Angkutan Online Mulai Muncul di Kuningan, Tanggapan Ojek Konvensional Mengejutkan

Ilustrasi/REUTERS
Grab, salah satu angkutan berbasis aplikasi daring (online) yang mulai muncul di Kabupaten Sukabumi.*

KUNINGAN, (PR).- Dinas Perhubungan Kabupaten Kuningan meminta perusahaan penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi online menghentikan sementara perekrutan awak dan armada untuk layanan jasa tersebut di wilayah Kabupaten Kuningan.

Hal tersebut diutarakan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kuningan Deni Hamdani. Hal ini menyusul mulai bermunculannya ojek dan mobil angkutan online di Kabupaten Kuningan belakangan ini.

Berdasarkan penelusuran, Deni Hamdani menyebutkan, layanan angkutan online yang sudah aktif beroperasi di Kuningan, tergabung dalam aplikasi Grab (Grab Indonesia). Bahkan, salah satu penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi itu sudah membuka kantor cabangnya, bertempat di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

“Cabang Grab di Kuningan beralamat di Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur Kuningan itu sementara ini dibuka untuk pendaftaran. Menurut keterangan perwakilan Grab di Cigugur, sampai kemarin Kamis, Grab di Kuningan sudah merekrut ojek online sebanyak 268 dan mobil sebanyak 26 unit,” kata Deni Hamdani, di ruang kerjanya, Jumat, 20 Oktober 2017.

Dia tidak menampik bahwa kehadiran jasa transportasi berbasis aplikasi seiring kemajuan teknologi, sudah menjadi keniscayaan yang sulit dibendung. Terlebih ketika teknologi itu memberikan kemudahan bagi masyarakat.

“Terkait kehadiran jasa transportasi online di Kuningan, tentunya kami sikapi dengan cermat dan tepat, karena pengalaman di beberapa daerah luar Kuningan, kehadiran jasa transportasi online telah menimbulkan gesekan dengan angkutan konvensional,” katanya.

Menunggu regulasi

Untuk mengantisipasi itu, Deni Hamdani selaku Kepala Dishub Kabupaten Kuningan, menyebutkan telah meminta secara lisan kepada perwakilan Grab Indonesia di Kuningan menghentikan dulu perekrutan  pelaku layanan jasa transportasi online Grab di Kuningan. Selain itu, ujarnya, permintaan itu juga akan segera ditindaklanjuti dengan surat permintaan tertulis ditujukan kepada pihak perusahaan pengelola aplikasi tersebut.

“Kelanjutannya bagaimana, kita tunggu dulu setelah diberlakukannya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Angkutan Berbasis Aplikasi hasil revisi yang baru akan diberlakukan efektif mulai tanggal 1 November 2017. Di Kuningan akan dikaji dulu. Kita jangan lihat di Kuningan masih kondusif, tapi kita harus antisipatif jangan sampai di Kuningan terjadi kegaduhan juga,” katanya.

Tidak terganggu

Di tempat terpisah sejumlah pengemudi ojek di beberapa pangkalan kawasan perkotaan Kuningan, mengaku sudah mengetahui kehadiran angkutan online di Kuningan. Namun, sejauh ini mereka yang ditemui “PR” menyatakan tidak mempermasalahkan dan belum merasa terganggu kehadiran ojek online tersebut.

“Sementara ini menurut saya kehadiran ojek online di Kuningan belum mengganggu potensi penumpang ojek-ojek konvensional di pangkalan-pangkalan. Kalau ke depan masyarakat ternyata lebih banyak yang memilih ojek online, saya juga mungkin ikut juga daftar menjadi ojek online,” ujar Didi Setiadi (39).

Hal tersebut dibenarkan sejumlah pengemudi ojek konvensional lainnya di pangkalan ojek sekitar Taman Kota Cirendang, Kuningan. Ungkapan senada juga diungkapkan sejumlah pengemudi ojek di pangkalan ojek perempatan Purwawinangung-Sidapurna.***

Baca Juga