Wajah Baru Pesta Sedekah Bumi ala Winduherang

Pesta Sedekah Bumi ala Winduherang/NURYAMAN/PR

SEJAK pagi sekitar pukul 7.00 sepanjang lebih kurang 200 meter ruas jalan kabupaten di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, ditutup total. Hamparan terpal plastik kemudian terhampar di bagian ruas jalan penghubung Kuningan kota dengan Kecamatan Cigugur itu.

Tak lama kemudian ratusan warga, sebagian di antaranya ibu-ibu rumah tangga secara berangsur berdatangan. Mereka duduk membentuk beberapa barisan memanjang di jalan beralaskan terpal tersebut. 
Sebagian di antaranya datang dengan membawa nasi tumpeng, dan sejumlah wadah berisi lauk-pauk, serta aneka masakan sederhana lainnya. Makanan disimpan tersebar di hadapan barisan ratusan warga.

Menginjak sekitar pukul 8.30, ratusan warga laki-laki perempuan berbagai usia dalam barisan itu, diarahkan untuk tidak beranjak dan diminta duduk tertib menyimak serangkaian acara. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, dzikir dan solawat nabi, pembacaan sejarah singkat Winduherang, sambutan dari Kepala Kelurahan Winduherang Aminudin, dilanjut sambutan Bupati Kuningan Acep Purnama, dan ditutup dengan do’a bersama dipimpin pemuka agama Islam dari atas panggung kecil di jalan tersebut.

Setelah itu, dengan komando tokoh masyarakat di panggung acara itu, ratusan masyarakat itu beramai-ramai mengambil nasi tumpeng dan lauk pauknya, makan bersama duduk beralaskan terpal di ruas jalan. Bahkan Bupati Kuningan Acep Purnama, bersama kepala kelurahan, serta sejumlah tokoh masyarakat Winduherang pun, tak ketinggalan turut mengambil dan menikmati hidangan nasi tumpeng bersama-sama dengan masyarakat di tengah acara itu.

Kepala Kelurahan Winduherang Aminudin dan salah satu tokoh masyarakat setempat Dodoy Hadori, dibenarkan warganya menyebutkan, acara seperti itu baru pertama kali di lakukan di Winduherang.

“Ini merupakan acara sedekah bumi, sekaligus peringatan hari jadi Winduherang dan menyambut tahun baru Hijriyah,” tutur Abu Suheri (52) dibenarkan pula sejumlah warga Kelurahan Winduherang lainnya yang sedang mengikuti acara itu.

Namun, menurut mereka syukuran sedekah bumi dan peringatan hari jadi Winduherang, sebetulnya sudah menjadi tradisi tahunan masyarakat di Winduherang sejak ratusan tahun silam. Hanya bentuk dan prosesi acaranya, dalam kurun waktu puluhan tahun belakangan diubah-ubah mengikuti perubahan jaman dan dinamika di masyarakat.

Dulunya, menurut mereka, acara tadisi syukuran sedekah bumi dan peringatan hari jadi Winduherang, sejak Winduherang baru berupa pedukuhan, hingga menjadi desa, dan kelurahan, dilaksanakan melalui acara babarit disertai golewang. Berupa pergelaran seni tayuban diwarnai ritual masyarakat menghantarkan dan makan bersama di persawahan dekat titik sumber mata air sebelah barat permukiman warga tersebut.

Perubahan zaman

Seiring perkembangan zaman dan perubahan dinamika masyarakatnya, belasan tahun lalu babarit dan golewang dihentikan. Tradisi tersebut digantikan dengan acara syukuran serta berdo’a bersama di masjid kelurahan itu.

“Jadi ,sebetulnya tradisi tahunan syukuran sedekah bumi dan peringatan hari jadi Winduherang dari dulu hingga sekarang belum pernah absen digelar masyarakat dan pemerintah di kelurahan ini. Dan, atas kesepakatan masyarakat dengan pemerintah kelurahan ini, bentuk acara tradisi itu mulai sekarang diubah dalam bentuk rangakaian acara seperti ini,” kata Lurah Winduherang Aminudin, yang juga warga dan kelahiran Winduherang itu.

Aminudin dan Dodoy Hadori menyebutkan usia Kelurahan Winduherang menurut cerita turun-temurun tokoh masyarakat dan buku sejarah Dukuh Winduherang, terhitung pada bulan Muharam 1439 Hijriyah ini sudah mencapai 536 tahun. Lebih tua dari usia pemerintahan Kabupaten Kuningan yang pada September ini baru menginjak usia 519 tahun.

“Titik tonggak hari jadi Winduherang diambil dari awal masuknya ajaran agama Islam ke Dukuh Wnduherang 536 tahun silam, sebelum ada nama daerah bernama Kuningan,” kata Dodoy Hadori, seraya menambahkan tradisi sedekah bumi dan syukuran hari jadi Winduherang seperti digelar Kamis, 29 September 2017 telah disepakati akan dijadikan agenda rutin tahunan.***

Baca Juga

PEKERJA menunkan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram yang kosong di salah satu agen gas "Subur Abadi" Jln. Emong, Kota Bandung, Rabu (27/9/12). Rencana PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas elpiji ukuran 12 kilogram (kg) atau nonsubsidi untuk mengura

Elpiji Bersubsidi Haram untuk ASN

KUNINGAN, (PR).- Pengusaha pangkalan elpiji 3 kg di Kabupaten Kuningan diingatkan untuk tidak lagi menjual elpiji bersubsidi kepada aparatur sipil negara (ASN).

Bus Luragung Jaya Jatuh Terbalik di Cirahayu

KUNINGAN, (PR).- Bus Luragung Jaya bernomor polisi E 7791 YA jatuh terbalik di lembah di ruas jalan raya di Desa Cirahayu, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, Kamis 26 Oktober 2017 malam sekitar pukul 23.00 WIB. 

Kuningan Godok Perda Kabupaten Konservasi

KUNINGAN, (PR).- Kuningan sebagai kabupaten konservasi akan lebih dikukuhkan pemerintah daerah setempat dengan payung hukum berupa peraturan daerah.