Hikayat Margonda, Pejuang Depok Tanpa Pusara

Margonda/BAMBANG ARIFIANTO/PR
FOTO Margonda terpasang di lemari kaca Museum Perjoeangan Bogor, Jalan Merdeka, Kota Bogor, Kamis, 16 Agustus 2018 lalu. Gugur di Depok, pusara Margonda hingga kini belum diketahui.*

MENJADI nama jalan utama Kota Depok, riwayat Margonda sebagai pejuang kemerdekaan masih simpang siur. Hingga kini, keluarga pejuang kelahiran Baros, Cimahi 1918 itu belum mengetahui di mana pusara Margonda.

Pemerintah Kota Depok pun minim menelusuri jejak, data dan bukti keberadaan Margonda kendati namanya kadung melegenda sebagai jalan yang menjadi pusat keramaian, ekonomi dan pemerintahan kota berikon belimbing. Pada peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, "PR" mencoba melacak pejuang tanpa pusara tersebut.

Ingatan Jofiatini, perempuan kelahiran Bogor, 24 Juni 1945 begitu samar mengingat sosok Margonda. Jofiatini baru berumur satu tahun saat ayahnya, Margonda gugur di Kalibata, Depok.

"Saya tidak pernah tahu bapak itu, tahu dari informasi ibu," kata Jofiatini saat ditemui di kediamannya, Jalan Usman Harun V, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Obrolan itu berlangsung santai dengan diselingi bahasa Sunda yang masih dikuasai Jofiatini. Dia mengungkapkan, Margonda lahir di Baros, Cimahi dengan latar belakang orang tua yang bekerja sebagi petani. Margonda adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Anak Baros tersebut kemudian pindah dan bekerja di Bogor sebagai analis kimia. Margonda juga sempat mengikuti sekolah penerbangan.

Di Bogor, dia menikahi Maemunah dan memiliki anak tunggal, Jofiatini. Ihwal pertemuan Margonda dan Maemunah berawal dari keaktifan keduanya di organisasi kepemudaan Paguyuban Pasundan bernama Jasana Obor Pasoendan (JOP). Bahkan, nama Jofiatini diambil dari organisasi tersebut.

‎"Nama saya kan Jofiatini dari itu sebenernya, dari JOP, cuma kan rada keren pake f, henteu (bukan) Jopi saja," ujarnya tergelak.

Maemunah, perempuan kelahiran Bogor 1919 tinggal di Gang Slot dekat Stasiun Bogor. Dia merupakan anak sulung dari lima bersaudara yang berpendidikan sekolah kepandaian putri di Jakarta.‎

Adik Maemunah bernama HMS Mintaredja, tokoh nasional yang sempat menjadi Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Persatuan Pembangunan serta menjabat Menteri Sosial dan Duta Besar untuk Turki di era Pemerintahan Orde Baru.

Pasangan itu hanya menikah selama dua tahun setelah Margonda gugur. Kumandang Proklamasi 1945 turut memanggil pemuda Margonda untuk ikut bertempur melawan Belanda yang kembali datang bersama pasukan Sekutu. Palagan Margonda adalah Depok yang masuk wilayah Keresidenan Bogor.

Tewas ditembak

Depok saat itu merupakan daerah istimewa karena memiliki otonomi khusus sebagai tahan partikelir di bawah Belanda. Depok dianggap tak mau tunduk kepada pemerintah republik yang baru merdeka. Akibatnya, Depok kena gempur berbagai laskar, Badan Keamanan Rakyat yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat dari berbagai penjuru.

Depok diserang dalam 11 dan 13 Oktober 1945. Sebelumnya, aksi boikot dilakukan penduduk dengan menghalang-halangi pedagang menjual kebutuhan sehari-hari kepada orang-orang Depok yang dituding antek Belanda.

Pendudukan Depok mengundang serangan balik pasukan Sekutu yang membuat para pejuang dari unsur tentara dan laskar/badan pejuang terpukul mundur.‎

Dari cerita ibunya, Jofiatini menyebut Margonda berada di bawah pimpinan Ibrahim Adjie. Bila cerita itu benar, pemuda Baros itu dipastikan merupakan anggota BKR/TKR bukan bagian dari kelaskaran.

Jika pun bagian dari laskar atau badan perjuangan, tentunya organisasi itu telah lebur di dalam TKR.‎ Pasalnya, Adjie merupakan pimpinan Batalyon I Resimen II TKR Jawa Barat berpangkat Mayor. Margonda akhirnya gugur setelah tertembak di Kalibata, Depok. 

"Bapak kamu mah wani teuing cenah kitu (terlalu berani katanya begitu)," ucap Jofiatini menirukan omongan ibunya.

Versi Museum Perjoangan Bogor hanya menyebut  Margonda gugur saat menyerbu tentara Inggris dan NICA dengan bersenjatakan granat pada 1945. Namun, tutur Jofiatini, ayahnya tewas setelah ditembak tentara Belanda.

Dia memperkirakan, Margoda tewas pada 1946 atau setahun setelah aksi penggempuran Depok pada Oktober 1945. Dalam surat pensiunnya, Margonda gugur dengan pangkat Letnan Satu (Lettu). Meski demikian, sang isteri selaku ahli waris justru meyakini Margonda meninggal dengan pangkat kapten. 

