Dedi Mulyadi: Radikalisme dan Intoleransi Menjamur Lewat Media Sosial

Penandatanganan Deklarasi/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR
BUPATI Purwakarta Dedi Mulyadi saat menandatangani deklarasi anti radikalisme dan intoleran di Bale Maya Datar Komplek Pemkab Purwakarta pada Kamis 14 September 2017.*

PURWAKARTA, (PR).- ‎Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengungkapkan beberapa penyebab munculnya paham radikalisme dan intoleransi. Seperti diketahui paham tersebut, hari ini menjamur melalui berbagai media terutama media sosial. Melalui instrumen tersebut paham itu tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat luas. 

Hal ini dia sampaikan di tengah Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Kewaspadaan Nasional. Acara ini digelar pada Kamis 14 September 2017 di Bale Maya Datar, Kompleks Sekretariat Daerah Purwakarta. 

Dedi menenggarai, kondisi ini terjadi karena sikap kurang waspada yang ditunjukan oleh sebagian warga bangsa Indonesia. Akibatnya, hari ini seluruh warga bangsa kesulitan untuk menangkal berbagai paham yang merusak tatanan kehidupan kebangsaan tersebut. 

"Kita harus bersatu untuk meng-counter (menangkal-red) itu semua agar bangsa ini tidak terjebak ke dalam konflik dan sengketa paham," ujarnya, Kamis, 14 September 2017.

Selain sikap kurang waspada, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya kebudayaan bangsa sendiri sebagai penyebab utama. Masyarakat Indonesia yang terkenal ‘guyub’ kini lebih bersikap individualis. 

"Kita jujur sajalah, kemunculan paham tersebut bukan hanya datang dari luar, tetapi bibitnya karena sikap individualitis yang kita miliki. Akibatnya, saat menerima informasi, kita tidak ber-tabayyun dulu, langsung saja kita konsumsi informasi yang beredar itu," katanya.

Dedi mencontohkan, kultur masyarakat pedesaan yang hari ini mulai tercerabut dari akarnya. Tokoh masyarakat di desa yang biasanya menjadi rujukan berbagai informasi yang beredar, kini mulai ditinggalkan. Hal ini karena masyarakat desa sudah mulai beralih menggunakan media sosial. 

"Paham-paham yang tidak sesuai dengan kultur, dulu masih bisa di-filter oleh para tokoh di desa. Sosok mereka mampu menggerakan masyarakat untuk bergotong-royong dan berswadaya, kini itu sulit kita temukan," ujarnya.

Penguatan kultur budaya timur

Dedi pun menyerukan penguatan kultur budaya ketimuran untuk menangkal perkembangan paham radikalisme dan intoleransi. Kultur ini menurutnya, harus bertransformasi menjadi perilaku dalam kehidupan warga masyarakat sehari-hari. 

"Kalau tidak ingin paham ini tumbuh subur, maka jati diri kultur kita harus diperkuat. Jangan mengubah kebudayaan Indonesia, kita Indonesia dan seterusnya akan tetap menjadi Indonesia," ujarnya.

Dalam Forum ini pun turut digelar Deklarasi Anti Intoleransi dan Radikalisme oleh sejumlah masyarakat Purwakarta. Deklarasi ini ditandatangani oleh perwakilan organisasi masyarakat dan komunitas. 

Usai deklarasi, Forum ini berkembang menjadi diskusi dengan menghadirkan narasumber, diantaranya, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jimly AshShiddiqie, Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Arief P Moekiyat, Kepala Kesbangpol Jabar Ruddy Gandakusumah dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.***

Baca Juga

Habib Luthfi Terkesan dengan Budaya Purwakarta

PURWAKARTA, (PR).- Ra'is Am Jamiyah Ahlu Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdiyah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, merasa  senang dan bahagia bisa berkunjung ke Kabupaten Purwakarta.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama: Dedi Mulyadi Tidak Musyrik

PURWAKARTA, (PR).- Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama DKI Jakarta Kiai Ahmad Syafi’i Mufid mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Purwakarta yang memasukan program pendalaman kitab kuning ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah umum