Jawa Barat Endemik Antraks, Hewan Kurban Diawasi Ketat

Pemeriksaan hewan kurban/ASEP BUDIMAN/PR
PETUGAS pemeriksa kesehatan hewan kurban dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat, drh Umar Nurzaini Muhrom, memeriksa sapi potong yang dijual di Jalan Sutami Kota Bandung, Selasa 22 Agustus 2017.*

BANDUNG, (PR).- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Dewi Sartika menyatakan Jawa Barat masih berstatus sebagai daerah endemik antraks. Kasus positif antraks pada hewan, terakhir ditemukan pada 2008 di Kabupaten Bogor. Sampai dengan saat ini tidak pernah ditemukan lagi kasus positif antraks pada hewan. 

"Namun, ancaman munculnya penyakit ini tetap ada. Karena dengan meningkatnya lalu lintas dan banyaknya kumpulan ternak di satu lokasi akan membawa risiko munculnya penyakit hewan menular termasuk antraks," ujarnya,  seusai pelepasan simbolis tim pemeriksa kesehatan hewan kurban di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa, 22 Agustus 2017.

Untuk menjamin daging yang beredar memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal, pihaknya menyebar 800 petugas pemeriksa kesehatan hewan kurban pada setiap kabupaten dan kota. Penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan hewan dan daging kurban adalah untuk pencegahan penularan penyakit zoonosis dan menciptakan jaminan keamanan pangan bagi masyarakat Jawa Barat yang menerima daging kurban. 

Kepala Balai Pelayanan Veteriner DKPP Endang Purwiyanti melalui Kasi Pengujian Produk Hewan, Umar Nurzaini Muhrom, menambahkan, sebagian besar hewan kurban yang memasuki Jabar melalui Subunit Pelayanan Pos Pemeriksaan Hewan Losari Kabupaten Cirebon. Lonjakan lalu lintas hewan kurban terlihat dari permintaan sapi potong dari Januari 2017 yang hanya 3.507 ekor, terus meningkat mencapai 20.246 ekor hingga Juli 2017 dengan total 53.441 ekor.

Secara umum, lalu lintas hewan mulai Januari sampai dengan Agustus 2017 yang melintasi Losari sebanyak 59.900 ekor ternak besar serta 95.408 ekor ternak kecil dan babi. Melalui Banjar, 13.646 ekor ternak besar serta 40.821 ekor ternak kecil dan babi. Sementara melalui Gunungsindur sebanyak 369 ekor ternak besar serta 1.059 ekor ternak kecil dan babi.

(DKPP) Jawa Barat mengantisipasi penyakit yang menjangkiti hewan ternak dengan pemeriksaan di tiga jalur lalu lintas ternak. Pasalnya, lalu lintas ternak menjelang Iduladha selalu mengalami lonjakan dari bulan biasanya.

Kebutuhan lebih tinggi

Dia mengatakan, kewajiban berkurban menyebabkan kebutuhan atau permintaan hewan kurban lebih tinggi menjelang dan pada saat lduladha. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya arus lalu lintas hewan, seperti sapi, domba, dan kambing kurban relatif banyak didatangkan dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

"Artinya ada pergerakan atau lalu lintas hewan kurban dari arah timur ke arah barat," kata Dewi.

Karena banyaknya permintaan dari Jabar, kata Dewi, pihaknya mengintensifkan pengecekan pada tiga check point, yaitu Subunit Pelayanan Pos Pemeriksaan Hewan Losari Kabupaten Cirebon, Subunit Pelayanan Pos Pemeriksaan Hewan Banjar Kota Banjar, dan Subunit Pelayanan Pos Pemeriksaan Hewan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Jika dalam pemeriksaan tersebut, hewan ternak yang tidak disertai surat keterangan sehat dari daerah asal, mereka dilarang masuk Jabar.

"Banyaknya permintaan, dilakukan cek poin di Sindur dan Losari. Jika tidak ada surat keterangan sehat dari Jateng atau Jatim tidak boleh melintas," ucapnya.

Pemeriksaan dilaksanakan oleh SU Pos Pemeriksaan Hewan Losari dan SUPPH Banjar yang berbatasan dengan Jawa Tengah dan SUPPH Gunung Sindur Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Banten. Urutan pemeriksaan di pos pemeriksaan hewan meliputi penelitian SKKH dari daerah asal, pemeriksaan fisik dan klinis, tindakan penyemprotan desinfektan, pemberian SKHPKH (Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Hewan), dan isolasi serta pengobatan terhadap hewan/ternak yang berdasarkan hasil pemeriksaan diduga sakit atau mengidap suatu penyakit. ***

 

Baca Juga