11 Alternatif Permainan Agar Lomba 17 Agustus Tak Lagi Membosankan

Rorodaan/YUSUF ADJI/PR

SETIAP tahun saat angka di kalender menunjukkan tanggal 17 Agustus, salah satu hal yang paling dinanti adalah perlombaan khas perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Jika bosan dengan jenis lomba 17 Agustus yang kerap diulang setiap tahun, Anda bisa mencoba menyelenggarakan permainan alternatif tradisional ini untuk perlombaan 17 Agustus.

1. Papancakan

Peserta: Biasanya dimainkan di sungai, tetapi bisa di darat kalau gak ada sungai. Jumlah pesertanya bisa menyesuaikan dengan tempat.

Aturan main: Batu bisa disiapkan atau yang ada di lokasi. Peserta lomba 17 Agustus berlomba menyusun/menumpuk batu. Jumlah batu yang disusun bisa ditentukan bebas, lebih banyak lebih baik, tetapi perlu diperhitungkan waktu. Setelah batu tersusun, peserta mengambil jarak dan dari kejauhan menghancurkan batu yang sudah disusun ­dengan cara melempar menggunakan batu lagi. Pemenangnya bisa dihitung dari akumulasi kecepatan menyusun dan menghancur­kan­nya.

Makna: Papacakan merupakan pengenalan sungai kepada anak, harapannya bisa menghargai sungai sehingga tak membuang sampah ke sungai. Saat menyusun batu melatih logika berpikir menjaga keseimbangan tumpukan. Ketika menghancurkan/melempar tumpukan batu melatih fokus.

2. Banbanan (rorodaan)

Peserta: Minimal 2 orang

Aturan main: Alat terbuat dari bambu lebar dua jari dibentuk ­bulat. Bambu berbentuk bulat itu digulirkan peserta lomba 17 Agustus menggunakan tongkat bambu panjang 60 cm (bisa divariasikan). Menggulirkan roda itu bisa ditentukan jarak sesuai kebutuhan, peserta disesuaikan. Nanti­nya pemenang yang mampu menggelinding­kan roda tanpa jatuh hingga finis.

Makna: Melatih kemampuan menyeimbangkan roda yang berputar.

3. Kelom batok

Peserta: ­Minimal 2 orang

Aturan main: Setengah batok kelapa, diberi lubang dan tali. Tiap peserta lomba 17 Agustus menggunakan se­pasang batok. Lalu berlomba adu cepat, siapa paling cepat jadi pemenang.

Makna: Melatih keseimbangan dan logika berpikir. Berdiri di batok perlu pegangan kalau tak pakai tali buat berdiri sulit apalagi jalan dan berlari.

4. Panggal/gasing ­bambu

Peserta: Satu tim minimal 2 orang

Aturan main: Balapan menempuh jarak tertentu sambil membawa gasing di nampan harus terus berputar dan tidak boleh jatuh. Satu peserta lomba 17 Agustus bertugas memutar gasing, dan meletakkannya di nampan, dua lainnya memegang nampan setelah gangsing berputar berlomba sampai finish.

Makna: Permainan tradisional ini berguna melatih kekompakan, kerja sama dan menghargai proses.

5. Bedil jepret


Peserta: Minimal 2 orang

Aturan main: Alatnya terbuat dari bambu, disiapkan sasaran bisa be­rupa bola plastik disimpan di tonggak bambu. Pemenang adalah yang bisa menjatuhkan bola.

Makna: Permainan ini melatih fokus, bila terus-menerus dimainkan diharapkan bisa terbiasa sehingga terbawa saat belajar fokus saat guru menyampaikan pelajaran.

6. Sasalimpetan

Peserta: Dimainkan kelompok, tiap tim minimal 6 orang.

Aturan main: Adu cepat antarkelompok. Peserta berderet, berpegangan dan direnggangkan. Pegangan tak boleh lepas. Kemudian, peserta lomba 17 Agustus paling ujung masuk ke kolong di antara tangan yang lainnya mengikuti. Nantinya peserta mentok dengan posisi tangan menyilang. ­Setelah itu dilakukan kebalikannya sehingga ke posisi paling awal.

Makna: Melatih gotong royong saling bantu dan kepemimpinan karena saat memainkan harus ada yang memimpin.

Perlombaan jadul lebih seru

Perlombaan  17 Agustus tidak harus selalu beragam. Setiap daerah terkadang memiliki ciri khas lomba yang tidak dimiliki daerah lainnya.

Ada pula jenis lomba 17 Agustus yang tidak pernah absen setiap peringatan hari besar Republik Indonesia tersebut. Bahkan, mungkin ada pula lomba yang perlahan menghilang, karena tak lagi menjadi primadona di ajang 17 Agustus-an.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, perlombaan yang dimainkan saat ini terkesan tak terlalu meriah. Kondisi itu jauh berbeda dengan suasana pada era tahun 1980-an.

Berikut sejumlah lomba-lomba 17 Agustusan yang terekam oleh Harian Umum Pikiran Rakyat di era 1980-an. Di antaranya mungkin sudah jarang ikut memeriahkan 17 Agustus karena tergantikan de­ngan jenis-jenis lomba yang lebih kekinian.

 1. Panco di atas lumpur


Berbagai atraksi diselenggarakan oleh warga dalam memeriahkan HUT ke-40 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1985. Salah ­satunya adalah adu panco yang dilakukan di atas bambu, sementara di bagian bawahnya adalah kubangan penuh lumpur. Tidak hanya yang kalah panco, namun yang memenangkan adu panco juga menanggung resiko tercebur ke dalam lumpur.

2. Perepet jengkol

Pada era 1980-an, permainan perepet jengkol juga merupakan salah satu yang dilombakan dalam kegiatan 17 Agustusan. Perepet jengkol adalah permainan anak, di mana sejumlah orang saling ­menautkan salah satu kaki mereka membentuk lingkaran. ­Kemudian dengan satu kaki lainnya yang menopang berdiri, ­mereka melompat-lompat berputar sembari menyanyikan lagu ”Perepet Jengkol”, grup yang terjatuh dinyatakan kalah.

3. Adu ketangkasan

Tahun 1983, anak-anak warga Tegallega Bandung melakukan atraksi adu ketangkasan. Lomba dilakukan dengan saling menjatuhkan lawan di atas bentangan sebuah bambu, yang terletak di atas kolam yang dipenuhi dengan eceng gondok.

4. Sepak bola daster

Sepak bola daster sudah dikenal sejak 1981 silam. Permainan yang hanya ditemukan pada saat 17 Agustus tersebut, merupakan permainan sepak bola pada umumnya, namun peserta mengguna­kan daster yang biasa dipakai ibu-ibu, sebagai kostum tim. Pada ­foto perlombaan sepak bola daster tahun 1981 ini, sekumpulan ­bapak-bapak bermain sepak bola menggunakan daster, dan juga tudung untuk menutupi kepala.

5. Adu balon

Permainan adu balon di tahun 1987, kala itu adalah jenis permainan 17 agustus yang terbilang baru. Memainkan adu balon dilakukan dengan masing-masing peserta berpasangan, kemu­dian sebuah balon diletakkan di antara kedua perut peserta. Pemenang­nya adalah pasangan yang paling dulu berhasil memecahkan balon.***

Baca Juga