Atasi Kekeringan, BPBD Ciamis Rela Berhutang

Kekeringan/ARIF HIDAYAH/PR

CIAMIS,(PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mengalami krisis keuangan sehingga meminjam hutang kepada pihak ketiga demi kelancaran penyaluran bantuan air bersih. Sementara itu krisis air bersih yang sebelumnya hanya terjadi di delapan kecamatan, saat ini sudah menyeluruh di 27 kecamatan tatar galuh Ciamis.

“Kami dengan sangat terpaksa meminjam dana talang, termasuk memakai uang pribadi, serta pinjam ke Koperasi PDAM, semata-mata agar bantuan air bersih tetap dapat berjalan. Terus terang saat ini kondisinya sudah sangat membutuhkan bantuan dari dermawan. Sejak pertengahan Bulan Agustus, sudah minus Rp 2 juta,” ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, Selasa 28 Agustus 2018.

Dia menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan adalah menggeser anggaran dari perubahan, sehingga dapat segera dimanfaatkan. Selain itu juga berharap datangnya bantuan baik dari instansi pemerintah maupun swasta, termasuk perseorangan yang hendak membantu penyaluran air bersih.

“Yang penting bantuan air bersih tetap berjalan. Saat ini sangat banyak yang membutuhkan bantuan air berih. Kami juga bakal menerima, jika ada calon legislatif yang hendak menyumbang bantuan air bersih.  Ini kami lakukan agar dapat meringankan warga yang membutuhkan air bersih,” katanya.

Pengaluran bantuan air bersih, lanjutnya, tidak dilakukan hanya sekali, akan tetapi berkala. Dengan demikian untuk satu tempat, dapat dilakukan beberapa kali penyaluran. Untuk penyaluran, BPBD Ciamis juga sudah melakukan pemetaan, sehingga bantuan dapt dilakukan secara merata.   

Berkenaan dengan biaya operasional menyalurkan bantuan air bersih yang ditanggung dermawan, lanjutnya, untuk jarak paling jauh Rp 278.000, sedangkan yang terdekat Rp 155.000. Uang tersebut digunakan untuk biaya operasional seperti membeli bahan bakar mobil dan mesin pompa dan jasa pengemudi.

“Kami menyediakan mobil tanki dan air bersih. Dermawan atau instansi lainnya yang membantu, cukup menyediakan biaya operasional saja. Sekali lagi, kami tidak melihat siapa, yang akan melakukan kebaikan,” ujarnya.

Meluas

Ani mengatakan, pada awal kemarau krisis air bersih hanya terjadi di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Banjarsari, Banjaranyar, Pamarican, Lakbok, Cijeungjing, Ciamis, Rancah dan Rajadesa. Akan tetapi dalam perkembangannya,seluruh wilayah atau 27 kecamatan mengalami kesulitan air bersih.

“Beberapa lokasi sebenarnya suudah punya sumur pompa, akan tetapi tiidak berfungsi. Air bersih ditamoung di dalam tandon air, selanjutnya warga mengambil dari temoat tersebut. Tetapi sebagian besar warga yang rela antri mendapatkan air bersih,” tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan, berdasar catatan BPBD Jawa Barat, Kabupaten Ciamis merupakan daerah kedua terparah yang mengalami kekeringan di Jawa Barat. Krisis air bersih dialami sekira 39.556 kepala keluarga (KK) tersebar di seluruh kecamatan.***

Baca Juga

UMK Ciamis Tahun 2019 Naik Rp 129.000

CIAMIS, (PR).- Dewan Pengupahan Kabupaten Ciamis akhirnya menetapkan besaran Upah Minimum Kabupaten (UMK) Ciamis tahun 2019 sebesar Rp 1.733.162, naik sekitar Rp 129.000 dibanding sebelumnya. Sesuai ketentuan, standar upah baru tersebut ba

Musim Hujan, Bungai Bangkai Bermekaran di Ciamis

CIAMIS,(PR).- Seiring dengan musim hujan, bungai bangkai mulai sering dijumpai di wilayah tatar galuh Ciamis. Bunga dengan nama latin Amorphophallus yang menebarkan bau busuk bangkai hingga menarik lalat datang ke tempat tersebut.

Harga Pakan Tinggi, Peternak Ayam Petelur Terancam Gulung Tikar

CIAMIS,(PR).- Tingginya harga pakan, mengakibatkan kalangan peternak ayam petelur di wilayah tatar Galuh Ciamis terus menanggung kerugian. Apabila kondisi tersebut tidak segera diatasi, banyak peternak yang bakal menghentikan usahanya.