Mendaki Gunung Ciremai Lewat Jalur Apuy

Puncak Gunung CIremai/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

JUMLAH pendakian ke Gunung Ciremai dari pintu Apuy, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka terus meningkat seiring dengan pelayanan dan promosi yang terus dibenahi pihak Seksi Pengelolaan Taman Nasional (STPN) II Majalengka. Gunung tertinggi di Jawa Barat (3.073 mdpl) itu memang menawarkan pesona yang luar biasa. Selain bisa menikmati matahari terbit, hamparan bunga edelweiss pun menjadi pemandangan indah bagi pendaki. Jangan lewatkan juga saat berada di puncak Ciremai, untuk memandang ke Gunung Cikuray Garut, Gunung Slamet Jawa Tengah, dan Waduk Darma Kuningan.

Pesona itulah yang membuat para pendaki, untuk bisa kembali ke Ciremai. Jalur Apuy Majalengka pun kini makin diminati para pendaki selain dari arah Palutungan dan Linggarjati (Kuningan). Pada tahun 2016, jumlah pendaki lewat Jalur Apuy cukup membeludak, yakni mencapai 19.467 orang. Di tahun tersebut memang banyak event pendakian, termasuk mendaki bareng artis.

Namun, jumlah pendakian pada tahun 2017 lewat Jalur Apuy hanya mencapai 14.687 orang. Menurut keterangan Kepala STPN II Gunung Ciremai Wilayah Majalengka, Siswoyo jumlah tersebut cukup tinggi dibandingkan rata-rata sepuluh tahun sebelumnya. Tahun tahun sebelumnya jumlah pendakian di bawah 10.000 orang. Kondisi ini diduga terkait kurangnya fasilitas dan pelayanan yang diberikan pengelola dan mitra pendaki. Karenanya para pendaki lebih mengenal pintu masuk dari Palutungan atau Linggarjati. Pasalnya dari wilayah tersebut akses dan kualitas jalan lebih baik dan lebar dan hotmiks, sehingga kendaraan roda empat bisa menjangkau hingga pemberangkatan di pos pertama.

Sebaliknya dari pintu masuk Apuy akses jalan dari Majalengka saja sangat kecil sulit bagi kendaraan roda empat untuk berpapasan dengan sepeda motor sekalipun. Makanya jika berpapasan salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dulu. Saking kecilnya jalan, orang menyebut ruas jalan Maja-Apuy adalah gang terpanjang di dunia. Ke depan, kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus. Agar mereka yang akan mendaki Ciremai lewat jalur Apuy bisa lebih nyaman.

“Tiga tahun lalu jumlah pendakian dari Majalengka dengan Palutungan sangat jomplang. Dari Majalengka sangat rendah. Namun setelah ada pembenahan fasilitas, kini pendaki banyak yang memilih jalur Apuy,” kata Siswoyo.

Pendakian lebih banyak dilakukan pada bulan April hingga Agustus atau momen tertentu seperti akhir tahun. Jumlahnya bisa mencapai lebih dari 2.000 per bulan. Pada bulan Agustus bisa banyak, karena ada momen memperingati HUT Kemerdekaan RI di puncak Ciremai.

Kepala STPN terus berupaya melakukan promosi pendakian lewat media sosial dan membawa sejumlah pendaki kaliber internasional untuk melakukan pendakian bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. Jalur Apuy pun makin dikenal, hingga akhirnya jumlah pendaki membeludak. Pernah suatu saat kegiatan pendakian dihentikan sementara, karena dalam satu event pesertanya sudah lebih dari 1.000 orang.

“Orang tidak mengetahui kalau kawasan Ciremai itu sebagian besar masuk wilayah Majalengka, bahkan banyak orang juga tidak mentehui kalau panorama alam Gunung Ciremai itu paling indah dibandingkan gunung-gunung lainnya. Saya sok aneh jalma lalumpatan ka luar negeri atawa ka luar Pulau Jawa hanyang ningali kaendahan panorama alam, padahal di Majalengka jauh lebih indah, kalau pagi hari view berwarna perak,” ungkap Siswoyo.

Di samping itu flora dan fauna yang ada di Ciremai lebih lengkap. Di saat saat tertentu pendaki bisa menyaksikan aneka satwa burung dan binatang lain yang masih hidup berkeliaran di gunung.

Evakuasi lebih cepat

Untuk meningkatkan jumlah pendakian, pihaknya juga berupaya memberikan pelayanan yang lebih baik bagi para pendaki. Misalnya saja dalam melakukan evakuasi bagi pendaki segera diselesaikan dengan baik dan lebih cepat, karena kini STPN II telah banyak merekrut mitra pendaki yang telah dibekali dengan sertifikasi, sehingga mereka benar-benar terlatih. Baik penanganan kesehatan, pelaksaan evakuasi, hingga pelayanan lain bagi pendaki. Mitra pendaki yang berjumlah 30 orang ini pun setiap tiga jam atau dua jam sekali harus mendaki gunung mengawasi para pendaki kemungkinan mengalami persoalan dan butuh pertolongan.

