Waspada, Difteri Juga Menyerang Orang Dewasa

Pasien Terduga Difteri/ANTARA FOTO
PETUGAS melakukan pemeriksaan pasien suspect penyakit difteri yang baru masuk di Ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis 7 Desember 2017.*

CIAMIS,(PR).- Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis hingga saat ini tidak menemukan kasus penularan penyakit difteri di daerahnya. Difteri yang merupakan penyakit menular tersebut, tidak hanya menyerang anak-anak akan tetapi juga orang dewasa. 

"Sampai saat ini kami tidak menemukan kasus difteri di Ciamis. Sebelumnya memang ada salah satu siswa SMA di Purwadadi yang diduga difteri. Namun, setelah dilakukan uji laboratorium, hasilnya negatif, nihil," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Engkan Iskandar, Kamis 7 Desember 2017.

Dia mengungkapkan, penyakit difteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit tersebut mudah menular. Misalnya percikan ludah ketika berbicara, bersin, atau batuk. 

"Penyebarannya mudah bisa lewat percikan luhan saat berbicara atau droplet infection. Penularannya mudah, terutama untuk orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri," tuturnya. 

Akibat imunisasi tidak lengkap

Pemberian vaksin difteri tidak lengkap, lanjutnya juga beroptensi untuk terkena penyakit tersebut. Pemberian vaksin DPT (difteri pertusis tetanus) dilakukan bersamaan, mulai baru lahir hingga usia 9 bulan. Untuk memerkuat juga dilakukan ketika usia di atas 1 tahun. Bahkan, kembali dilakukan pengulangan ketika sudah sekolah di bangku SD. 

"Dulu kan pernah ada bulan imunisasi anak sekolah. Anak yang sudah mendapat imunisasi DPT lengkap, memiliki kekebalan," ujarnya. 

Engkan mengatakan, beberapa kemungkinan latar belakang munculnya kasus difteri. Misalnya tidak mendapat imunisasi. Imunisasi DPT tidak lengkap, harusnya dilakukan tiga kali, akan tetapi hanya divaksin sekali. Sudah mendapat vaksin, akan tetapi vaksin tidak disimpan di tempat dan suhu yang tidak sesuai. 

"Termasuk juga ada masyarakat yang menolak pemberian imunisasi vaksin DPT, dengan berbagai alasan. Dengan demikian mereka yang tidak mendapatkan vaksin tersebut menjadi pembawa atau carrier. Mungkin juga sudah imunisasi lengkap, akan tetapi vaksin tidak disimpan di temoat dan suhu semestinya, sehingga tidak mempan," jelasnya. 

Lebih lanjut dia mengungkapkan beberapa gejala difteri. Di antaranya susah menelan akibat tenggorokan sakit. Pembengkakan pada bagian leher, nafsu makan turun, pada bagian tonsil atau amandel terdapat bercak putih keabu-abuan, demam panas, dan lainnya. 

"Jadi sebaiknya waspadai munculnya gejala klinis tersebut. Ada baiknya konsultasi ke dokter untuk memastikan, sehingga dapat segera diambil tindakan. Masyarakat juga tidak perlu resah. Tenang, namun tetap waspada," kata Engkan.***

Baca Juga

Tiga Kasus Difteri, Dinkes Cianjur Genjot Sosialisasi

CIANJUR, (PR).- Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur menggenjot sosialisasi antisipasi penyebaran penyakit difteri. Hal itu dilakukan, setelah ada tiga kasus difteri sepanjang 2017 dan terakhir kali ditemukan per 15 November 2017 lalu.

Difteri Marak, Wartawan Cianjur Ramai-ramai Ikut Imunisasi

KASUS difteri yang kembali mewabah membuat sejumlah wartawan di Cianjur tergerak untuk melakukan pencegahan. Imunisasi dewasa untuk penyakit difteri pun dilakukan oleh para awak media di Kabupaten Cianjur.