TPA Heuleut Terbakar, Tingginya Gas Metan Membuat Api Sulit Dipadamkan

Kebakaran TPA/TATI PURNAWATI/KC
PETUGAS melintas di tengah pekatnya asap di TPA Heuleut, Kecamatan Kadipaten , kabupaten Majalengka. Kebakaran TPA sudah terjadi sejak Senin siang, namun pada Selasa, 14 Agustus 2018 malam, kebakaran meluas dan menghanguskan gedung kantor, kendaraan hingga menimbulkan asap pekat. Jarak pandang hanya skeitar 50 cm.*

MAJALENGKA,(PR).- Tempat Pembuangan Akhir Sampah Heuleut berikut kantor dan sejumlah kendaraan sampah milik Pemda Majalengka, di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka hangus terbakar. Sumber api diperkirakan berasal dari letupan korek gas yang ada di puncak gunungan sampah bagian tengah, Selasa, 14 Agustus 2018 malam.

Tidak ada korban jiwa pada musibah tersebut, sedangkan nilai kerugian belum diketahui secara persis karena masih harus dihitung. Sementara akibat kebakaran tersebut, menimbulkan asap pekat dan jaringan listrik ke sejumlah daerah terganggu akibat kabel terputus.

Armada sampah pun tidak bisa membuang sampah karena jarak pandang hanya sekitar 50 cm hingga sejauh 200 meter dari lokasi kejadian.

Menurut keterangan Koordinator TPA Kabupaten Majalengka Cucung Wahyudin serta Kasie Kebersihan Sambas, TPA mulai terbakar pada Senin, 13 Agustus 2018 siang sekitar pukul 12.00 WIB.

Letupan api terjadi di bagian tengah namun kemudian menjalar ke sejumlah titik hingga menimbulkan asap pekat dan menyulitkan untuk dilakukan pemadaman. Meski demikian tim pemadam kemabaran dengan menerjunkan 4 armada berhasil mengendalikan api sekitar 50 persen di hari pertama kebakaran.

Namun pada Selasa, 14 Agustus 2018 malam, sekitar pukul 21.00 WIB kebakaran kembali terjadi hingga menghanguskan gedung kantor TPA yang berukuran 10 X 10 meter. selain itu cator serta kendaraan yang sudah menjadi bangkai yang ada di depan kantor ikut terbakar.

“Kebakaran pertama kali terjadi Senin siang, dugaan sementara ada korek gas ditengah gunungan sampah yang ketinggiannya sudah mencapai 12 meteran, di tumpukan sampah ini muncul gas metan sehingga sangat mudah terbakar, disaat siang hari nampak seperti patamorgana makanya ketika ada letupan api langsung membakar seluruh bagian, jaringan listrik yang melintang diatas tumpukan sampah ikut terbakar,” ungkap Cucung.

Sulit dipadamkan

Sekarang, menurut dia, sulit melakukan pemadaman karena pekatnya asap, serta membuat sesak pernafasan, jarak pandang juga sangat pendek hanya sekitar 50 cm saja terutama disaat angin berhembus kencang.

Apalagi bulan Agustus ini angin di Majalengka sangat kencang sehingga menyulitkan untuk mengendalikan api. Jika dipaksakan, khawatir terjebak dan akan membuat sakit karena sesak akibat asap, maskerpun hampir tak berfungsi.

Karena jarak pandang yang sangat pendek dan sesak,  akibatnya armada sampah pun berhenti beroperasi, Karena tidak mungkin dipaksakan masuk ke kawaan TPA.

“Kemarin waktu pemadaman menghabiskan lebih dari 80 kg sabun detergen sebagai campuran air di tangki agar muncul busa dan memudahkan pemadaman api, namun nyatanya api tetap  muncul lagi. Sekarang untuk pemadaman ini terpaksa harus menunggu hingga gas metan habis, dan habisnya gas metan diperkirakan akan berlangsung tiga bulan kedepan, atau hingga curah hujan datang,” kata Cucung.

TPA bukan solusi

Sambas mengatakan, jika sampah rumah tangga dan sampah Rumah Sakit tidak diangkut akan menimbulkan persoalan di lingkungan. Namun diangkut pun bukan solusi karena tidak bisa masuk ke  TPA.

Saat ini menurut Sambas dan Cucung, produksi sampah di Majalengka mencapai 1200 ton per hari, 6 ton diantaranya diproduksi dua Rumah Sakit Daerah. Akibat tinginya produksi sampah ini TPA pun sudah tak bisa lagi menampung kiriman sampah.

Ketinggian tumpukan sampah kini sudah mencapai 12 meter di atas luas lahan TPA 3,4 hektare. Karena itu kini alat berat sudah sulit mengeruk sampah. Kalaupun ada yang tersisa ketingiannya sekitar 7 meteran berada di sisi belakang yang lahannya berdampingan dengan lahan penduduk.

“Di bagian belakang ada sekitar 3.000 m yang tumpukan sampahnya belum setinggi bagian tengah dan depan, makanya kami kemarins ednag membuat jalan untuk akses ke belakang dengan cara menyingkap sebagian sampah pengerjaanya baru 70 persenan keburu kebakaran sehingga pengerjaan belum dilanjutkan, kamipun belum mengetahui bagaimana kondisi alat berat disana karena sulit akses akibat asap pekat,” ungkap Cucung.

Karena kondisi sampah yang nyaris tidak terkendali sementara kondisi alat berat sudah sering rusak, TPA kini membutuhkan satu lagi tambahan buldoser menambah yang sudah tua, eskapator satu karena yang ada sering rusak. Serta armada dibutuhkan 20 unit untuk mengangkut sampah, sedangkan yang tersedia hanya 9 unit, itupun sebagian tua dan sering tidak jalan. Semua kendaraan tersebut dibeli tahun 2003.

“Repot mengatasi persoalan sampah, semua serba kurang, sementara masyarakat menuntut kawasan bersih dan sampahnya bisa diangkut secara rutin,” kata Cucung.

Sementara itu warga Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten berharap Pemerintah segera mengatasi kebakaran tersebut khawatir merembet ke kawasan perkebunan warga, serta asap pekat semakin besar dan menganggu warga.

“Sekarang asap belum sampai ke pemukiman karena jaraknya jauh sekitar 3 km, namun kalau tidak diatasi bisa saja asap sampai ke pemukiman atau api merembet ke perkebunan warga,” kata Maman.***

You voted 'sedih'.

Baca Juga

Wanawisata Cadas Gantung Ditutup Sementara

MAJALENGKA, (PR).- Perum Perhutani KPH Majalengka menutup sementara wanawisata Cadas Gantung, di Desa Mirat, wilayah kerja RPH Leuwimunding, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka.

Penanganan Sampah Purwakarta Lambat

PURWAKARTA, (PR).- Padatnya penduduk di wilayah Purwakarta Kota, berdampak pada melimpahnya produksi sampah. Sehingga banyak pemukiman warga yang pembuangan sampahnya tidak terangkut armada.