Menyulap Buah Pedada Menjadi Sirup Istimewa

Sirup Buah Pedada/GELAR GANDARASA/PR
Abdul Latif menunjukkan minuman mangrove produksi komunitas di Rumah Berdikari Karangsong Indramayu, belum lama ini. Komunitas tersebut bergerak di isu-isu lingkungan terutama mangrove.

INDRAMAYU merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki bentangan pantai cukup panjang, yakni mencapai 147 kilometer. Sebagian masyarakat pun menggantungkan hidup dari panjangnya pantai Indramayu.

Kehadiran pantai dan ekosistemnya merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat Indramayu. Selain tentunya hasil laut, masyarakat pun kerap memanfaatkan keanekaragaman hayati yang tumbuh di sekitar pantai. 

Namun, untuk memanfaatkan tumbuhan tersebut diperlukan kreativitas lebih. Sebab, tumbuhan-tumbuhan tersebut bagi kebanyakan orang tak lazim di­konsumsi.

Di bawah tangan-tangan kreatif pemuda yang tergabung dalam Rumah Berdikari, masyarakat bisa merasakan sejuta manfaat tanaman mangrove. Tanaman mangrove memang dikenal sebagai pencegah abrasi pantai. Namun, tak banyak orang yang tahu tanaman mangrove bisa dan layak dikonsumsi.

Abdul Latif (48) pengurus Rumah Berdikari menuturkan, komunitasnya fokus akan isu-isu lingkungan terutama pesisir. Dahulu kawasan Karangsong mengalami kerusakan lingkungan yang parah.

Daerah tersebut hampir gersang tak ada pepohonan tumbuh. Namun, beberapa tahun ke belakang penghijauan pun dilakukan di wi­layah tersebut dengan menanam tanaman mangrove berbagai jenis.

Kini, ekosistem di Karangsong pun mulai pulih kembali. Abdul mengata­kan, banyaknya tanaman mangrove membuat warga berpikir keras untuk memanfaatkannya. 

Buah pedada

Ketika kegiatan bersih-bersih mang­rove di pantai, warga kerap menemukan banyaknya buah pedada berserakan di tanah. Pedada adalah buah yang dihasilkan dari mangrove pedada dengan nama latin Sonneratia caseolaris.

”Kami mencari cara untuk memanfaatkannya. Kami yakin tidak ada sesuatu yang sia-sia. Akhirnya kami tanya sana sini dan cari informasi dan mendapatkan cara mengolah tanaman mangrove,” katanya, Minggu, 2 September 2018.

Sirup

Abdul mengatakan, hingga kini Rumah Berdikari telah menghasilkan lebih dari 100 turunan produk mangro­ve. Salah satu produk yang paling di­sukai yakni sirup mangrove yang di­buat dari buah pedada. ”Rasanya manis, sedikit asam. Paling segar kalau diminum dingin,” ujar dia.
 
Dalam sehari, Rumah Berdikari mampu memproduksi 20 botol minuman mangrove. Minuman itu kerap dipesan oleh sejumlah pembeli dari luar daerah. Sayangnya, produksi mi­numan masih sangat terbatas mengingat minimnya peralatan dan tenaga yang ada.

Kendati terbatas, warga sekitar juga turut dilibatkan dalam produksi tersebut. Dengan demikian, kata dia, bisa memberdayakan warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

”Saya juga dulu pengangguran. Jadi, coba-coba olah buah pedara ternyata enak,” tutur Abdul. Selain diolah menjadi minuman, mangorve juga bisa dijadikan bahan dasar kosmetik. ”Bisa dijadikan sabun dan keripik,” ucapnya.

Dalam mengolah buah pedada, ada beberapa aturan tak tertulis yang mesti dipatuhi tiap anggota Rumah Berdikari. Buah yang diolah menjadi produk haruslah buah yang sudah jatuh ke tanah. Buah yang masih menempel di pohonnya tidak boleh dipetik demi menjaga kelestarian lingkungan.

Sejauh ini dirinya tak henti terus merangsang kreativitas warga Karangsong. Oleh karena itu, banyak bermunculan usaha kreatif lain seperti mengolah limbah menjadi barang kerajinan yang bisa dijual dan bernilai cukup tinggi. ”Ke depan akan kita terus kembangkan. Mudah-mudahan bisa terus maju,” katanya.***

Baca Juga

Bahan Baku Mahal, Produsen Kerupuk Pasrah

INDRAMAYU, (PR).- Harga tepung tapioka saat ini tengah naik tajam. Hal itu membuat perajin di sentra kerupuk Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, kewalahan.