#KlipingPR Oktober, Bulan Duka bagi PT KAI

SEBAGIAN rangkaian gerbon KA Cirebon Ekspres tampak dalam posisi terguling setelah anjlok di perlintasan rel dekat stasiun Telagasari, Kec.Lelea, Kab.Indramayu, Selasa (9/11) sore. Kecelakaan itu mengakibatkan seorang tewas, sepuluh luka berat dan seorang
Ilustrasi Kereta Anjlok/HENDRA SUMIARSA/PRLM
Sebagian rangkaian gerbon KA Cirebon Ekspres tampak dalam posisi terguling setelah anjlok di perlintasan rel dekat stasiun Telagasari, Kec.Lelea, Kab.Indramayu.

24 Oktober 1995. Bulan Oktober tampaknya menjadi bulan yang dirundung awan hitam bagi PT KAI. Pada 19 Oktober 1987 terjadi tabrakan kereta api terbesar yang dikenal dengan Tragedi Bintaro. Sembilan tahun sebelum terjadi tragedi nahas itu, pada Selasa 24 Oktober 1978 Kereta Api Cepat Banjar-Jakarta Anjlok di Gandamirah, Garut. Pada tanggal yang sama dan hari yang sama dengan tahun yang berbeda yakni pada Selasa 24 Oktober di tahun 1995 dua kereta terguling di Jembatan Cibahayu, Ciawi Tasikmalaya.

Seperti pernah dilaporkan #KlipingPR pada 20 Oktober 2017, tragedi bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 telah menewaskan sedikitnya 151 orang dan ratusan orang terluka. Tragedi itu terjadi karena tabrakan kereta api masing-masing bernomor 225 jurusan Rangkasbitung - Tanah Abang dan kereta api bernomor 220 jurusan Tanah Abang - Merak. Peristiwa itu terjadi tepat di KM. 17+300/400 m atau 4 KM dari Stasiun Kebayoran Lama dan 6 KM dari Stasiun Sudimara.

Sembilan tahun sebelumnya, kereta api penumpang cepat Banjar - Jakarta pada Selasa 24 Oktober 1978 pukul 10.15 WIB anjlok pada KM 207,88 di Gandamirah, Desa Karangsari, Kecamatan Leles, Garut. Seluruh rangkaian kereta api keluar dari rel, dua diantaranya dalam posisi miring di jembatan. 

Sebagaimana dilaporkan Koran Pikiran Rakyat pada Rabu 25 Oktober 1978, kecelakaan kereta api yang ditumpangi tidak kurang dari 500 orang penumpang dari Banjar, Ciamis, Tasikmalaya menuju Bandung dan Jakarta itu tidak menelan jiwa. Hanya korban luka-luka sebanyak 4 orang. Teknisi dari PJKA Bandung dan Cibatu kala itu yang menanggulangi anjloknya kereta tersebut.

Berselang 17 tahun kemudian, masih di bulan Oktober, di hari dan tanggal yang sama namun di tahun berbeda. Yakni pada Selasa 24 Oktober 1995 dini hari, dua rangkaian kereta api masing-masing KA Kahuripan dan KA Galuh, terguling ketika melintasi jembatan Sungai Cibahayu (Trowek), Desa Dirgahayu, Ciawi, Tasikmalaya. Diduga kecelakaan tersebut terjadi akibat rem KA-8076 (KA Kahuripan) tidak berfungsi dengan baik.

9 gerbong

Dilaporkan Pikiran Rakyat pada Rabu 25 Oktober 1995, rangkaian kereta yang terdiri dari 13 gerbong dengan dua lok itu, melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kereta itu memasuki jembatan Cibahayu (jembatan BH Km 241 +4/6), antara Cipeundeuy-Cirahayu, sekitar pukul 00.10. Sebelum terguling, sebagian rangkaian kereta yang sarat penumpang itu sudah sampai di ujung jembatan, sedangkan beberapa gerbong lagi masih berada di atas jembatan. 

Kecelakaan yang terjadi di kampung Sarapat Palumbungan itu mengakibatkan dua buah gerbong jatuh dari atas jembatan, dan masuk ujung saluran air Cibahayu. Sedangkan dua gerbong lainnya terguling di ujung kiri dan kanan jembatan. Gerbong yang terguling dan keluar rel, termasuk yang masuk saluran air, sebanyak 9 buah. Sedangkan 4 gerbong lainnya tetap berada di rel. 

Kala itu, dua lok CC 20175 (KA Galuh) dan CC 20105 (KA Kahuripan) membentur bukit setinggi kurang lebih 25 meter, di sebelah kanan ujung jembatan. Benturan sangat keras hingga dentumannya terdengar ke kampung Wage yang jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer dari lokasi, ujar seorang penduduk Wage. 

