Tiga Tahun Penggenangan Waduk Jatigede, Separuh Faedah Mulai Terasa

Waduk Jatigede/ADANG JUKARDI/PR
SEBUAH perahu tengah berlayar di hamparan luas genangan Waduk Jatigede di Kecamatan Jatigede, beberapa waktu lalu.

PADA 31 Agustus 2018, genap tiga tahun Waduk Jatigede digenangi. Sesuai dengan fungsinya, bendungan terbesar kedua se-Asia Tenggara setelah Jatiluhur di Purwakarta itu memuat berbagai manfaat untuk masyarakat, khususnya Jawa Barat.

Waduk Jatigede dibangun untuk memberikan sejumlah manfaat. Kebutuhan pengairan persawahan untuk wilayah pantai utara (pantura), menghasilkan energi listrik dari pembangunan pembangkit lis­trik tenaga air, pengendali banjir, pasokan air baku, usaha perikanan tangkap, hingga pariwisata adalah sejumlah faedah itu.

Pertanyaannya, setelah Waduk Jatigede beroperasi selama tiga tahun, sudahkah sejumlah manfaat itu dirasakan langsung oleh masyarakat?

Fungsi utama pembangunan Waduk Jatigede adalah untuk ­mengairi area persawahan di daerah pantura Jawa  Barat se­luas 90.000 hektare yang ber­ada di Majalengka, Indramayu, serta Cirebon. Pasokan airnya melalui saluran irigasi rentang (bendung pembagi) di Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. 

”Sebetulnya, pasokan air khusus dari Waduk Jatigede untuk mengairi persawahan di daerah hilir pantura sekitar 87.840 hektare. Sisanya, masih dipasok dengan pemompaan di saluran induk Sindupraja untuk pengairan sawah di daerah irigasi Kamun (Sungai Cilutung). Selain itu, pemompaan dari saluran induk Cipelang untuk daerah Losarang, Indramayu,” kata Yuyu Wahyudin, Pelaksana Teknis Pejabat Pembuat Komitmen Perencanaan Bendungan Balai Besar Wila­yah Sungai Cimanuk-Cisanggarung. Ia ditemui di Kantor Satuan Kerja Pembangunan Bendungan di Kecamatan Jatigede. 

Pasokan air dari Waduk Jatigede kini sudah dirasakan manfaatnya untuk pertanian padi dan palawija para petani di pantura. Manfaatnya bisa dilihat dari kondisi lahan di hilir Bendungan Jatigede atau daerah pantura. 

Sebelum ada bendungan, area persawahan yang terairi seluas 81.557 hektare dengan intensitas tanam 139%. Setelah ada ben­dungan, lahan sawah yang terairi meluas menjadi 87.840 hektare. Intensitas tanam pun meningkat menjadi 280%.

Bahkan, produksi padi dan palawija saat ini mening­kat signifikan. Sebelum ada Waduk Jatigede, produksi padi di dae­rah pantura hanya 593.735 ton. Namun, setelah Waduk Jati­gede beroperasi, produksi padi melonjak tajam hingga me­nembus 1,15 juta ton. 

”Irigasi dari Bendungan Jati­gede mulai efektif dilakukan tahun kedua, yakni 2016-2017 pada saat musim kering bulan Mei-Oktober,” kata Yuyu.

Meski pasokan air sudah lebih dari kebutuhan, tak dimungkiri, masih saja ada para petani yang mengeluh tidak kebagian air. Mereka berada di daerah hilir saluran irigasi yang paling ujung.

Kondisi itu disebabkan oleh ketidakdisiplinan petani lainnya dalam menerapkan jadwal tanam seturut ketentuan. Masalah lainnya, masih ada para petani yang tidak disiplin dalam menerapkan pola tanam. 

”Walaupun pasokan air sekarang mencukupi, menanam padi hingga melebihi yang disarankan tidak baik untuk produktivitas padi. Hal itu akan menyebabkan lahannya menjadi jenuh dan tidak subur,” ujar Yuyu. 

LOKASI  Waduk Jatigede yang hingga kini belum digenangi terlihat begitu luas, beberapa waktu lalu. Ketika Waduk Jatigede sudah digenangi, genangannya akan dijadikan objek wisata maritim.*

Air baku

Selain untuk pengairan, pasokan air Waduk Jatigede juga dimanfaatkan untuk distribusi air baku. Air baku itu untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, industri, dan kebutuhan lainnya. Hanya, manfaat air baku itu ternyata belum bisa dinikmati masya­rakat saat ini karena pemba­ngunan instalasinya baru di­mulai tahun depan.

