Sedikitnya 40 Rumah Rusak dan 1 Tewas di Ciamis, Tenda Darurat Disiagakan

Kerusakan Akibat Gempa/NURHANDOKO/PR
Salah satu rumah milik warga di Gunungsari, Kecamatan Sadananya yang ambruk akibat tidak kuat menahan getaran gempa bumi berkekuatan 6,9 SR pada Jumat 15 Desember 2017 tengah malam. Seorang warga setempat Hj. Dede Lutfi meninggal akibat tertimpa runtuhan bangunan, sedangkan saudaranya Ajat (70) dan Lutfi Badim, luka-luka.

CIAMIS.(PR).- Puluhan rumah di wilayah tatar galuh Ciamis dan Kota Banjar rusak berat gempa Tasikmalaya berkekuatan 6,9 Skala Richter pada hari Jumat 15 Desember 2017 tengah malam. Kejadian tersebut juga mengakibatkan Hj. Dede Lutfi (63) warga Gunungsari, Kecamatan Sadananya Kabupaten Ciamis meninggal akibat tertimpa runtuhan rumah.

Getaran gempa yang dirasakan secara luas di Pulau Jawa tersebut, juga sempat membuat panik pasien Rumah Sakit Al Arif Kabupaten Ciamis. Banyak pasien dan penunggu berlari keluar dari kamar perawatan. Tidak sedikit sembari membawa botol infus yang jarumnya masih menempel di badan. 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, menuturkan berdasar hasil pendataan sementara tercatat sedikitnya 40 rumah rusak berat. Sampai saat ini juga masih melakukan pendataan, termasuk menaksir kerugian. 

"Hasil monitoring sementara tercatat 40 rumah rusak  berat. Yang rusak ringan dan sedang tentunya lebih banyak lagi. Kami masih melakukan update pendataan," tutur Ani Supiani, Sabtu 16 Desember 2017.

Dia mengungkapkan kersuakan akibat gempa ditemukan di sepuluh kecamatan, di antaranya Kecamatan Sadananya, Ciamis, Banjarsari, Banjaranyar, Cijeungjing,  Pamarican, Cimaragas dan  Sukadana. Kerusakan paling banyak terdapat di wilayah Kecamatan Pamarican. 

"Sedangkan untuk korban, ada satu yang meninggal dunia, empat orang luka akibat tertimpa rerutuhan bangunan. Korban  Dede diperkirakan meninggal saat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan setelkah tertimpa temok rumah," ungkapnya. 

Tenda darurat

Saat ini, lanjut Ani, BPBD Ciamis mendirikan tenda darurat serta membuka dapur umum di wilayah Kecamatan Pamarican, yang paling berat terdampak gempa. Selain rumah , ada pula mushala yang runtuh akibat tidak kuat menahan guncangan gempa. 

Sementara itu gempa yang terjadi Jumat 15 Desember 2017 tengah malam juga sempat membuat panik pasien di RS Al-Arif Kabuoaten Ciamis. Saat tmerasakan geraran yang sangat kuat, banyak pasien dan penunggu langsung berlari keluar ruangan. 

"Suasana sempat panik, apalagi getrannya sangat kuat. Hampir semuanya keluar ruang. Saya juga panik,langsung bawa botol infus dan keluar ruang," ungkap Ayu pasien gejala typus. 

Panik dan mencekam

Sementara itu, suasana mencekam juga terjadi di Desa gungsari, kecamatan Sadananya. Tidak hanya seluruh warga berlari keluyar rumah, juga disertai beberapa suara gemuruh kencang. Rumah dua lantai yang dihuni Lutfi Badim (70), Ajat ( 80) dan Hj Dede Lutfi (63) ambruk. 

Setelah suasana sedikit tenang, warga langsung beruaya menolong korban dari timbunan reruntuhan tembok dan ouing atap bangunan. ketiga korban ditemukan berada di lantai dua. 

"Kami tidak bisa bayangkan, apabila saat itu sedang berada di lantai dasar. Rumahnya ambruk. Luka paling parah dialami Dede, tidak sadarkan diri. Kami perkirakan meninggal saat perjalanan kerumah sakit," ungkap Dadang warga Sadananya. 

Gempa juga mengakibatkan beberapa rumah di wilayah Kota Banjar rusak. Setdaknya empat rumah di Kecamatan Langensari dan Banjar rusak berat. Sampai saat ini BPBD Kota banjar juga masih melakukan pendataan. 

"Ada beberapa rumah dan fasilitas lain yang rusak berat. kami masih melakukan pendataan. gempanya memang terasa begitu kuat," tutur Kepala BPBD Kota banjar Yayan Herdiaman.***

Baca Juga