Teror Orang Gila Marak, Penghuni Panti Sosial Bertambah

Imbauan Polisi/AHMAD RAYADIE/PR
APARAT Polres Sukabumi Kota memberikan selebaran berupa brosur di halaman Mapolres Sukabumi Kota, Senin 12 Februari 2018. Selebaran itu isinya berupa imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terkait maraknya isu teror oleh orang dengan gangguan jiwa.*

SUKABUMI, (PR).- Maraknya isu teror orang gila atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masuk pesantren di Kota dan Kabupaten Sukabumi, membuat penghuni Panti Sosial Aura Welas Asih di Sukabumi bertambah. Hanya kurang dari sepekan, jumlah ODGJ bertambah 15 persen dari sebelumnya, atau berjumlah 102 orang.

Hal itu dibenarkan Ketua Yayasan Panti Sosial Aura Welas Asih, Deni Solang, Senin 12 Februari 2018. Panti Sosial Aura Welas Asih berlokasi di Kampung Cangehgar, RT 02 RW 02, Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. 

Panti sosial ini menerima bantuan dari Kapolres Sukabumi Kota, Susatyo Purnomo Condro. Bantuan itu berupa sembako yang diberikan di sela-sela pembentukan Satgas Polisi Penjaga Umat di Halaman Mapolres Sukabumi Kota, Senin 12 Februari 2018.

"Sekarang banyak orang sakit gila tidak hanya titipan dari polisi, tapi warga sekitar menitipkannya ke panti. Kendati tidak signifikan, tapi jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah," katanya.

Deni Solang mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yayasan hanya mengandalkan sedekah dari warga. Sementara bantuan dari pemerintah daerah masih belum teralokasikan. Padahal, bantuan tersebut sangat mendesak terutama untuk makan-makan sehari para penghuni panti.

"Karena itu, cukup bersyukur ketika pihak kepolisian memberikan bantuan kepada yayasan. Kebutuhan sehari-hari yang kami sangat nanti-nantikan. Terutama bagi seluruh ODGJ yang kini tinggal di yayasan," katanya.

Pengamanan gereja

Susatyo Purnomo Condro mengatakan, untuk meredam keresahan warga terkait isu orang dengan gangguan jiwa salah satunya dilakuakn dengan membagi-bagikan selebaran brosur berisi imbauan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan melakukan tindakan terpuji. Tapi, bila menemukan ODGJ atau orang yang mencurigakan agar segera melaporkan kepada kepolisian terdekat.

"Kami mengimbau agar warga jangan mudah terprovokasi berita yang belum jelas alias hoaks. Masyarakat bisa melaporkan kepolisian terdekat yang berada tidak jauh dari pemukiman bila ditemukan orang-orang yang mencurigakan," katanya.

Susatyo menambahkan, selain meningkatkan kewaspadaan di lingkungan pesantren, polisi pun melakukan langkah serupa di sejumlah gereja. Peningkataan pengamanan dilakukan setelah tindakan kekerasan yang menimpa salah seorang pastor dan umat di Gereja St Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu 11 Februari 2018.

"Mengantsipasi hal serupa diwiayah hukum Mapolres Sukabumi, kami meningkatkan pengamanan di gereja-gereja. Terutama saat kegiatan kebaktian dan misa," katanya.

Keberadaan Satgas Polisi Penjaga Umat, kata Susatyo, merupakan langkah yang harus dilakukan untuk meredam kasus-kasus terkait masalah tindakan kekerasan terhadap ulama dan tokoh agama melalui penegakan hukum.

"Satgas akan bertugas meminimalisasi dampak dari informasi hoaks dari media sosial," katanya.***

Baca Juga