi hingga Minggu sore.***‎

Baca Juga

Kemarau, Polusi Udara Depok Meningkat

DEPOK, (PR).- Polusi udara diperkirakan mengalami peningkatan di Kota Depok saat musim kemarau.‎ Pemerintah Kota Depok pun melakukan pengukuran kualitas udara di sejumlah titik.