Para pendaki ini setiap akan melakukan pendakian dipungut biaya sebesar Rp 50.000.  Uang tersebut diperuntukan bagi asuransi 1.500, PNBP Rp 5.000, makan bagi peserta yang baru turun dari gunung, piagam, trash bag, P3K sebesar Rp 18.500, pemeliharaan dan kebersihan, promosi, pembangunan sarana prsarana sebesar Rp 25.000.

Di hari libur biaya untuk asuransi Rp 1.500,  PNBP Rp 7.500, makan, piagam, trash bag, dan P3K sebesar Rp 18.500, pemeliharaan dan kebersihan, promosi, pembangunan sarana prsarana sebesar Rp 22.500
Pengelolaan keuangan sebagian besar dilakukan oleh mitra SPTN II. Makan pendaki ini disiapkan oleh mitra yang dibentuk oleh STPN II, lagkah ini sebagai upaya pemberdayaan.

Soal pengelolaan keuangan mitra ini setiap saat harus memberikan laporan pertanggungjawabannya, termasuk penggunananya. Mereka harus memberikan bantuan terhadap anak yatim, berapa banyak anak yang disantuni, bagaimana menyumbang untuk tempat ibadah dan lain-lain sisanya diperuntukan bagi pembangunan toilet warga.
“Dengan pelayanan yang bagus pendaki akan lebih banyak. Dengan demikian akan lebih banyak pula orang yang bisa menikmati keindahan,” ujarnya.

Penunjukan mitra ini pun, menurut Siswoyo, dilakukan secara selektif dengan lebih mengutamakan orang yang tidak memiliki pekerjaan tetapi memiliki jiwa enterpreneur yang kuat. Tidak melihat muda ataupun usia tua.

Memiliki izin

Mereka yang telah mendapatkan pelatihan dan memiliki izin dari kementerian sebagai mitra SPTN II adalah pemegang izin jasa pramuwisata Indi, pemegang izin jasa perjalanan wisata Indi, sedangkan pemegang izin jasa makan minum adalah Saein, Mulyana, serta Toip.

“Mereka telah kami latih untuk bersikap santun pada para pendaki, mereka harus meberikan pelayanan prima bagi pendaki,” kata Siswoyo.

Siswoyo ingin masyarakat sekitar kawasan TNGC ini menjadi masyarakat pembaru, menjadi pelaku pariwisata, jangan menjadi masyarakat buruh. Makanya masyarakat berupaya diberikan beragam pelatihan hingga mampu memberikan pertolongan kedaruratan bagi para pendaki gunung.

Dengan pelatihan dan pembinaan yang terus dilakukan, kini mitra SPTN lebih memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, kawasan hutan, serta tanggung jawab terhadap para pendaki. Terbukti ketika pendaki mengalami persoalan mereka mampu menyelesaikan evakuasi dengan baik dan lebih cepat. Bahkan ketika terjadi kebakaran merekalah yang lebih dulu melakukan tindakan.

“Ketika ada pendakian, mitra kita ini setiap tiga jam mereka mendaki mengontrol para pendaki, saat ada persoalan mereka juga mampu menyelesaikan dengan lebih cepat. Masyarakat sekitar hutan juga kini sangat baik mampu bergotong royong mengatasi masalah,” ungkap Siswoyo.

Saein, Mulyana, dan Toip serta Indi mengaku senang bisa bermitra dan menjadi bagian dari pengelolaan kawasan TNGC. Mereka setiap pagi sudah berada di lokasi tempat pendakian dan baru pulang malam hari. Atau mereka terkadang menginap tatkala pendaki cukup banyak untuk memberikan pelayanan pada pada para pendaki.

“Kami semua difasilitasi membuat warung sehingga kami bisa berusaha sambil bertani. Kami senang menjadi bagian dari mereka,” ungkap Saein yang setiap saat melayani para pendaki.***

Baca Juga

Pekerja di Terminal BIJB Tewas Akibat Terjatuh dari Lantai Tiga

MAJALENGKA, (PR).- Petugas kebersihan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Yono Suryono (23), warga Blok Caringin Puspa, RT.002/003, Desa Baturuyuk, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka tewas terjatuh ketika membersihkan kaca di d

Wanawisata Cadas Gantung Ditutup Sementara

MAJALENGKA, (PR).- Perum Perhutani KPH Majalengka menutup sementara wanawisata Cadas Gantung, di Desa Mirat, wilayah kerja RPH Leuwimunding, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka.

Tol Cisumdawu akan Terintegrasi ke Bandara Kertajati

BANDUNG, (PR).- Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa, mengatakan, Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu) yang sedang dibangun akan terintegrasi ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengk