Kapal Miliaran Ini Masih Dibuat Secara Tradisional

Menarik kapal/GELAR GANDARASA/PR
WARGA beramai-ramai menarik kapal seukuran rumah ke muara Karangsong, Indramayu, beberapa waktu lalu. Kapal tradisional tersebut ditarik dengan bantuan bantalan pohon pisang.*

Denyut aktivitas di Karangsong, Kabupaten Indramayu hari demi hari berjalan sebagaimana mestinya. Di pusat perikanan Indramayu tersebut para pengepul ikan dan warga ramai melakukan transaksi.

Sementara itu, sebagian warga Karangsong lainnya juga tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Karangsong memang merupakan salah satu sentra produsen ikan di Indramayu. Namun bukan hanya itu, Karangsong pun dikenal sebagai wilayah pembuat kapal nelayan di Indramayu. 

Sentra produksi kapal itu terletak di pinggir jalan menuju Karangsong. Kapal seukuran rumah terparkir rapi di sisi muara. Tak heran, bagi yang baru melihatnya merupakan suatu keunikan tersendiri. Siapa sangka kapal bertonase besar tersebut merupakan produk buatan warga setempat. 

Para pengrajin kapal di Karangasong biasanya menerima pesanan dari juragan kapal setempat. Untuk itu, kapal akan dibuat jika ada pesanan dari juragan kapal. Salah seorang juragan kapal Hariri mengatakan, untuk memesan satu kapal dirinya harus mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah. "Sekitar lebih dari dua miliar," kata dia. 

Jumlah tersebut tidaklah dibayarkan secara langsung. Melainkan dibayar secara mencicil bertahap sejalan dengan proses pembuatan kapal. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu kapal tergolong lama. Kapal berukuran sekitar 90 GT miliknya tersebut akan rampung dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Sementara itu, kayu yang digunakan yakni kayu merbau. Kayu tersebut dipilih karena memiliki diameter yang cukup lebar untuk disusun sebagai badan kapal. 

Lamanya proses pembuatan mengingat besarnya ukuran kapal. Selain itu, warga pun masih menggunakan cara tradisional dalam mengolah kayu-kayu bahan kapal. Tak ada alat modern atau alat berat canggih lainnya. "Dikerjakan oleh 15 orang," ujarnya. Rencananya kapal akan digunakan untuk mencari ikan ke perairan Kalimantan hingga Papua. 

SEJUMLAH tukang tengah membuat kapal 50 gross ton di pinggir Sungai Karangsong, Desa Karangsong, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Minggu (3/5/2015). Permintaan pembuatan kapal di atas 50 GT meningkat pada 2015 ini.*

Cara tradisional

Calim pengrajin kapal setempat mengatakan, para pengrajin hanya berperan membuatkan kapal saja. Semua bahan baku dan permodalan lainnya akan disediakan oleh para juragan kapal. Biasanya para juragan sudah memiliki langganan pengrajin masing-masing untuk merancang kapal mereka. "Dapat keahlian turun temurun dari orang tua," tuturnya. 

Ia menambahkan, lama pengerjaan tergantung dari banyaknya pekerja yang dikerahkan. Semakin banyak pekerja maka semakin cepat pula kapal akan rampung. Keahlian membuat kapal didapat Calim secara turun temurun dari bapaknya. Keahlian tersebutlah yang kini menjadi andalan dalam menghidupi keluarganya. 

Ditarik dengan bantuan pohon pisang

Nantinya jika kapal sudah rampung maka kapal akan segera dilepas ke muara. Warga setempat masih menggunakan cara manual dalam menarik kapal yakni dengan menariknya secara berbondong-bondong tanpa menggunakan mesin. Kapal hanya akan disangga saja dengan menggunakan batang pohon pisang . Tak heran, untuk bisa meloloskan kapal ke muara dibutuhkan waktu hingga berjam-jam lamanya.***

 

 

 

Baca Juga

Motivasi Petani, HKTI Gelar Syukur Panen di Indramayu

BANDUNG, (PR).- Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), menerima kunjungan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko, di Ruang Kerja Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate Bandung, Senin 6 November 2017.

Cirebon Kaji Kebijakan Sekolah Wajib Pakai Mebel Rotan

SUMBER, (PR).- Pemerintah Kabupaten Cirebon sedang mengkaji kemungkinan menerapkan kebijakan mewajibkan penggunaan mebel rotan di sekolah negeri,  baik untuk kegiatan belajar mengajar di kelas, maupun ruang lainnya.