Peristiwa nahas ini menyebabkan 750 penumpang panik dan ketakutan, pasalnya lokasi kejadian berada di tengah-tengah perbukitan yang jauh dari jalan raya. Apalagi keadaan di sekitar lokasi gelap gulita karena daerah tersebut belum tersentuh penerangan listrik.

Jalur kereta menjelang jembatan Cibahayu (Treowek) itu memang berkelok kelok. Sebelum sampai jembatan, rel kereta sedikit berbelok kanan dan beberapa meter kemudian jalur rel belok ke kiri hingga lepas jembatan. 

Tidak tinggalkan lok

Masinis KA, Edi Herman (39), meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Sementara itu, Djudju (52) pembantu masinis KA Galuh, mengatakan Herman yang duduk berdampingan dengan dirinya sekuat tenaga mencoba mengendalikan lok yang sudah terlanjur meluncur dalam kecepatan tinggi. Namun lok tidak bisa direm. Herman memberi tanda Semboyan 39 yang berarti meminta pertolongan darurat dan minta awak kereta dibelakang untuk menarik rem darurat.

"Begitu kereta sudah tidak bisa direm, saya dan Herman sudah pasrah. Sebenarnya saya dan Herman bisa saja loncat keluar. Tapi kami adalah awak lok, yang terikat sumpah tidak akan meninggalkan lok dan penumpang," tuturnya mengisahkan kecelakaan tersebut. Beruntunglah Djudju karena ia hanya mengalami luka-luka.

Bagaikan terbang

Tukiman salah satu penumpang mengatakan tak ada tanda apa-apa ketika KA Kahuripan lepas dari Bandung. Namun selepas stasiun KA Cibatu terasa agak lain. "Kereta yang saya tumpangi berangkat dari Stasiun Bandung pukul 09.30 memang berjalan lancar. Namun ketika lepas dari Stasiun Cibatu Garut rodanya terasa bergetar dan larinya pun kencang," tutur Tukiman yang akan mudik ke Jateng. 

Setelah Cipendeuy kereta lebih kencang seperti sulit direm. Kereta bagaikan terbang, namun para penumpang tidak mengetahui persis kenapa KA bagaikan tidak terkendali.

Masalah Teknis

Dua hari setelah kejadian anjloknya kereta di Sungai Cibahayu ini, Pikiran Rakyat edisi Kamis 26 Oktober 1995 melaporkan korban tewas sebanyak 20 orang, 90 luka berat, dan 246 luka ringan. 

Menteri Perhubungan saat itu yang dijabat Haryanto Dhanutirto, menyangkal kemungkinan adanya human error (kesalahan manusia) sebagai penyebab kecelakaan tersebut. Kecelakaan tersebut lebih diakibatkan masalah teknis yakni tidak berjalannya sistem rem pada salah satu lok. 

Angkutan massa

Apapun penyebab rentetan kecelakaan kereta api itu, hal ini sudah menjadi pembelajaran bagi PT KAI untuk semakin memperdulikan keselamatan para penumpangnya. Terbukti dengan semakin berkurangnya kecelakaan yang terjadi dari tahun ke tahun. 

Sebagai angkutan massa dalam jumlah besar kereta api menjadi pilihan banyak masyarakat. Sudah selayaknya apapun kesalahannya di masa lalu bisa menjadi bahan untuk terus memperbaiki berbagai sistem, teknologi, atau hal yang terkait dengan kelancaran jalannya kereta. Begitupula dengan masyarakat, tertiblah dalam menggunakan kendaraan umum. Untuk menghindari kecelakaan taatlah pada peraturan penumpang perkeretaapian.*** 

Baca Juga

Simpang Gadog Mulai Padat

BOGOR, (PR).- Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, Jawa Barat menyatakan lalu lintas di Simpang Gadog mulai menunjukkan kepadatan dengan kendaraan melaju berkecepatan sekitar 30 kilometer per jam, Rabu 20 Juni 2018.

H-3 Lebaran, Angkutan Berat Nonpangan Dilarang Beroperasi

SUKABUMI, (PR).- Polres Sukabumi Kota, Jawa Barat melarang seluruh angkutan berat nonpangan melintas di wilayah hukumnya mulai tiga hari sebelum Idul Fitri sesuai dengan Surat Keputusan Dinas Perhubungan Provinsi Jabar.

Markas Koramil Dapat Digunakan Sebagai Tempat Istirahat Pemudik

GARUT, (PR).- Seluruh Markas Komando Distrik Militer di jalur lintas mudik di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dapat digunakan untuk tempat istirahat pemudik yang merasa kelelahan karena perjalanan ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran 20

Sukabumi Diguncang Gempa 4,2 Skala Richter

SUKABUMI, (PR).- Gempa bumi berkekuatan 4,2 skala richter (SR) mengguncang wilayah Sukabumi, Jawa Barat, namun tidak membuat panik masyarakat karena getarannya pelan.