Rencananya, pembangunan instalasi air baku akan diba­ngun dalam dua tahap. Tahap pertama akan dilaksanakan pada tahun 2019 dan 2020. Debit airnya sebanyak 1.500 liter per detik. Sementara, pembangunan tahap dua dilaksanakan pada tahun 2031, dengan debit air 2.500 liter per detik. 

Pemba­ngunannya akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. ”Pembangunan instalasi tahap 2 memang masih lama. Itu sengaja dilakukan dengan mengikuti pertumbuhan penduduk,” ujar Yuyu.

Khusus alokasi air baku untuk Sumedang, kata dia, relatif kecil. Pasalnya, kondisi geo­grafis di wilayah Sumedang lebih tinggi dari permukaan air, kecuali di bagian hilir, yakni Kecamatan Tomo dan Ujungjaya. 
Alokasi air baku di Sumedang sebesar 350 liter per detik yang meliputi dua tahap pembangunan. Tahap pertama, sebanyak 100 liter per detik dan tahap kedua 250 liter per detik. 

Pasokan air baku di Sumedang akan dialokasikan untuk masyarakat di Tomo dan Ujungjaya. Sebagian lagi untuk kawasan industri di Ujungjaya. Khusus penyediaan air baku di kawasan industri di Ujungjaya, nantinya ada tambahan dari rencana pembangunan Bendung Cipanas di Ujungjaya. Masyarakat yang bermukim di sekitar waduk, seperti Wado dan Jatigede, juga jadi prioritas.

Di tempat terpisah, Sekretaris Kabupaten Sumedang, Amim, menga­takan, Pemkab Sumedang sudah meminta kuota air baku dari Waduk Jatigede untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Tomo dan Ujungjaya. Soalnya, pen­duduk di sana selalu kesulitan air bersih, terutama air minum.

”Permintaan kuota air baku ini sangat wajar dan tidak ber­lebihan karena Waduk Jatigede berada wilayah kami. Pasokan air baku ini adalah salah satu manfaat Waduk Jatigede yang bisa dirasakan warga Sume­dang di daerah hilir,” ujar Amim.

Ia menambahkan, di Sumedang kini sedang dibangun Bendung Rengrang di Kecamatan Paseh. Bendung Rengrang itu dibangun sebagai bentuk kompensasi dari pemerintah pusat untuk mengganti area persawahan dan kebun yang hilang di daerah Jatigede karena terendam. 

Kenangan

Bagi Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan, Jatigede menorehkan banyak kenangan. Setahun sebelum Jatigede tergenang air, ia masih menjabat Kapolda Jabar dan terlibat langsung dalam upaya relokasi warga yang terdampak pembangunan waduk tersebut. Tugas untuk meng­atasi berbagai permasalahan sosial akibat relokasi tersebut datang langsung dari Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini, Iriawan kembali bertugas di tanah kelahirannya, tetapi mengemban jabatan berbeda. Dia mengaku belum menyempatkan waktu untuk mengunjungi Jatigede. Selama ini, Iriawan mengaku hanya melintasi waduk yang sudah terisi air itu dari atas pesawat dengan rasa bangga sekaligus haru.

Melihat Waduk Jatigede yang sudah mulai berfungsi saat ini, Iriawan mewakili pemerintah berterima kasih kepada masyarakat Jatigede yang  telah sukarela membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan waduk tersebut. Selain itu, ia berterima kasih kepada masyarakat yang sudah bersama-sama menyelesaikan masalah sosial.

”Luar biasa, semua bisa dikomunikasikan. (Masalah) yang tadinya cukup sulit, akhirnya masyarakat membantu menyelesaikannya.Tak ada kekerasan dan semua bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.***

Baca Juga

Benteng Peninggalan Belanda Ditata Jadi Objek Wisata

SUMEDANG, (PR).- Lokasi Situs Batarai yang di dalamnya terdapat benteng bekas penjajahan  Belanda, terus ditata dan dipercantik untuk dijadikan objek wisata baru  di Desa Mekarjaya, Kecamatan Sumedang Utara.

Lulus CPNS pada 2013, Pegawai Honorer K2 Pertanyakan Nasib

SUMEDANG, (PR).- Ratusan pegawai honorer di bawah naungan Forum Kategori 2 (K2) Lulus CPNS tahun 2013, berunjuk rasa di kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan  Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumedang, Rabu, 10 Oktober 2018.