Tenun Gedogan di Ujung Usia

Tenun Gedogan/GELAR GANDARASA/Pr
SUNARI (59) menyelesaikan kain gedogan bermotif babaran menggunakan alat tua di halaman rumahnya, Desa Juntikebon, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jumat, 31 Agustus 2018. Hingga kini, hanya empat perajin tenun gedogan yang bertahan.*

TANGAN Sunari (59) terus saja asyik memintal gulungan benang aneka warna. Lama-kelamaan, gulungan benang itu berubah menjadi sebuah kain tenun bermotif indah. Pekerjaan tersebut sengaja ia lakukan di bawah rindangnya pohon mangga. 

Menenun merupakan pekerjaan lelah nan membosankan. Oleh sebab itulah, Sunari kerap menenun di bawah rindangnya pepohonan agar merasa tenang. Sudah sejak lama kebiasaan itu dilakukan Sunari saat menenun kain. Saking lama­nya, ia pun tak ingat, kapan ia memulai pekerjaan tersebut.

Dia hanya ingat, keahlian itu didapatnya secara turun-temurun. ”Sejak kecil, pokoknya sudah lama,” katanya sembari terus mengamati kumpulan benang tenun, Jumat, 31 Agustus 2018.

Itulah kain tenun gedogan, warisan budaya yang ada di wilayah Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Dahulunya, kain tenun itu digunakan untuk menggendong bakul. Pelanggan tenun pun dahulu berasal dari kalangan pedagang keliling ataupun petani. 

Gedogan berasal dari bahasa Jawa yang artinya ketukan. Sunari mengaku tak paham betul ihwal latar belakang ­penamaan gedogan untuk kain tenun tersebut. Namun, berdasarkan cerita nenek moyangnya, suara ketukan yang dihasilkan oleh alat tenun tradisional terdengar khas dan berirama.

Kini, tenun gedogan tak hanya digunakan sebagai kain gendongan bakul. Sebagian besar kain justru menjadi cendera mata. Terdapat berbagai motif kain tenun gedogan asal Juntikebon, di antaranya babaran, kembang bonteng, dan jambu air. Kain tenun yang tengah dikerjakan Sunari bermotif babaran. ”Ini pesanan orang Bandung. Pesan 100 biji (lembar),” katanya. 

Kewalahan

Ternyata, banyaknya pesanan tak serta-merta membuat Sunari senang. Ia sangat kewalahan karena pekerjaan menenun dikerjakan seorang diri. Apalagi, tidak ada alat canggih yang ia gunakan dalam penenunan.
 
Sunari hanya mengandalkan sebuah alat tenun kayu yang sudah tua. Tak ayal, pem­buatan satu kain tenun gedogan membutuhkan waktu cukup lama, sedikitnya dua hari. ”Ini alat, saya buat sendiri waktu dahulu,” tuturnya.

Hingga kini, perajin kain tenun gedogan masih bertahan meskipun jumlahnya bisa dihitung dengan jemari. ”Sekarang, cuma ada 4 (perajin). Itu juga sudah sepuh-sepuh. Kalau dulu banyak, hampir setiap rumah,” ujar Sunari, mengenang. 

Sebagian besar penenun telah gulung tikar. Mereka memilih menyerah daripada harus bertahan di tengah ­ketidakjelasan masa depan.

Sebaliknya, Sunari memilih bertahan. Ia pun telah mencoba menurunkan kemampuan itu kepada putrinya. Sayangnya, putri Sunari tak tertarik meneruskan keahlian sang ibu. Apalagi, sepotong kain gedogan hanya ia jual kurang dari Rp 200.000. Alasan ekonomilah yang membuat banyak penenun memutuskan untuk pensiun.

Bagi Sunari, menenun bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan persoalan budaya yang mesti dilestarikan agar tak punah. Dia tak ingin warisan nenek moyangnya itu hilang begitu saja tertelan oleh waktu.

Alasan itulah yang membuatnya bertahan di tengah gempuran kain tenun modern. Dia tidak tahu bagaimana nasib tenun gedogan ke depannya. ”Tidak tahu siapa penerusnya. Tetapi, sekarang, biar saja saya yang buat,” katanya.

Lala (28), putri Sunari, mengaku bahwa ia memang belum tertarik untuk mene­kuni tenun tradisional tersebut. Selain faktor ekonomi, kegiatan menenun memang melelahkan. 

Di sela-sela kesibukan mengurus anak, ia tetap menyempatkan diri membantu sang ibu meski sekadar membelikan benang.***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga

41.318 Balita di Indramayu Derita Stunting

INDRAMAYU, (PR).- Sedikitnya 41.318 balita di ­Kabupaten Indramayu dinyatakan stunting (kerdil). Hal tersebut tak ­lepas dari lemahnya pengawasan orangtua terhadap anak-anak ­mereka.

Izin Lama Keluar, Juragan Kapal Mengeluh

INDRAMAYU, (PR).- Kementerian Kelautan dan Perikanan dinilai sangat lambat memproses surat izin penangkapan ikan (SIPI). Proses pembuatan surat tersebut memakan waktu berbulan-bulan lamanya.

Begal Sadis Pantura Dilumpuhkan Polisi

INDRAMAYU, (PR).- Perjalanan empat orang begal berakhir di ujung timah panas polisi. Para pembegal tersebut terkenal sadis ketika beraksi. Mereka tak segan melukai korbannya jika melakukan perlawanan.