Setelah Gempa, Cianjur Selatan Siaga Satu

Gempa bumi/DOK. PR

CIANJUR, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menyiagakan petugas dan relawan di sepanjang pantai di Cianjur selatan dan titik rawan pergerakan tanah.

Hal itu dilakukan, menyusul terjadinya gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter dengan potensi bencana tsunami di Tasikmalaya. Namun, Cianjur pun termasuk wilayah dengan status waspada tsunami.

"Petugas langsung turun ke lapangan dan memantau di sepanjang pantai Cianjur selatan begitu dapat informasi. Termasuk juga, untuk daerah yang sempat terjadi pergerakan tanah," kata Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Ahmad Rifai Sabtu 16 Desember 2017 dini hari.

Menurut Rifai, selain Cianjur, kawasan Ciamis dan Tasikmalaya masuk ke tingkat siaga tsunami usai gempa terjadi semalam. Akan tetapi, sejauh ini pantai-pantai di Kecamatan Cidaun dan kecamatan Agrabinta terpantau aman dari dampak gempa maupun tsunami. Hanya saja, wilayah Sindangbarang masih harus diwaspadai.

"Sindangbarang itu patut diwaspadai, sebab di sana berpotensi tsunami. Tapi, belum ada laporan ada Tsunami, mudah- mudahan tidak ada," katanya.

Pergerakan tanah

Rifai menambahkan, khusus untuk di wilayah yang sempat terjadi pergerakan tanah, BPBD mengimbau agar warga lebih waspada. Dikhawatirkan, Gempa tersebut menyebabkan pergerakan atau tanah longsor di lokasi yang sama.

"Tim semuanya waspada, terutama di wilayah yang beberapa waktu lalu ada pergerakan tanah dan longsor. Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk dengan BMKG untuk memantau perkembangan gempa," kata dia.

Berdasarkan informasi yang didapat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat gempa itu terletak di 48 kilometer Barat Daya (8.03 Lintang Selatan-108.04 Bujur Timur) Kabupaten Tasikmalaya dengan kedalaman 105 kilometer, Jumat 15 Desember 2017 pukul 23.47 WIB.***

Baca Juga

Harga Ayam Tak Terkendali, Broker Bisa Dihilangkan

CIANJUR, (PR).- Pemotongan rantai distribusi daging dan telur ayam dengan menghilangkan broker dinilai dapat dilakukan sejak tingkat peternak. Hal tersebut, dianggap sangat memungkinkan terjadi sebagai upaya menekan tingginya harga daging dan telur ayam di pasaran.