Warkina, Pemuda Pelopor Jabar dari Cirebon

Warkina/ANI NUNUNG/PR
WARKINA saat menerima penghargaan dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sebagai Pelopor Pemberdayaan Masyarakat bidang pendidikan tingkat Jabar, bertepatan dengan HUT ke-72 Provinsi Jabar, Sabtu 19 Agustus 2017.*

SUMBER, (PR).- Warkina (38), baru saja mendapat hadiah Rp 50 juta sebagai juara Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pendidikan tingkat Jawa Barat. Penghargaan itu diberikan bertepatan dengan HUT ke-72 Provinsi Jabar, Sabtu 19 Agustus 2017. Namun, penghargaan itu tak membuatnya jemawa. Ia masih seperti yang dulu, guru honorer bahasa Indonesia yang rendah hati.

Warkina sudah 18 tahun mengabdi sebagai guru honorer Bahasa Indonesia. Penghargaan itu semakin menabalkan semangatnya untuk terus berjuang. Selama itu, guru honor SMPN 2 Suranenggala, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon itu berjuang tanpa lelah dan pamrih. Ia berjuang untuk meningkatkan minat baca warga sekitarnya yang sangat rendah.

"Kondisi itu membuat saya merasa sangat prihatin. Harus ada yang saya lakukan untuk mengubah kondisi itu," kata Warkina, Minggu 20 Agustus 2017.

Selama ini, ia hanya mendapat honor Rp 400.000 per bulan. Di tengah keterbatasan itu, Warkina malah sibuk memikirkan strategi dan cara agar masyarakat sekitarnya gemar membaca. Bapak satu anak ini berkeyakinan, dengan buku, pengetahuan, ilmu, dan wawasan masyarakat bisa terbuka dan bertambah luas.

"Ada banyak ilmu yang bisa diperoleh dari buku. Buku juga mampu mengubah pola pikir kita. Bahkan dari buku, bisa mengubah peradaban," katanya yakin.

Warkina kemudian memulainya pada 2009. Di rumahnya, dia mulai membuka perpustakaan dan menyediakan buku-buku pribadinya untuk dibaca oleh para tetangganya. Awalnya, ajakan Warkina untuk membaca di rumahnya tidak dilirik. Selain dinilai sebagai kegiatan membuang waktu, membaca juga dianggap sia-sia karena tidak menghasilkan uang. Meski perpustakaan di rumahnya dianggap tidak ada, Warkina tetap setia memajang buku-bukunya agar bisa dibaca tetangganya. Lama kelamaan, para tetangganya tertarik untuk membaca buku-bukunya.

Pada 2011, ayah satu anak itu semakin memantapkan tekadnya untuk membuat Gerakan Sadar Membaca. Tak hanya membuka perpustakaan atau Layanan Masyarakat Baca "Pado Maco" di rumahnya, dia juga menerapkan sistem jemput bola. Tanpa kenal lelah, seusai mengajar, dia berkeliling desa dan mendatangi tempat-tempat keramaian seperti pasar malam, untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. 

Perpustakaan mobil tua 

Agar bisa membawa lebih banyak buku, Warkina kembali harus mengorbankan keinginannya untuk memiliki rumah. Dengan uang Rp 12 juta, hasil penjualan tabungan perhiasan milik istrinya ia membeli mobil tua. Mobil itu betul-betul difungsikan sebagai perpustakaan, bukan untuk keperluan pribadinya maupun keluarganya, karena Warkina menyulap mobil tuanya menjadi perpustakaan keliling.

Untuk membiayai operasional perpustakaan keliling dan membeli buku-buku baru, Warkina juga mencari pekerjaan sampingan. Dari hanya beberapa buah buku koleksi pribadi, saat ini Warkina memiliki koleksi buku sekitar 700 buah untuk perpustakaannya. Sayang, dari jumah buku yang dimilikinya itu, dia masih kekurangan buku untuk anak-anak.

"Alhamdulillah saya kemudian mendapat sumbangan buku dari para donatur," tutur Warkina. Selain menyediakan buku bacaan secara gratis, Warkina juga membuka pendidikan anak usia dini (PAUD) dan pengajaran membaca bagi ibu-ibu buta huruf. 

Khusus untuk kelas bagi ibu-ibu buta huruf itu, tempatnya di rumah ibunya yang juga masih di Desa Suranenggala. Dia mengajari ibu-ibu itu untuk membaca. Saat ini, jumlah ibu-ibu yang menjadi muridnya sudah sekitar 120 orang.

Perjuangan Warkina pun mendapat sambutan yang positif, baik dari masyarakat maupun pemerintah desa dan kecamatan. Saat ini, dia juga dibantu sejumlah relawan yang membantu kegiatannya. Warkina juga didatangi pemuda putus sekolah yang berharap bisa melanjutkan pendidikan mereka. Akhirnya, Warkina mendirikan program Paket A, B, dan C di Desa Surakarta.

Tak hanya di bidang pendidikan, Warkina juga berusaha menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada siapapun. Salah satunya dengan meminta orangtua siswa di PAUD-nya untuk membayar sekolah dengan sampah dari rumah warga. Sekarang, kegiatan yang semula hanya dilakukan di desanya, bahkan sudah meluas hingga ke sembilan desa lainnya. Dia pun tak pernah berhenti mengorbankan segala miliknya. 

Sampai saat ini, Warkina masih tinggal menumpang di rumah mertuanya agar gerakan itu tak berhenti karena kekurangan dana. Rasanya tak ada kata yang pas untuk menggambarkan perjuangan dan pengorbanan Warkina, untuk menyadarkan masyarakat sekitarnya akan arti penting membaca.***

Baca Juga

Cirebon Kaji Kebijakan Sekolah Wajib Pakai Mebel Rotan

SUMBER, (PR).- Pemerintah Kabupaten Cirebon sedang mengkaji kemungkinan menerapkan kebijakan mewajibkan penggunaan mebel rotan di sekolah negeri,  baik untuk kegiatan belajar mengajar di kelas, maupun ruang lainnya.

ASWARTA (50) duduk menunggu calon pembeli mebel rotan di tokonya di Jln. Dr. Setiabudhi, Kota Bandung, Senin (16/9/2013). Harga bahan baku rotan naik untuk grade A dari Rp 25.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kgnya.*

Industri Rotan Tiongkok Siap Pindah ke Cirebon

SUMBER, (PR).- Pemerintah Indonesia dan Tiongkok tengah menjajaki kemungkinan pemindahan industri mebel rotan di Tiongkok ke Cirebon. Selama ini Cirebon dikenal sebagai sentra industri mebel rotan di Indonesia.