BMKG Pasang Alat Perekam Gempa di Kuningan

Ilustrasi/IVONI PUTRI

KUNINGAN, (PR).- Untuk menambah akurasi penentuan titik episenter kejadian gempa bumi di Indonesia, Badan Meteorolog Klimatologi dan Geofisika kini sedang memasang satu unit akselerometer di Kabupaten Kuningan. Alat perekam getaran sekaligus pengukur kekuatan gerak gempa bumi tersebut dipasang di ruangan Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Kuningan.

Dua orang teknisi pemasangan akselerometer dari BMKG, Adi dan Haris, kepada “PR” menyebutkan, alat serupa hingga saat ini sudah dipasang BMKG di 117 titik. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Lima unit di antaranya, di Jawa Barat termasuk satu unit yang sedang dipasang di BPBD Kuningan.

“Akselerometer BMKG di Jawa Barat yang telah terpasang dan aktif selama ini, ditempatkan di Bandung, Lembang, Tasikmalaya, dan Garut,” kata Haris, yang sedang mengawasi pembuatan alas untuk menempatkan alat tersebut di ruangan Pusdalpos PB, BPBD, Kuningan, Jumat 13 Oktober 2017.

Alat tersebut menurut mereka sangat peka merekam getaran permukaan bumi, baik akibat gempa bumi maupun getaran dari berbagai aktivitas di permukaan bumi. Bahkan getaran di muka bumi dari lalu lintas kendaraan dan  orang berjalan kaki di sekitar alat tersebut terpasang, akan turut terekam.

Setiap getaran permukaan bumi terekam ketika itu pula akan dipancarkan melalui perangkat radio paket pendukung masing-masing akselerometer ke kantor BMKG.   

“Data rekaman-rekaman seismik yang masuk ke BMKG dari setiap akselerometer, secara otomatis akan diolah melalui soft ware (perangkat lunak). Selain itu data-data itu kami olah juga secara manual  lalu hasilnya kami komparasikan dengan hasil olah data komputer. Dengan cara seperti itu lah, ketika ada kejadian gempa di wilayah Indonesia selama ini, BMKG bisa segera mengetahui titik episenter dan kekuatan gempanya,” kata Adi.

Titik episenter

Mereka menyebutkan pemasangan akselerometer di Kabupaten Kuningan itu, merupakan bagian dari penambahan jaringan deteksi gempa wilayah tengah ke utara Jawa Barat. “Semakin banyak akselerometer dipasang tersebar di wilayah Indonesia, maka titik episenter, kekuatan arah gerak getaran gempa dalam  setiap kejadian gempa bumi akan lebih mudah diketahui dan terukur lebih akurat,” kata Adi, seraya menyebutkan akselerometer terpasang di BPBD Kuningan itu pun, bisa turut merekam pula kejadian-kejadian gempa vulkanik di Gunung Ciremai.

“Alat ini sifatnya merekam getaran tanah dengan cakupan luas. Misalnya jika ada gempa vulkanik di Gunung Ciremai pun, bisa terdeteksi alat ini. Mau gempanya di Subang, Bandung, Majalengka, juga bisa terekam akselerometer ini,” kata Adi.

Sementara itu, khusus untuk memantau kegempaan dan aktivitas vulkanik Gunung Ciremai, selama ini gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu terus diawasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui seperangkat seismograf. Seismograf bekerja aktif 24 jam secara terus menerus itu dipasang di lereng utara Ciremai terintegrasi dengan pasangan perangkat pencatat hasil rekamannya di Pos Pengamatan Gunung Api Ciremai yang berada di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.***

Baca Juga

Wajah Baru Pesta Sedekah Bumi ala Winduherang

SEJAK pagi sekitar pukul 7.00 sepanjang lebih kurang 200 meter ruas jalan kabupaten di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, ditutup total.