Pembacaan Tuntutan Batal, Korban Penipuan Pandawa Group Meradang

Sejumlah korban meneriakki para terdakwa kasus penipuan Pandawa Group saat keluar sidang di Pengadilan Negeri Depok, Jalan Boulevard Raya Kota Kembang, Depok, Senin 13 November 2017. Para korban kecewa agenda pembacaan tuntutan dalam sidang itu ditunda.

DEPOK, (PR).- Sejumlah korban perkara penipuan Pandawa Group meradang setelah ‎agenda pembacaan tuntutan batal dilakukan di Pengadilan Negeri Kota Depok, Senin 13 November 2017. Para korban yang merupakan eks nasabah Pandawa itu mempertanyakan profesionalitas dan komitmen jaksa dalam menuntut kasus tersebut.

Sidang dugaan penipuan Pandawa sudah diawali aksi unjuk rasa korban di halaman Kejaksaan Negeri Depok, Jalan Boulevard Raya Kota Kembang, kawasan Grand Depok City (GDC), Senin siang. Mereka berorasi menuntut jaksa serius dalam menjerat Bos Pandawa Group, Salman Nuryanto dan anak buahnya. Selepas berunjukrasa, massa bergerak menuju ruang sidang di PN Depok yang berada di sebelah kantor Kejari. Di sana, massa menunggu agenda pembacaan tuntutan kepada Nuryanto dan leader - leader Pandawa. Akhirnya, sidang dimulai selepas Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan hakim hadir.

Namun, proses persidangan tersebut berlangsung cepat. "Kami mohon waktu penundaan," ucap Jaksa Putri Anjani kepada Hakim Ketua ‎Yulinda Trimurti Asih Muryati. Putri beralasan, berkas terkait tuntutan tersebut banyak. Tanpa banyak mempertanyakan alasan itu, Yulinda langsung meluluskan keinginan JPU guna menunda pembacaan tuntutan. "Jadi kita kasih kesempatan terakhir (pembacaan tuntutan) hari Senin 20 November 2017," ucap Yulinda. Dia meminta, kuasa hukum Pandawa juga menyiapkan pembelaannya.

Sontak, penundaan itu menuai kecaman para korban yang memenuhi ruang sidang. Mereka beramai-ramai meneriakki jaksa dan terdakwa. "Sandiwara apa lagi ini," teriak pengunjung. Kekesalan korban sudah muncul sejak sidang akan dimulai. Mereka mempertanyakan pihak pengadilan yang tak memasang speaker atau alat pelantang suara agar pembacaan tuntutan tersebut terdengar. Alih-alih memasang alat pelantang suara, hakim dan polisi justru meminta pengunjung diam saat mengikuti persidangan. Kekecewaan korban membuat mereka tak segan menginterupsi atau memotong jalan persidangan dengan teriakan protes kendati terancam dikeluarkan.

Keksruhan kembali terjadi ketika terdakwa digiring ke mobil tahanan setelah sidang. Massa menanti 27 terdakwa yang hadir dalam persidangan tersebut keluar. Begitu di luar, para korban langsung merangsek mendekati penjagaan polisi dan meneriakkan kecaman. Tak hanya itu, perjalanan terdakwa dari ruang sidang menuju mobil tahanan pun tak lepas dari berbagai teriakan kekesalan korban.

Dinilai tak profesional

Kekecewaan atas penundaan sidang diungkapkan Lia (30), warga Bedahan, Sawangan, Depok. Sejak pagi, Lia sudah hadir di area Kejaksaan dan Pengadilan guna menghadiri sidang. Lia tak habis pikir dengan kinerja jaksa yang menunda pembacaan tuntutan. "Ini mah ada yang enggak beres, tuntutan saja belum siap," ujarnya. Dia menilai, jaksa tak profesional dalam menangani perkara. Lia menyoroti pula adanya pertemuan hakim perkara, pengacara dan jaksa kasus Pandawa di kantor Kejari Depok beberapa waktu lalu. Atas dugaan ketidakberesan tersebut, Lia mengaku para korban telah melaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dia menegaskan, Korps Adhiyaksa profesional dan transparan terkait jumlah aset Pandawa yang disita. Rasa keadilan korban juga harus dipenuhi. Lia menuturkan, uang setoran senilai Rp 50 juta saat dirinya menjadi nasabah Pandawa hingga kini tak jelas pengembaliannya. "Belum keluar (dikembalikan) sama sekali," tutur Lia. Padahal, uang tersebut berasal dari pinjaman bank. Hal senada diungkapkan korban lainnya, Ayati (30). Ayati mendesak pengembalian uang korban dilakukan dari hasil penyitaan aset - aset Pandawa.

Para korban memastikan bakal mendatangkan massa yang lebih besar lagi untuk sidang ke depan. Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan seluruh kegiatan pengumpulan dana yang dilakukan Pandawa Group, Kota Depok karena berpotensi merugikan masyarakat dan melanggar Undang - Undang tentang Perbankan. Pandawa telah menghimpun dana masyarakat dengan tawaran bunga investasi tinggi.***

Baca Juga

Pencuri Sepeda Motor Tewas Baku Tembak dengan Polisi

DEPOK, (PR).- Baku tembak antara pelaku pencurian sepeda motor terjadi di Jalan Swadaya 1, RT 3 RW 11, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Senin, 30 Oktober 2017.