Kuburan Margonda

Kematian Margonda sampai sekarang masih menyisakan teka teki. Soalnya, keluarga tak mengetahui kuburan pemuda Baros tersebut. Cerita yang didapat keluarga, Margonda dikubur dalam satu lubang bersama temannya yang ikut gugur di Kalibata.

Cerita lain yang beredar, jasadnya sempat dimakamkan di area Stasiun Bogor kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Dreded. Kematian Margonda sangat berbekas di hati Maemunah. Hingga akhir hayatnya, Maemunah tak pernah menikah lagi.

Bahkan sebelum kabar kematian suaminya datang, Maemunah dengan menggendong bayi Jofiatini setia menunggu kedatangan suami di Stasiun Bogor beberapa waktu.

Namanya Margonda mencuat saat ditetapkan sebagai nama jalan dengan panjang sekitar lima kilometer di Depok. Menurut Jofiatini, usulan penamaan itu muncul dari rekan-rekan seperjuangan Margonda pada sekitar 1973. 

Mereka awalnya mengusulkan nama Margonda mengganti nama Gang Slot. Tetapi, usulan tersebut tak terealisasi karena alasan Margonda bukan orang Bogor. Akhirnya, usulan tersebut diterima oleh HMS Mintaredja yang menjabat menteri sosial saat itu. Mintaredja tahu betul sepak terjang perjuangan kakak iparnya sehingga tak ragu menetapkannya menjadi nama jalan.

Meski Margonda telah menjadi nama yang tersohor dan melekat di Kota Depok. Perhatian Pemkot Depok akan sejarahnya terbilang minim. Penelusuran "PR", buku sejarah Depok di perpustakaan Pemkot lebih banyak mencantumkan sumber-sumber sejarah sekunder bermodalkan mesin pencari. Tak terlihat upaya menggali sumber-sumber otentik dari arsip atau keterangan keluarga pejuang yang tersisa.

Hal tersebut diakui Jofiatini yang menyebut Pemkot belum pernah mengunjungi atau menggali keterangan dari dirinya selaku keluarga Margonda yang tersisa. Begitu pula dengan upaya menyelamatkan bukti-bukti perjuangan peninggalan Margonda seperti surat pensiun serta berbagai penghargaan lain.‎ Namun, dia tak mempersoalkan hal tersebut. "Yang penting bapak saya masuk surga," ujarnya. 

Di masa tuanya, Jofiatini tinggal bersama suaminya di Kompleks TNI Angkatan Laut, Jalan Usman Harun V, Kebon Pala, Jakarta Timur. Suaminya adalah Komandan Jenderal AKABRI Laksamana Madya Abu Hanifah pada 1999. Setelah pensiun, pasangan yang memiliki satu putra tersebut tinggal di kediamannya itu. 

Koran belanda

"PR" juga menelusuri data-data keberadaan Margonda dari sejumlah koran lama berbahasa Belanda. Nama Margonda beberapa kali muncul di  Bataviaasch Nieuwsblad,  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,  Soerabaiasch-Handelsblad seperti diakses dari laman delpher.nl.

Ketiga koran tersebut menuliskan Margonda sebagai salah satu yang lolos dari 11 peserta seleksi teknisi laboratorium. "Kinerja calon teoritis serta praktis telah melampaui harapan," tulis Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 28 Januari 1938.

Informasi ini mengonfirmasi, pernyataan Jofiatini yang menyebut ayahnya sempat bekerja sebagai analis kimia. Dari ancer-ancer yang diberikannya, lokasi tempat bekerja Margonda itu sekarang menjad Gedung Balai Besar Industri Agro (BBIA), Jalan IR H Juanda, Kota Bogor. Gedung tersebut memang sempat menjadi Balai Penyelidikan Kimia. 

Pengukuhan Margonda sebagai pengurus Jasana Obor Pasoendan juga tertulis dalam  Bataviaasch Nieuwsblad pada 19 April 1939. Margonda menjabat wakil presiden dengan presidennya adalah Tojib.

Yang menarik, dalam struktur  tersebut tertulis nama Maemunah dalam ejaan lama Maemoenah sebagai sekretaris organisasi keperempuanannya yang berlokasi di Gang Slot 1. Barangkali dari  kesamaan organisasi ini, cinta dua sejoli itu bersemi di tengah gejolak revolusi kemerdekaan yang memanggil para pemuda tampil.***

You voted 'terinspirasi'.

Baca Juga

Investigasi Ombudsman Temukan Praktik Percaloan SIM di Depok

DEPOK, (PR).- Ombudsman Republik Indonesia menemukan praktik percaloan pembuatan surat izin mengemudi (SIM) di Kantor Satuan Penyelenggara Adminis‎trasi (Satpas) Polresta Depok, Pasar Segar, Jalan Tole Iskandar, Kota Depok.

Halangi Saluran Air, Kios Liar di Depok Dibongkar

DEPOK, (PR).- Aparat Satuan Polisi Pamong Praja membongkar ‎15 kios semi permanen yang berdiri di luar Pasar Depok Jaya, Jalan Nusantara, Kota Depok, Rabu 19 September 2018.

Sampah Visual Bikin Kota Depok Semrawut

DEPOK, (PR).- Keberadaan sampah visual dari beragam reklame iklan terus menjamur dan mengotori wajah Kota Depok. Penangananan yang dilakukan Pemerintah Kota Depok pun hanya sekadar menertibkan sampah visual tersebut.