Petani Keramba Jaring Apung Waduk Jatiluhur Ditawarkan Alternatif Profesi

Waduk Jatiluhur/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR
SISA-sisa Kolam Jaring Apung (KJA) yang telah ditertibkan oleh Satgas Zero KJA di Waduk Jatiluhur beberapa waktu lalu.*

PURWAKARTA, (PR).- Kepala Satuan Tugas Operasi Jatiluhur Bersih menegaskan akan terus menertibkan seluruh keramba jaring apung (KJA) di Waduk Jatiluhur. Bahkan hal ini akan terus dilakukan meski banyak pemilik KJA yang menentang.

Dandim 0619 Purwakarta, Ary Maulana sebagai pimpinan satgas mengatakan pembersihan KJA itu dilakukan secara bertahap. "Sedikit demi sedikit dibersihkan dan di tertibkan. KJA di Waduk Jatiluhur  tetap harus di-zero-kan," kata Ary saat ditemui di Kantor Koramil Jatiluhur, Jalan Lurah Kawi, Kabupaten Purwakarta, Rabu 7 Maret 2018.

Penertiban KJA itu terus dilakukan berdasarkan kebijakan Pemkab Purwakarta. Oleh karena adanya hal tersebut, Satgas ialah eksekutor dan memberikan data pendukung mengenai penertiban KJA. 

"Pembersihan keramba tempat budidaya ikan di Waduk Jatiluhur ini adalah bagian dari program Citarum Harum yang digagas Presiden Jokowi," ujarnya.

Menurut Ary, air yang ada di waduk Jatiluhur itu mengalir juga ke DAS Citarum yang kini sudah semakin kotor. "Setelah dilaksanakan penertiban di tahun 2017 sebanyak 5900 KJA, sekarang tinggal sisa sekitar 27 ribu KJA," ucapnya.

Pihaknya kini tengah menunggu kebijakan Pemkab Purwakarta yang selanjutnya akan membahas mengenai penertiban tersebut. Karena, sebelumnya, waktu pembersihan lebih dari 30 ribu KJA selama dua tahun, yaitu berakhir pada akhir 2018.

Namun, jika memungkinkan batas waktu tersebut ditambah, maka diharapkan para petani ikan di KJA Jatiluhur bisa berpikir lebih panjang. Tentunya dengan mencari peralihan profesi.

"Waktunya akan kita tinjau ulang, apakah tiga, atau bahkan lima tahun. Sehingga harapannya, bisa memberikan peluang kepada masyarakat, untuk memilih alternatif profesi lain yang telah diberikan," katanya, menambahkan.

Alternatif profesi

Di sisi lain, penertiban seluruh keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang dilakukan juga disertai solusi bagi para petani ikan. "Kami tidak serta merta membersihkan jika tak ada jalan keluar," ucapnya.

Warga Purwakarya yang bekerja sebagai petani ikan di KJA, telah ditawarkan alternatif pilihan untuk beralih profesi. Menurut Ary alternatif profesi tersebut adalah bagian dari solusi untuk mensejahterakan masyarakat.

"Alih profesi dari petani ikan di KJA ini memiliki beberapa solusi. Solusinya seperti budidaya ikan di darat, seperti ikan mas, lele, atau bisa juga diarahkan menjadi peternak kambing, hingga ayam," ucapnya.

Bahkan saat ini, satgas dan pengelola Waduk Jatiluhur Perum PJT II sedang mempersiapkan program Culture Based Fisheries (CBF). Program tersebut berupa perikanan tangkap berbasis budidaya. Program ini memanfaatkan badan air di suatu perairan umum dan dikelola secara berkelanjutan.

Ary juga mengatakan teknik CBF telah berhasil diterapkan di salah satu waduk terbesar di Jepang. Bahkan, teknik tersebut bisa lebih menguntungkan bagi masyarakat setempat. Hal ini juga ‎disebabkan program tersebut dimodali dari Pemkab Purwakarta dan PJT II, selaku pengelola. 

"CBF ini akan sangat bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena masyarakat akan kami kelola di organisasi. Sehingga nantinya tidak membutuhkan modal," kata Ary.

Program tersebut, merupakan hasil kajian dan penelitian dari badan penelitian Kementerian kelautan dan perikanan. Nantinya, CBF ini akan mulai dicoba pada bulan Juli 2018 ini. Alternatif profesi bagi para petani ikan di KJA Jatiluhur itu adalah solusi yang diberikan saat program zero KJA digulirkan.

Hingga saat ini, lanjut Ary, satgas zero KJA telah menertibkan KJA sebanyak lebih dari 5000 keramba. Sehingga jumlah KJA di Waduk Jatiluhur pada akhir tahun 2016 sebanyak 33 ribu. "Setelah dilaksanakan penertiban di tahun 2017, sekarang pada 2018 ada 27 ribu KJA," katanya.‎***

Baca Juga

Menteri Sosial Sebut Kesehatan Sungai Citarum Harga Mati

PURWAKARTA, (PR).- Mentri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kesehatan Sungai Citarum adalah harga mati. Hal ini dikarenakan Sungai Citarum merupakan tulang punggung pengairan di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Penanganan Sampah Purwakarta Lambat

PURWAKARTA, (PR).- Padatnya penduduk di wilayah Purwakarta Kota, berdampak pada melimpahnya produksi sampah. Sehingga banyak pemukiman warga yang pembuangan sampahnya tidak terangkut armada.