Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Medis, TPS Ilegal Disegel

Limbah Medis/ANI NUNUNG/PR
KAPOLRES Cirebon Risto Samodra (kanan) memimpin langsung pengaman, upaya penyegelan yang dilakukan tim Gakum Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di lokasi pembuangan limbah medis di sisi jalan Panguragan -Klangenan Kabupaten Cirebon, Minggu, 10 Desember 2017. Selain memasang papan peringatan, penyegelan juga dilakukan dengan memasang garis kuning di sekitar lokasi.*

SUMBER,  (PR). - Pembuangan limbah medis yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) secara sembarangan, tergolong kejahatan serius dan luar biasa. Tim Penegakan Hukum dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akhirnya menyegel lokasi pembuangan limbah medis yang berserakan di sisi jalan Panguragan-Klangenan Kabupaten Cirebon,  Minggu, 10 Desember 2017.

Penyegelan dilakukan dengan memasang plang berisi pengumuman penyegelan dan pemasangan garis kuning  di sepanjang tempat pembuangan sampah sementara (TPS) ilegal tersebut. Untuk mengantisipasi aksi intimidasi yang dikhawatirkan dilakukan oleh sekelompok massa bayaran, tindakan penyegelan  dilakukan dengan pengawalan aparat gabungan TNI dan polisi.

Setidaknya 100 personel TNI dari Kodim 0620 Sumber dibawah pimpinan langsung Dandim 0620 Sumber Irwan B dan 180 personel Polres Cirebon dibawah pimpinan langsung Kapolres Cirebon Risto Samodra dilibatkan dalam pengamanan.

Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani dalam siaran pers yang diterima “PR” menyebutkan, pembuangan limbah medis yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) secara sembarangan, tergolong kejahatan serius dan luar biasa. “Sebab mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat,“ katanya.

Pembuangan atau dumping limbah B3 ilegal, khususnya limbah medis, katanya, menjadi prioritas penindakan KLHK. Terkait dengan komitmen itu, pihaknya akan menelusuri asal limbah medis dan akan menindak tegas termasuk mencabut izin apabila dilakukan oleh perusahaan pengelola limbah B3.

Menurut Rasio,  KLHK juga akan menggugat secara perdata perusahaan-perusahaan pembuang limbah B3, dengan gugatan strict liability,  kalau tidak masyarakat yang akan jadi korban. “Kita harus melindungi hak asasi dan konstitusi masyarakat,  hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang dijamin oleh UUD 1945,” katanya.

Kepala Balai Penegakan Hukum KLHK Wilayah Jawa,  Bali dan Nusa Tenggara Benny Bastiawan,  yang ditemui di lokasi penyegelan mengungkapkan, penyegelan tempat pembuangan limbah medis, dilakukan sebagai upaya pengamanan lokasi untuk langkah tindak lanjut penyelidikan.

Apa saja yang ditemukan?

Menurut Benny, kedatangan tim Gakum KLHK sebagai respon atas laporan pembuangan limbah B3 yang sembarangan. “Kalau kami hanya tim awal untuk melakukan investigasi awal atas laporan ini Nanti akan ada tim penyidik yang melakukan olah tempat kejadian perkara sekaligus menangani kasus ini, “ katanya.

Dari hasil investigasi awal, di lokasi seluas 2.500 meter persegi itu ditemukan jarum suntik bekas, suntikan bekas, ampul bekas, botol/plastik infus bekas, selang infus bekas, jarum infus bekas, obat kadaluarsa, hasil sampel pengambilan darah dan laboratorium, serta limbah lampu TL dalam jumlah yang sangat banyak. Limbah tersebut berasal dari sejumlah nama rumah sakit baik dari Cirebon, Karawang, Bekasi, maupun lintas provinsi.

Benny mengakui, dari indikasi awal berupa temuan-temuan limbah medis itu, dugaan pelanggaran hukum atas kasus tersebut sangat jelas. “Ada dugaan tindak pidana pasal 104 UU Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan pidana penjara paling lama 3 tahun dan dan denda paling banyak Rp 3 miliar,” katanya.

Menurut Benny, selama lebih dari 1 tahun berdirinya Balai Gakum KLHK, baru kali ini menangani kasus pembuangan limbah medis sembarangan.

Sementara itu Christopher Sirait perwakilan dari Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 menyesalkan tindakan pemindahan sebagian limbah medis ke TPA Gegesik yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi ditemukan limbah medis oleh Pemkab Cirebon.

“Tidak dibenarkan sama sekali pemindahan limbah B3 karena sangat infeksius. Limbah B3 itu harus segera dimusnahkan karena berkejaran dengan waktu. Karena dalam masa 8 jam saja, bakteri bisa menduplikasi diri, dan itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Tentu soal penyakit apa saja yang bisa ditularkan, itu kewenangan dokter untuk mengatakannya, “ paparnya.***

Baca Juga

Tiba-tiba Anak Panah Menancap di Pelipis Rahmat

CIREBON, (PR).- Seorang siswa SMKN 1 Cirebon bernama Rahmat Setiawan harus menjalani operasi, Senin 15 Januari 2018. Pelipis kanannya tiba-tiba terkena anak panah.

Peta Konflik Dunia Mengarah ke Indonesia

CIREBON, (PR).- Prediksi bakal habisnya cadangan energi fosil dunia pada tahun 2043, bakal mengubah tatanan dunia termasuk peta konflik dunia.

Banyak Atlet Mutasi, KONI Jabar Turun Tangan

SUMBER, (PR).- Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Jabar bakal membentuk Pokja Mutasi untuk menuntaskan persoalan mutasi atlet. Mutasi atlet ini biasanya kerap terjadi menjelang even olah raga baik Porda maupun PON.