Pembangunan UIII Bakal Menggusur Bangunan Bersejarah di Depok

Bangunan bersejarah/BAMBANG ARIFIANTO/PR
BANGUNAN bersejarah Rumah Cimanggis tampak rusak dan tak terurus di kawasan Lapangan Pemancar RRI, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jumat 8 Desember 2017. Bangunan tersebut terancam tergusur oleh pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia.*

DEPOK, (PR).- Panitia Pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia berencana menggusur bangunan tua peninggalan Belanda yang dikenal dengan nama Rumah  Cimanggis. Bangunan bersejarah tersebut bakal digusur karena sudah tak berfungsi dan terawat.

"Dirobohkan," kata Kaharuddin selaku Panitia Pembangunan UIII sekaligus Utusan Sekretariat Wakil Presiden saat dihubungi "PR", Jumat, 8 Desember 2017. Menurutnya, Pemerintah Kota Depok, aparat pemerintahan setempat serta RRI pun tak memberikan informasi terkait nilai historis Rumah Cimanggis yang terletak di Lapangan Pemancar RRI, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya tersebut.

Tak adanya informasi dan permintaan Pemkot Depok guna melindungi bangunan bersejarah itu membuat Rumah Cimanggis masuk dalam rencana pembongkaran.

Apalagi bangunan bekas rumah singgah Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus Van Der Parra itu tak terawat.

"Tidak terurus sama sekali, tidak pernah dibersihkan," ujar Kaharuddin.  Kondisi bangunan juga sudah sangat mengenaskan karena tertutup rerumputan. Kaharuddin mempertanyakan pula adanya bukti bangunan tersebut bernilai sejarah atau cagar budaya yang dilindungi.

"Itu belum dipastikan aset cagar budaya ya kan," tuturnya. Untuk itu, dasar - dasar hukum agar Rumah Cimanggis tak ikut tergusur harus diperlihatkan.

Menurutnya, panitia pembangunan UIII bakal mempertimbangkan ulang penggusuran bila pemerintah setempat meminta Rumah Cimanggis tak dirobohkan. "Jujur sama sekali (belum ada) informasi dan belum pernah ada yang ngomong," ucapnya.‎ Kaharuddin menambahkan, hanya satu gedung RRI yang akan dipertahankan di area lapangan pemancar tersebut.

Sementara itu, pegiat sejarah dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Ferdy Jonathans meminta pemerintah menyelamatkan Rumah Cimanggis.‎ "Bangunan itu harus tetap dipertahankan," kata Ferdy. Pemerintah semestinya berkewajiban merawat dan mengurus aset bersejarah itu.

Kendati terlihat tak berfungsi, Rumah Cimanggis hingga kini masih menjadi tujuan study tour atau napak tilas pelajar dan masyarakat umum yang ingin mengetahui sejarahnya. Ferdy pun memperlihatkan adanya undangan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok yang akan mengunjungi Rumah Cimanggis pekan depan.

Kegiatan tersebut menunjukkan keberadaan bangunan itu masih bermanfaat dan menyimpan nilai sejarah. "Kalau dia (panitia proyek) bongkar, dia justru melanggar aturan (perlindungan) benda bersejarah," tuturnya.

Hilangnya Rumah Cimanggis berarti lenyap pula salah satu situs sejarah langka Depok. Selain bekas peninggalan pejabat VOC, lanjut Ferdy, Rumah Cimanggis memiliki keunikan arsitektur lama. Bangunan tersebut tergolong rumah peristirahatan atau vila di masa silam. "Gaya-gaya vila jaman dulu, satu-satunya itu, enggak ada lagi," ucapnya.

Pemerintah pun bisa memfungsikan atau mengaktifkan Rumah Cimanggis sebagai museum atau perpustakaan. Apalagi, Depok hingga kini belum memiliki museum. Ferdy menilai, Pemkot selama ini tak mengurusi Rumah Cimanggis. "Seolah-olah enggak perduli, bangunan rusak, seram," ucapnya.

Menurutnya, beberapa banguann bersejarah Depok lain juga terancam kelestarian. Bahkan, tutur Ferdy, beberapa bangunan tua peninggalan kaum Depok lama di Jalan Pemuda, Pancoran Mas telah dirombak tanpa menyisakan arsitektur lamanya. Bangunan lain seperti Rumah Pondok Cina di Jalan Margonda Raya kini terkepung bangunan hotel dan pusat perbelanjaan. Akses masuk menuju Rumah Pondok Cina pun tak mudah. Pengunjung mesti meminta izin pengelola hotel yang menguasai bangunan peninggalan warga Tionghoa tempo dulu tersebut. 

Lenyapnya Rumah Cimanggis bakal menambah deretan nasib mengenaskan bangunan - bangunan bersejarah Depok. Rumah Cimanggis yang berdiri sejak 1778 itu sempat pula dihuni isteri Gubernur Van Der Parra.***

Baca Juga

Investigasi Ombudsman Temukan Praktik Percaloan SIM di Depok

DEPOK, (PR).- Ombudsman Republik Indonesia menemukan praktik percaloan pembuatan surat izin mengemudi (SIM) di Kantor Satuan Penyelenggara Adminis‎trasi (Satpas) Polresta Depok, Pasar Segar, Jalan Tole Iskandar, Kota Depok.

Sampah Visual Bikin Kota Depok Semrawut

DEPOK, (PR).- Keberadaan sampah visual dari beragam reklame iklan terus menjamur dan mengotori wajah Kota Depok. Penangananan yang dilakukan Pemerintah Kota Depok pun hanya sekadar menertibkan sampah visual tersebut.

Hikayat Margonda, Pejuang Depok Tanpa Pusara

MENJADI nama jalan utama Kota Depok, riwayat Margonda sebagai pejuang kemerdekaan masih simpang siur. Hingga kini, keluarga pejuang kelahiran Baros, Cimahi 1918 itu belum mengetahui di mana pusara Margonda.

Pengelolaan TPA Cipayung Buruk, Warga Gugat Pemkot Depok

DEPOK, (PR).- Sejumlah warga Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok melakukan gugatan hukum terhadap Pemerintah Kota Depok atas buruknya tata kelola TempataPembuangan Akhir (TPA) Cipayung.