Kedelai Mahal, Ukuran Tempe Makin Mungil

Produksi/NURHANDOKO WIYOSO/PR
SEORANG perajin tempe di Blok Tempe LingkunganParunglesang, Kelurahan/Kecamatan Banjar, Kota Banjar tengah menyusun tempe yang baru dibuatnya, Kamis ( 6/9/2018). Naiknya harga bahan baku berupa kedelai memaksa perajin mengurangi ukuran.*

BANJAR,(PR).- Sejumlah perajin tempe terpaksa mengurangi ukuran untuk menyiasati melambungnya harga kedelai. Mereka mengambil langkah tersebut agar sumber penghasilannya tetap bertahan di tengah mahalnya harga bahan baku tempe.

Pantauan di Blok Tempe, Kecamatan/Kota Banjar, Kamis 6 September 2018 perajin masih tetap rutin memproduksi tempe. Mereka mengaku tidak mengalami kesulitan mendapatkan kedelai, hanya saja beberapa perajin mengeluh tingginya harga kedelai, di saat penjualan tempe yang lesu.

“Kedelai banyak, hanya saja memang harganya masih cukup tinggi. Ditambah penjualan juga sepi, jadi lebih baik produksi dikurangi daripada tidak laku,” tutur Dudi (40), seorang perajin tempe di Blok Tempe Parunglesang, Kota banjar.

Dia mengungkapkan dalam kondisi normal, rata-rata membeli 40 kilogram kedelai, akan tetapi saat ini dikurangi menjadi 35 kilogram. Sejak akhir Bulan Agustus 2018, harga kedelai masih tetap Rp 7.700 per kilogram, atau naik dari sebelumnya Rp 7.500.

Untuk mendapatkan kedelai, Dudi menambahkan saat ini tidak erlu repot membeli di Pasar Kota banjar, akan tetapi memilih membeli di toko kedelai yang lokasinya tidak jauh dari perkampungan produsen tempe tersebut.

“Barang mah banyak, tinggi membeli sesuai kebutuhan saja. Saya juga harus punya stok untuk sehari, karena proses membuat tempe cukup cepat,” jelasnya.

Dia juga mengaku bakal memerkecil ukuran tempe, apabila harga kedelai naik hingga menyentuh Rp 8.000 per kilogram. Upaya tersebut dimaksudkan agar harga tempe di pasaran tidak naik.

“Kami khawatir jika harga tempe dinaikkan, bakal ditinggal pelanggan. Dengan demikian, baik perajin atau konsumen juga sama-sama untung. Kami juga tidak mau ambil risiko menambah produksi, karena tempe tidak tahan lama,” kata Dudi.

Kedelai terus merangkak

Hal senada juga dikatakan perajin tempe lainnya, seperti Nono Darsono, dan Engkus. Nono yang sudah belasan tahun menjadi perajin tempe memerkirakan harga kedelai saat akan terus naik. Alasannya karena di beberapa daerah harga kedelai sudah menembus Rp 8.000 per kilogram.

“Sekarang harga kedelai di pasar masih Rp 7.700 per kilogram, bukan tidak mungkin besok atau lusa bakal naik, soalnya di daerah lain harganya sudah naik. Apabila itu yang terjadi, terpaksa ukuran tempe diperkecil, tentunya ya tidak kecil sekali,” ujarnya.

Dia mengaku harga kedelai saat ini, masih lebih rendah dibandingkan kondisi Bulan Oktober 2014 yang menembus Rp 8.300 per kilogram. Pada saat itu, lanjutnya sebagian besar mengambil langkah mengurangi ukuran. “Kami tidak mungkin bertahan, jika tidak mengurangi ukuran. Semoga saja harga kedelai tidak terus naik, sehingga dapat berjualan terus,” tutur Nono.***

Baca Juga

Harga Ayam Jatuh, Peternak Kosongkan Kandang

CIAMIS, (PR).- Sebagian peternak di wilayah tatar galuh Ciamis  terpaksa menunda memasukkan bibit ayam ke kandang. Mereka mengambil tindakan tersebut dengan maksud untuk mengurangi kerugian lebih besar.