Industri Rotan Tiongkok Siap Pindah ke Cirebon

ASWARTA (50) duduk menunggu calon pembeli mebel rotan di tokonya di Jln. Dr. Setiabudhi, Kota Bandung, Senin (16/9/2013). Harga bahan baku rotan naik untuk grade A dari Rp 25.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kgnya.*
Produk Rotan/USEP USMAN NASRULLOH/PR

SUMBER, (PR).- Pemerintah Indonesia dan Tiongkok tengah menjajaki kemungkinan pemindahan industri mebel rotan di Tiongkok ke Cirebon. Selama ini Cirebon dikenal sebagai sentra industri mebel rotan di Indonesia.

Dirjen Industri Agro Kementrian Perindustrian, Panggah Susanto, mengatakan bahwa di Kota Foshan Tiongkok terdapat sentra industri mebel rotan yang bahan bakunya diimpor dari Indonesia. Industri mebel rotan di Tiongkok tumbuh subur saat keran izin ekspor bahan baku rotan dari Indonesia dibuka. Bahkan, karena harga produk rotan dari Tiongkok yang lebih murah, menjadi saingan Indonesia.

Bersamaan dengan larangan ekspor bahan baku rotan dari Indonesia, investor Tiongkok sangat berminat untuk merelokasi pabrik mebel rotannya ke Indonesia.

"Pada 20 November 2017 mendatang, saya akan ke Tiongkok untuk membicarakan hal itu," kata Panggah seusai membuka pameran Cirebon International Furniture Expo (CIFEX) di Lapangan Desa Tegalwangi, Kabupaten Cirebon, Sabtu 21 Oktober 2017.

Pemilihan Cirebon 

Karena sentra industri rotan Indonesia ada di Cirebon, rencana relokasi ya ke Cirebon. Hanya saja, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar Cirebon bisa menjadi titik relokasi industri rotan dari Tiongkok.

Menurut Panggah, selain akan menambah kapasitas produksi mebel rotan dari Indonesia, relokasi juga membuka lapangan kerja bagi banyak orang.

"Mebel rotan kan industri padat karya. Yang pasti hal itu juga menyelamatkan sentra industri rotan di Indonesia," tukasnya. Selain itu, relokasi juga merupakan salah satu strategi menggaet investor Tiongkok.

Hanya saja, kata Panggah, sejumlah kendala masih harus diatasi, diantaranya belum memadainya industri yang mengolah bahan baku rotan menjadi bahan setengah jadi di daerah penghasil rotan.

Selain itu terminal atau gudang rotan sebagai lokasi menampung bahan baku rotan setengah jadi, juga belum ada di Cirebon.

Cirebon siap

Menurut Bupati Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra Kabupaten Cirebon, sebagai sentra industri rotan terbesar di dunia, Kabupaten Cirebon siap menjadi titik relokasi.

"Jangankan 200 hektare, 2.000 hektare juga kami siap. Karena berdasarkan Perda RTRW baru yang saat ini tengah digodok, kawasan industri di wilayah Kabupaten Cirebon bagian timur mencapai 10.000 hektare," katanya yang ditemui di lokasi yang sama.

Dikatakannya, untuk mewujudkan gagasan memiliki terminal atau gudang besar bahan baku rotan untuk menyuplai kebutuhan kawasan industri rotan, pihaknya sedang berupaya menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah penghasil bahan baku rotan.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Deni Agustine mengungkapkan, ekspo digelar sebagai bagian dari upaya mengukuhkan kembali eksistensi Kabupaten Cirebon sebagai sentra industri mebel rotan terbesar di dunia.

"Ekspo ini juga digelar untuk memanfaatkan pasar dalam negeri yang masih terbuka lebar," kata Sunjaya.

Potensi ekspor rotan Cirebon per tahun rata-rata 1.500 kontainer. "Sebagai sentra industri rotan terbesar di dunia, Cirebon pernah mencapai puncak kejayaan. Mudah-mudahan dengan segala kebijakan yang mendukung kebangkitan mebel rotan, termasuk rencana relokasi tersebut bisa kembali meningkatkan produksi mebel rotan Cirebon," katanya.***

Baca Juga