Sungai Ciwulan Belum Merdeka dari Sampah

Sungai Ciwulan/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
Pegiat olahraga arus deras Tasikmalaya melintasi tebingan sampah di Kampung Leuwibedah, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Selama belasan tahun, permasalahan sampah di sungai belum ditanggapi serius oleh pemerintah.*

TASIKMALAYA,(PR).- Limbah rumah tangga dan sisa limbah industri border masih mencemari Sungai Ciwulan, di wilayah Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Keberadaan limbah sampah tersebut belum mendapatkan penanganan serius dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Berdasarkan penelusuran pencinta olahraga arus deras Tasikmalaya, selama sebulan terakhir, ada beberapa titik-titik tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai sepanjang 12 kilometer. Mulai dari pemberangkatan awal dermaga arung jeram, Kampung Asta, Kelurahan Cibeuti, Sungai Cikunir, hingga Kampung Jamban, Kelurahan Urug,  Kota Tasikmalaya.

Beberapa titik tersebut di antaranya,  di bawah Jembatan Gantung, Kampung Leuwibudah, Kelurahan Tanjung, kecamatan Kawalu, belakang Pesantren Al Amin, Kampung Leuwiliang, Kelurahan Tanjung, Kawal, dan  di tepian sungai kampung Kedunghalang, antara Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

“Sudah sebulan ini sampahnya semakin banyak, airnya menyusut dan bau, kalau untuk olahraga tentu gatal, itu gatalnya dari limbah gula, kata warga dari pabrik gula di Singaparna,”  ujar Nanang Koswara, salah seorang pegiat olahraga arus deras Tasikmalaya kepada “PR”, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Nanang menyebutkan, tumpukan sampah yang mayoritas berasal dari limbah rumah tangga tersebut sebenarnya sudah menumpuk sejak bertahun-tahun. Nanang mengatakan, berdasarkan penuturan warga sekitar, masyarakat sekitar sungai terpaksa membuang sampah di sungai karena warga tidak difasilitasi pemerintah untuk membuang sampah rumah tangganya.

“Truk sampah tidak ada yang ke sana, kalaupun ada mungkin tidak seminggu sekali. Warga sebenarnya sadar sudah merusak lingkungan, tetapi bingung, sampah rumah tangga mau dikemanakan, karena memang tidak ada tempat pembuangan sementara di wilayah sana,” kata Nanang.

Menurut Nanang, aktivis pencinta sungai dan juga pegiat olahraga arus deras kerap melakukan kegiatan bersih sungai dengan harapan ada perhatian lebih dari pemerintah daerah. Namun demikian, hingga kini tidak ada langkah strategis dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Sungai Ciwulan.

“Dulu Dinas LH juga sempat meneliti kadar air di sana, tetapi tidak ada tindaklanjutnya. Meski tahu kadar kimia di Sungai Ciwulan berada 40 digit di atas ambang batas, yang seharusnya 50 ini mencapai 90 kadar kimianya,” kata Nanang.

Menurut Nanang, keberadaan sampah di Sungai Ciwulan sangat disayangkan oleh pegiat olahraga arus deras. Apalagi, saat ini Pemerintah Kota Tasikmalaya sedang gencar mempromosikan wisata arung jeram di Sungai Ciwulan.

“Keberadaan sampah jelas berimbas pada sektor wisata arung jeram, soalnya air jadi keruh dan bau sampah. Jadi kurang sedap dipandang mata pas lewat arung jeram karena banyak tebing sampahnya,  banyak pengarung jeram menyayangkan hal itu,” ujar Nanang.

Besar harapan Nanang, pemerintah daerah dapat  menyelesaikan persoalan sampah di Sungai Ciwulan. Minimal, pemerintah daerah dapat menyediakan tempat pembuangan sementara dan mengangkut sampah secara rutin di daerah sepanjang sungai.

“Tinggal konsentrasi ke sana saja, bisa selesai sepertinya. Kalau enggak ada arah ke situ, sampai kapanpun Sungai Ciwulan enggak bakalan bersih, karena sebenarnya masyarakatnya juga sebetulnya sudah sadar,” kata Nanang.

Terkendala sarana prasarana

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya Iwan Setiawan tak menampik saat ini belum semua sungai di Kota Tasikmalaya terbebas dengan sampah dan limbah industri rumahan. Perlu ada penanganan berkesinambungan yang tak hanya dilakukan oleh Pemkot Tasikmalaya, namun juga instansi terkait lainnya seperti Balai Pendayagunaan Sumber Daya Air wilayah Sungai Ciwulan-Cilaki.

“Kalau dilihat di lapangan memang sungai kita belum merdeka dari sampah. Pemerintah bisa saja bergerak, tetapi  perlu ada kombinasi juga dari Balai PSDA, kami yang mengangkutnya, nanti PSDA bisa menindaklanjutinya,” kata Iwan.

Menurut Iwan, sejauh ini Pemkot Tasikmalaya memang terkendala dalam sarana dan prasarana khususnya untuk mengangkut sampah. Namun, Iwan meminta ketiadaan sarana dan prasarana pengangkutan sampah tidak jadi alasan bagi masyarakat untuk membuang sampah di sungai.  Iwan juga berharap, sungai bisa kembali bersih dari sampah, sehingga pencemaran air dapat teratasi.

“Seharusnya ketiadaan TPS tidak boleh jadi alasan, kami mengakui sarpras memang belum cukup, tetapi kan masyarakat bisa bersabar. Minimal ada kesadaran, bisa sabar sedikit, sampahnya ditaruh saja di pinggir, kan kami punya jadwal pengangkutan,” kata Iwan.***

Baca Juga

Air Lindi TPA Cipayung Dibuang ke Kali Pesanggrahan

DEPOK, (PR).- Pengolahan air lindi‎ atau limbah cair sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung Kota Depok menuai sorotan. Pasalnya, lindi TPA tersebut masih dibuang ke Kali Pesanggrahan dengan kondisi hitam pekat dan berbau. 

Penanganan Sampah Purwakarta Lambat

PURWAKARTA, (PR).- Padatnya penduduk di wilayah Purwakarta Kota, berdampak pada melimpahnya produksi sampah. Sehingga banyak pemukiman warga yang pembuangan sampahnya tidak terangkut armada.