Ribuan Orang Tanda Tangani Petisi Online Tolak Penggusuran Rumah Cimanggis Demi Proyek UIII

Rumah Cimanggis/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DEPOK, (PR).- Pegiat sejarah  Kota Depok menggulirkan petisi online guna‎ mengajak masyarakat ikut menolak rencana penggusuran bangunan bersejarah Rumah Cimanggis demi pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Baru bergulir empat hari, penanda tangan petisi tersebut telah mencapai 2.688 orang.

Petisi online digagas dan diluncurkan para pegiat sejarah dan lingkungan yang tergabung dalam Komunitas Sejarah Depok di laman www.change.org sejak Sabtu, 23 Desember 2017. "Tujuan Komunitas Sejarah Depok (membuat petisi) adalah menyelamatkan rumah bersejarah Cimanggis abad 18," kata sejarawan JJ Rizal, Rabu, 27 Desember 2017. 

Rizal menegaskan, Komunitas Sejarah Depok meminta Rumah Cimanggis yang rusak dan tak terurus itu juga diperbaiki pemerintah dan difungsikan sebagai museum pertama di Depok.  Hingga Rabu sore, penanda tangan petisi menembus angka 2.688 orang.

Area proyek pembangunan UIII di lapangan pemancar RRI, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya pun mesti ‎dipertahankan fungsinya sebagai kawasan hijau resapan air. "Karena ini isu lokal, kami berharap jika bisa mencapai 20 ribu penanda tangan petisi sudah bagus. Tetapi, kami senang mayoritas yang mendukung bukan hanya warga Depok, tetapi juga nasional," tutur Rizal.

Dukungan masyarakat di luar Depok menunjukkan pembangunan tanpa wawasan sejarah dengan menggilas infrastruktur lama merupakan isu nasional. "Di mana-mana terasa kan betapa bangunan - bangunan bersejarah aset heritage dihajar tanpa ampun oleh rezim infrastruktur yang buta sejarah," ucap Rizal. ‎

Dia mencontohkan, penghancuran bangunan warisan lama terjadi di Palembang dan Jakarta. "Saya dikontak kawan di Palembang yang mengalami nasib bangunan heritage mereka Pasar Cinde di Palembang dihancurkan karena malu bangunan itu tidak sesuai dengan bayangan modern menyambut Asian Games," ucapnya. Kondisi serupa terjadi di Jakarta berupa penghancuran benteng tua Batavia, Bastion Zeeburg. 

Masa paling mengenaskan

Kendati berbagai upaya penyelamatan telah dilakukan,  belum ada tanggapan Pemerintah Kota Depok dan pusat. "Mengenaskan memang, tidak ada tanggapan dari Pemerintah Daerah Depok maupun pemerintah pusat," ucapnya. Dalam kurun 10 terakhir, tutur Rizal, menjadi masa paling mengenaskan bagi bangunan - bangunan bersejarah di Depok. "Situs-situ sejarah yang mayoritas heritage dari abad 18 dan 19 itu secara berturut - turut dihancurkan. Depok gencar membangun, tetapi diarahkan oleh pemerintahnya sebagai kota tanpa ingatan, tanpa masa lalu," ujar Rizal. 

‎Pada 2007, Rumah Pondok Cina yang dibangun pada 1690 dihancurkan sebagian besar ruangnya. Bangunan peninggalan kaum Tionghoa tersebut hanya disisakan bagian depan dengan interior yang dimutilasi sesuai keperluan mal dan hotel yang berdiri di dekatnya. Selang enam tahun kemudian, giliran rumah pembakaran kapur di Curug, Cimanggis yang khas dan langka arsitekturnya dihancurkan untuk gudang pabrik obat. Kini, bangunan bersejarah Depok tersisa, Rumah Cimanggis tinggal menunggu waktu penghancurannya. Pasalnya, Rumah Cimanggis berada di kawasan proyek pembangunan UIII yang memakan lahan RRI seluas 143 hektar. Pegiat Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein Ferdy Jonathans turut bersuara menentang perobohan Rumah Cimanggis. 

"Rumah Cimanggis adalah situ sejarah yang terdapat di kilometer 34 jalan arah Bogor sebelum kawasa Cibinong dalam kompleks Radio Republik Indonesia (RRI) Depok. Dibangun pada 1775," ucap Ferdy. Bangunan tersebut pernah disebut Sejarawan Adolf Heuken sebagai contoh terbaik dan satu-satunya yang tersisa di Depok sebagai rumah peristirahatan atau land huizen pejabat VOC di pinggir Batavia. ‎Rumah Cimanggis memiliki arsitektur paling artistik dengan gaya pertemuan unsur kebudayaan tropis Jawa dan unsur klasisisme kebudayaan Eropa masa Louis XV.

Dalam cerita masyarakat Cisalak, Presiden Sukarno sempat menjadikan bangunan itu sebagai tempat transit saat berkunjung ke Istana Bogor dan Cipanas. Bahkan, Rumah Cimanggis sudah masuk dalam daftar Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan Kebudayaan sejak 2011 dengan nomor 009.02.24.04.11.***

Baca Juga

Polisi Tetapkan 4 Tersangka Pembacokan Pembeli Nasi Goreng

DEPOK,(PR).- Kepolisian Resort Kota Depok menetapkan empat tersangka dalam kasus pembacokan pembeli nasi goreng di Jalan Dewi Sartika, Pancoran Mas, Kota Depok. Para tersangka terancam pidana minimal lima tahun kurungan.