Banyak Kejanggalan Saat Rekonstruksi, Keluarga Korban Protes

Rekonstruksi/SHOFIRA HANAN/PR
PELAKU penganiayaan, Har, melakukan rekonstruksi penganiayaan seorang remaja berinisial HF (14) di Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku, Cianjur, Rabu 6 Desember 2017.*

CIANJUR, (PR).- Proses rekonstruksi penganiayaan seorang remaja di Desa Sukakerta, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, dinilai tidak sesuai fakta. Pihak keluarga korban HF (14) menyatakan, terlalu banyak perbedaan adegan yang direka ulang dengan pernyataan HF sebelum meninggal Agustus 2017 lalu.

Kasus penganiayaan itu berawal saat pelaku, yakni Har yang menuduh HF mencuri tanaman di kebun tempatnya bekerja. Har saat itu melakukan penganiayaan dengan alasan hendak menasihati HF agar tidak mencuri lagi di kebun tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pelaku memukul remaja itu dengan gagang cangkul secara spontan.

"Itu salah, tidak sesuai dengan kenyataan yang dikatakan korban. Korban mengalami luka sobek yang cukup dalam, karena dipukul dengan besi bukan gagang cangkul. Dari pernyataan itu saja sudah berbeda," kata tokoh masyarakat setempat sekaligus perwakilan keluarga, Asep Jamaludin, Rabu 6 Desember 2017.

Menurut dia, penganiayaan itu berdampak buruk bagi HF yang akhirnya terkapar selama beberapa minggu. Luka di kepalanya terus membusuk tanpa ada penanganan medis, sebab HF dan keluarganya merahasiakan kejadian tersebut karena merasa takut dengan ancaman Har.

Tidak berhenti di sana, Asep yang juga menyaksikan proses rekonstruksi merasa banyak adegan yang tidak sesuai fakta. Hal-hal yang dikatakan korban, tidak ada satupun yang dicantumkan dalam reka adegan tersebut. Termasuk pernyataan HF, yang mengaku bahwa ia dianiaya juga oleh pemilik kebun tempat Har bekerja, yaitu Slamet.

Padahal, Asep yakin jika sebelum meninggal HF memberikan keterangan yang sebenarnya. "Kelemahan kami (keluarga) memang terletak pada kesaksian. Setelah HF meninggal, tidak ada lagi saksi korban. Ditambah lagi, saat kejadian memang tidak ada saksi yang menyaksikan makanya kami mengalah," katanya.

Akan tetapi, Asep juga tidak bisa berbuat banyak, karena masyarakat setempat juga ketakutan untuk memberikan kesaksian. Soalnya, Har selama ini dikenal sok jagoan di lingkungan tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus HF yang sempat viral karena terkait isu sara lantaran pemilik kebun berasal dari etnis tertentu.

"Tapi keluarga bersedia membuktikan semua kebenarannya, kalau mau dibongkar silahkan bongkar saja makam HF dan lakukan autopsi!" ujarnya.

Cara itu dinilai menjadi jalan paling tepat untuk membuktikan pernyataan HF sebelum meninggal. Asep mengatakan, jika tidak memastikan sekali lagi, dikhawatirkan publik hanya mengetahui fakta yang kemungkinan bisa direka-reka oleh Har. Apalagi, Har juga dikenal sebagai orang yang berani dan terus bertingkah seperti jawara kampung.

Warga diminta buka suara

Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Lidya Indayani Umar selaku pendamping pihak keluarga HF mendukung langkah tersebut.

"Kasus ini melibatkan anak yang berujung kematian. Korban sudah meninggal, tidak ada saksi lain dan itu akhirnya menjadi kendala bagi pihak keluarga dalam kasus ini. Keterlibatan masyarakat juga dibutuhkan di sini untuk membela korban," kata Lidya.

Menurut dia, kesadaran hukum di lingkungan masyarakat yang masih rendah membuat kasus ini memberatkan korban. Padahal, di lingkungan itu HF dikenal baik dan tidak mungkin mencuri. Namun, lagi-lagi tidak banyak orang yang mau bersaksi dan membantu pihak keluarga HF.

"Saya mohon masyarakat harus bicara yang sebenar-benarnya, karena sejauh ini pelaku terlihat santai saja bercerita dari sudut pandang pribadinya. Sementara kesaksian korban, diabaikan dan tidak ada dalam rekonstruksi," ujarnya.

Oleh karena itu, Lidya sangat mengharapkan agar masyarakat tidak takut untuk membantu keluarga HF dalam proses hukum. Terlebih, selama ini pun Har dikenal banyak berulah dan merugikan warga sekitar. Pihak P2TP2A akan membantu dan mendampingi korban, ataupun saksi yang meringankan korban selama proses hukum berlangsung.

Memperjelas permasalahan

Kabag Ops Polres Cianjur Warsito mengatakan, rekonstruksi dengan 16 adegan penganiayaan terhadap HF itu dilakukan untuk memperjelas permasalahan yang terjadi. Pasalnya, kasus itu sempat viral dan sarat akan isu sara hingga membuat ormas setempat meminta kepolisian menangkap pemilik kebun tempat Har bekerja.

"Karena pemilik kebun yang juga menjadi saksi pihak pelaku merupakan keturunan Tionghoa. Diduga, pemilik kebun juga melakukan penganiayaan, sampai kasus ini pun dikait-kaitkan dengan sentimen ras. Tapi, setelah olah TKP saksi dikatakan tidak terlibat," katanya.

Warsito mengatakan, kasus tersebut telah menemui titik terang karena pelaku sudah tertangkap. Maka dari itu masyarakat juga tidak perlu resah dan diminta untuk mempercayakan prosesnya pada pihak terkait.

"Tapi, kalaupun masyarakat punya keterangan disertai alat bukti maka itu pasti kami proses. Semua masih bisa dikembangkan," ujarnya.***

Baca Juga

Harga Ayam Tak Terkendali, Broker Bisa Dihilangkan

CIANJUR, (PR).- Pemotongan rantai distribusi daging dan telur ayam dengan menghilangkan broker dinilai dapat dilakukan sejak tingkat peternak. Hal tersebut, dianggap sangat memungkinkan terjadi sebagai upaya menekan tingginya harga daging dan telur ayam di pasaran.