Masjid Agung Jangan Jadi Sarana Agenda Politik

Masjid Agung/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR
SUASANA di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta beberapa waktu lalu, masjid ini kini dipermasalahkan dengan tuduhan tidak terurus oleh Pemkab Purwakarta.*

PURWAKARTA, (PR).- Jelang Pilkada Purwakarta 27 Juni mendatang sejumlah pihak tiba-tiba mempermasal‎ahkan Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta. Padahal sebelum-sebelumnya masjid dalam keadaan baik-baik saja.

Berikut diungkapkan oleh Kepala Divisi Politik, dari Pusat Studi Kajian Politik Kabupaten Purwakarta, Farid Farhan, di ruang kerjanya pada Rabu 23 Mei 2018.

Menurut Farid hal ini sangat tidak elok, mengingat masjid seharusnya menjadi tempat musyawarah umat. Bahkan akibatnya terkesan masjid ini, menjadi sarana rangkaian agenda politik pihak-pihak tertentu.

"Coba tolong carilah isu lain, sedih saya, kenapa kepedulian terhadap Masjid Agung Baing Yusuf baru sekarang-sekarang. Kelihatan banget kan agenda politiknya. Bahkan katanya Pemkab Purwakarta tidak mengurus Masjid Agung selama bertahun-tahun," ujarnya.

Benar atau tidaknya isu tersebut menurut Farid seharusnya disikapi bijak. Mau terurus atau tidak, apakah pihak yang protes ini memuliakan Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta.

Farid pun menyayangkan para paslon di Pilkada Purwakarta jarang sekali datang ke Masjid Agung Purwakarta. "Dari 5 orang lelaki di Pilkada Purwakarta, saya bisa itung, berapa kali saya ketemu paslonnya di masjid," ucapnya.

Meski demikian Farid merasa bangga ada teman-teman yang mau membersihkan Masjid Agung Purwakarta beberapa hari ke belakang. "Mereka juga menggalang dana untuk Masjid Agung sungguh saya terharu. Mudah-mudahan mereka menjalankan dengan ikhlas," ucapnya.

Tuduhan tak terurusnya Masjid Agung ini menurut Farid diduga  bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah sebelumnya.‎ "Saya sih terserah jika ada lawan politik petahana mau buat isu ini itu terhadap petahana. Tetapi masalahnya jangan pake isu Masjid Agung, dan ternyata memang setahu saya, Masjid Agung ini di bawah pengawasan pemerintah," ujarnya.

Tuduhannya pun menurut Farid bukan hal yang terlalu mempengaruhi aktivitas masjid. "Yang pertama karena kurangnya air, dan AC yang mati. Kalau air sih hanya waktu dzuhur aja yang kurang itu cuma sejajar aja pula, kalau AC sih memang banyak yang mati, tapi di dalam masjid masih cukup adem," ucapnya.

‎Bantuan rutin

Hal ini pun dibenarkan oleh Kasubag Agama pada Bagian Kesra Setda Purwakarta, Dindin Ibrahim. Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Purwakarta konsisten memberikan bantuan untuk masjid yang pertama kali dibangun Baing Yusuf tersebut. 

Bantuan tersebut berupa pemenuhan kebutuhan langsung dari item-item yang diperlukan oleh masjid atau bahkan petugas DKM. "Bantuan kita itu berikan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Karpet baru motif julang ngapak itu kan dari pemda, penataan taman itu dari pemda. Bahkan, petugas kebersihan itu dari pemda," kata Dindin di ruang kerjanya, di Jalan Gandanegara No 25, Purwakarta, Rabu 23 Mei 2018.

Tidak hanya itu, setiap momentum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Masjid Agung, Pemkab Purwakarta selalu membantu. Snack dan uang lelah untuk petugas acara selalu disediakan dan dibebankan kepada APBD Purwakarta. 

"Iya itu rutin kita berikan setiap PHBI. Kalau operasional harian, Masjid Agung kan memiliki banyak jamaah yang setiap pengajian pagi dan Hari Jum’at menyumbang. Saya kira itu lebih dari cukup untuk harian. Kalau yang berat-berat itu tinggal mengajukan dan selalu kami berikan," katanya.‎***

Baca Juga

Purwakarta Siapkan Wisata Halal

PURWAKARTA, (PR).- Bercermin dari suksesnya Nusa Tenggara Barat terapkan wisata halal, Kabupaten Purwakarta segera siapkan wisata halal serupa.