Wali Kota dan Tokoh Adat Pariaman Belajar Wisata Berbasis Kultur di Purwakarta

MOCHAMAD IQBAL MAULUD/PR
WALI Kota Pariaman, Rahman Mukhlis (Baju abu-abu) saat mengunjungi Komplek Setda Kabupaten Purwakarta pada Selasa 5 Desember 2017.*

PURWAKARTA, (PR).- Pengembangan pariwisata berbasis budaya di Purwakarta, mengundang rasa penasaran wali kota dan tokoh adat di Pariaman. Sehingga ‎mereka tertarik untuk belajar tata kelola pariwisata di Purwakarta.

Seperti diketahui Pariaman merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Sumatera Barat. Para inohong dari kota yang cukup maju perkembangan pembangunannya ini pun langsung datang ke Purwakarta.

Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman mengatakan jarang dia temukan di kabupaten maupun kota di daerah lain, kantor pemerintahan yang dapat dikunjungi secara bebas oleh warga. Namun berbeda dengan di Purwakarta, di Purwakarta kantor-kantor karena menyajikan wahana wisata.

Sebagaimana diketahui, kantor pemerintah di Purwakarta dibangun berdasarkan asas kearifan. Yaitu dengan arsitektur lokal Jawa Barat berupa ‘Julang Ngapak’ ditambah ornamen alam seperti taman dan air mancur. 

"Saya lihat Purwakarta selama ini di media sosial, dari dulu penasaran ingin melihat secara langsung. Ternyata memang indah, potensi budaya menyatu menjadi modal wisata. Kantor pemerintahan di sini pun ternyata menjadi tempat wisata," ucap Mukhlis dalam kunjungan kerjanya di Purwakarta, Selasa 5 Desember 2017.

Sambil berkeliling di kompleks Pendopo Bale Paseban Purwakarta dan Taman Pesanggrahan Padjadjaran, Mukhlis menyatakan ketertarikan untuk meniru konsep pembangunan di Purwakarta. Konsep ini nantinya akan diterapkan sesuai dengan kultur yang ada di Kota Pariaman. Menurut dia, melalui cara ini generasi masa kini dapat belajar tentang peradaban bangsa

"Kami membawa 114 orang mulai dari unsur pemerintahan hingga lembaga adat. Konsep di Purwakarta yang berisi pelajaran tentang sejarah peradaban kita coba adopsi sesuai dengan kultur Kota Pariaman. Saya kira ini bagus," katanya. 

Diorama Bale Panyawangan tarik perhatian

Sejarah peradaban bangsa baik Sunda maupun Indonesia dapat dinikmati oleh wisatawan di Diorama Bale Panyawangan Tatar Sunda dan Diorama Bale Panyawangan Nusantara. Melalui format data digital, di kedua diorama tersebut ditampilkan periodesasi sejarah bangsa mulai dari masa kerajaan hingga abad modern. 

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mendampingi langsung rombongan Wali Kota Pariaman mengatakan bahwa pola pembangunan di Purwakarta dilakukan berdasarkan karakter wilayah. 

Sehingga, kata Dedi, pembangunan yang dilakukan tidak mengganggu kultur yang telah lama berkembang di tengah masyarakat setempat. Desa menurut Dedi, memiliki modal yang kuat untuk dilakukan pembangunan. 

"Fokusnya tetap di Desa, wisata, arsitektur, infrastruktur publik dan pengelolaan keuangan. Ini kan yang ada di perkantoran pemerintah merupakan arsitektur ala pedesaan, ternyata bisa kok diterapkan. Desa punya modal kuat. Makanya, kita tidak boleh malu menjadi orang desa," ujarnya.***

Baca Juga

Warga Lingkar Barat Diminta Tak Jual Tanah

PURWAKARTA, (PR).- Warga di sekitaran Jalan Lingkar Barat di Purwakarta diminta tidak menjual tanah atau bangunan yang dimilikinya. Justru pembangunan jalan tersebut bertujuan agar perekonomian warga sekitar menjadi berkembang.