Lestarikan Ciliwung, KCP Bakal Kembangkan Wisata Edukasi

Ilustrasi Menyusuri Ciliwung/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DEPOK, (PR).- Prihatin atas kerusakan Sungai Ciliwung, sejumlah pegiat sejarah Kota Depok membentuk Komunitas Ciliwung Panus (KCP). Komunitas tersebut terbentuk guna melestarikan Ciliwung sebagai bagian dari sejarah Depok.

KCP berdiri atas inisiatif kaum Depok lama yang merupakan keturunan eks budak Cornelis Chastelein, pendiri Depok di masa lalu. Selain konsen persoalan sejarah, persoalan Ciliwung menjadi perhatian mereka. Soalnya, sungai tersebut merupakan aset sejarah dan bukti perkembangan Depok saat berdiri hingga kini. Ketua KCP Ferdy Jonathans menuturkan, komunitas itu didirikan pada 17 Agustus 2017. Nama Panus diambil dari jembatan bersejarah Depok yang melintang di atas Ciliwung.

Jembatan tua tersebut dibangun pada 1917. "Awalnya prihatin dengan kondisi Ciliwung yang selalu sampah - sampah nyangkut di tiang jembatan," kata Ferdy yang juga merupakan pengurus bagian aset dan sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Senin 27 November 2017. Rasa prihatin membuat mereka kerap membersihkan sampah di sekitar kolong jembatan. Dari sana, ide membuat komunitas pun muncul. Kehadiran KCP semakin melengkapi keberadaan komunitas peduli Ciliwung di Depok. Menurut Ferdy, penyelamatan Ciliwung bukan hanya terkait persoalan kelestarian lingkungannya. Ciliwung, lanjutnya, merupakan bagian sejarah Depok. Di masa lalu, sungai tersebut merupakan urat nadi ekonomi dan transportasi masyarakat Depok.

Dikatakan Ferdy, berbagai kapal besar dan kecil melalui Ciliwung tempo dulu. Hal itu diketahuinya dari isi surat wasiat Chastelein yang meninggal pada 1714. "Cornelis Chastelein jika ke Depok suka menggunakan perahu," ucapnya. Bahkan, Depok sempat memiliki pasar apung di Ciliwung kawasan Pondok Cina.‎ Kegiatan ekonomi warga memang tak bisa pula dilepaskan dari keberadaan Ciliwung. Seperti penjualan bambu asal Depok yang dibawa menggunakan rakit ke Manggarai, Jakarta. Kawasan tepi sungai pun menjadi habitat satwa dan lahan tanaman khas Depok. Tak pelak, kerusakan Ciliwung karena pencemaran limbah dan sampah bukan hanya merusak lingkungannya. Namun, kerusakan juga berdampak hilangnya aset sejarah kota berikon belimbing tersebut. 

Hutan bambu

Upaya pemulihan, tutur Ferdy, dilakukan dengan menjadi Ciliwung sebagai lokasi wisata edukasi yang menyenangkan. KCP berencana menjadikan Jembata Panus sebagai area wisata ekologi dengan mengedepankan edukasi sejarah. Ferdy mengatakan, masyarakat bisa diajak berwisata ngalun atau mengarungi Ciliwung dari Jembatan Grand Depok City hingga Panus. Selain ngalun, masyarakat berkesempatan mendengarkan cerita sejarah Depok yang disampaikan pemandunya. 

Untuk itu, Ferdy meminta Pemkot Depok membantu penyediaan dermaga di kolong Panus. Dermaga akan menjadi lokasi pendaratan perahu yang bertolak dari Jembatan GDC. Terkait penyediaan perahu karet guna pengarungan, KCP bekerjasama dengan Komunitas Ciliwung Depok (KCD) yang memiliki alat angkut tersebut. Pengembangan lain yang bakal dilakukan adalah mengembalikan ekosistem tepian Ciliwung. 

Ferdy menginginkan tepi sungai antara Jembatan GDC-Panus menjadi hutan bambu. "Jadi segala jenis bambu ada," ucapnya. Area hutan bambu diharapkan juga dilengkapi fasilitas lintasan lari masyarakat atau joging track. Melalui berbagai upaya tersebut, penyelamatan Ciliwung dilakukan dengan cara yang lebih menarik dan melibatkan masyarakat.***

Baca Juga

Air Lindi TPA Cipayung Dibuang ke Kali Pesanggrahan

DEPOK, (PR).- Pengolahan air lindi‎ atau limbah cair sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung Kota Depok menuai sorotan. Pasalnya, lindi TPA tersebut masih dibuang ke Kali Pesanggrahan dengan kondisi hitam pekat dan berbau.