Ridwan Kamil Jangan Terpengaruh Pihak Lain Dalam Tentukan Wakilnya

Ridwan Kamil/DOK. PR

BANDUNG,(PR).- Daripada menggelar konvensi, Ridwan Kamil disarankan untuk ‎memilih calon wakil gubernurnya sendiri tanpa terpengaruh oleh pihak lain. Hal itu kaitannya dengan hubungan emosional antara kepala dan wakil kepala daerah nantinya.

"Calon gubernur dan wakil gubernur itu harus memiliki political chemistry, bukan hanya disepakati partai pengusung," kata pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan, Minggu 3 Desember 2017.

Menurut dia, meski pasangan tersebut dua-duanya memiliki kualitas yang baik, jika tidak memiliki hubungan emosional, kinerja keduanya tidak akan baik.

Berdasarkan beberapa catatan pemerintahan selama ini, banyak kepala daerah yang 'dikawin paksa' oleh partai pengusung sehingga kerap timbul persoalan di kemudian hari.‎ Dengan menentukan sendiri calon pendampingnya, ketika terpilih nanti pasangan tersebut mampu bekerja dengan baik. 

Oleh karena itu, lanjut dia, meskipun Ridwan Kamil meminta rekomendasi calon wakil gubernur dari ajang konvensi, namun tetap saja keputusan akhirnya berada di tangan Wali Kota Bandung tersebut. Hal ini sangat penting karena yang bersangkutanlah yang mengetahui kebutuhannya ketika memimpin daerah nanti.

"Karena yang nanti akan bekerja lima tahun itu Kang Emil (Ridwan Kamil), bukan para panelis," ujar dia.

Firman menambahkan, Ridwan Kamil seharusnya sudah bisa mengantongi calon yang tepat sebagai pendampingnya nanti. Salah satu indikatornya bisa mengacu pada hasil survei dan karakteristik calon pendampingnya saat ini. Selain itu,‎ Ridwan harus mendapatkan sosok yang mampu melengkapi kepemimpinan dirinya. 

"Calon wakil Kang Emil harus memiliki pengalaman yang baik di pemerintahan, di samping memiliki popularitas dan elektabilitas yang baik. Jadi syarat itu yang harus diperhatikan Kang Emil dalam memilih wakil," katanya.

Namun, kata dia, jika konvensi tetap dilakukan, harus dilakukan sebaik mungkin. Tim panelis yang terdiri dari sembilan orang harus memberi penilaian yang obyektif dan transparan terhadap masing-masing kandidat. Penilaian yang diberikan harus berdasarkan kualitas kandidat bukan karena faktor kedekatan politik.

Tidak Tepat

Sementara itu, di sisi lain Firman mengkritisi penamaan konvensi yang menurutnya tidak tepat karena memilih calon wakil gubernur dari berbagai partai. Sementara, istilah konvensi di Amerika Serikat digunakan untuk memilih kandidat dari partai yang sama.

Menurut dia, istilah konvensi yang tepat diadopsi Partai Golkar dan Demokrat saat memilih calon presiden pada 2004 dan 2014. Sementara konvensi saat ini bukan dari partai yang sama, terlebih terdapat tokoh independen sebagai panelis yang bukan orang partai.

"Jadi penamaannya (konvensi) kurang tepat," kata dia.***

Baca Juga