Terowongan Tol Cisumdawu Sepanjang 472 Meter Mulai Ditembus

Terowongan Cisumdawu/ADANG JUKARDI/PR
SEJUMLAH pekerja sedang membuat kontruksi rangka baja terowongan dalam pembangunan terowongan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) di daerah Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Kamis 17 Agustus 2017.*

SUMEDANG, (PR).- Pembangunan terowongan di ruas jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan), terus dikebut. Terowongan yang sedang dibangun berada di ruas Cileunyi menuju Sumedang. Panjang terowongan 472 meter dengan diameter 14 meter. Saat ini, terowongan baru diterobos 40 meter.

"Pembangunan terowongan di Tol Cisumdawu ini jadi terowongan dalam tol pertama di Indonesia. Ini menjadi kebanggaan tim kami untuk mengerjakannya. Pengerjaannya mulai Desember 2016 lalu. Kami terus melakukan percepatan pembangunan Tol Cisumdawu ini," tutur Wida Nurfaida. Ia adalah Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu. Ia ditemui di lokasi proyek pembangunan Terowongan Tol Cisumdawu di daerah Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang.

Menurut Wida, lokasi pembangunan terowongannya berada di Seksi II Rancakalong-Sumedang, Fase I dan 2 Sta.12+628-13+100, tepatnya di daerah Cigendel, Kecamatan Pamulihan. Terowongan yang sedang dibangun, untuk akses kendaraan dari arah Cileunyi ke Sumedang dengan dua lajur. Lebar badan jalannya 11 meter. Sementara ketinggian bukit dari permukaan jalan mencapai 40 meter. "Mudah-mudahan, Lebaran nanti, terowongannya sudah bisa tembus sepanjang 472 meter," ujar Wida.

Ia mengatakan, pengerjaan terowongan kedua untuk akses kendaraan dari arah sebaliknya yakni dari Sumedang ke Cileunyi, prosesnya hingga masih masih menunggu proses pembebasan lahan. Di lokasi tersebut, masih ada lahan warga seluas 1 hektare yang belum dibebaskan. Kondisi lahan warga itu, berupa permukiman penduduk. "Awal September 2017 ini, ditargetkan pembebasan lahannya selesai," katanya.

Batu besar di terowongan

Konstruksi terowongannya, lanjut Wida, disesuaikan dengan kondisi tanah. Berdasarkan hasil penelitian tim ahli geologi, kondisi tanah di lokasi terowongan secara umum aman dari patahan dan tanahnya stabil. Hanya saja, dalam pengerjaannya harus ekstrahati-hati, karena di dalam tanahnya terdapat batu bolder (batu besar). Selama pengerjaan, sudah ditemukan satu buah batu bolder. Beruntung, posisinya berada di bawah lapisan permukaan jalan. Namun, ada permukaan batu bolder yang menonjol ke luar sehingga langsung dipotong.

"Batu bolder ini salah satu hambatan kami dalam proses pembangunan terowongan. Di dalam tanahnya, kemungkinan masih ada batu bolder. Mudah-mudahan, posisinya tidak di atas atau di samping terowongan. Kalau pun masih ada bolder yang menghambat pengerjaan, penanganannya bisa di-breaker (dipotong)," ucapnya.

Hambatan lainnya, kondisi tanahnya berair. Meski demikian, sebelum membuat lubang terowongan, terlebih dahulu dilakukan pengeboran sedalam 3 meter untuk mengecek kondisi tanah di dalamnya. Oleh karena itu, dalam pengerjaannya selalu didampingi petugas geologi. "Konstruksi terowongan ini disesuaikan dengan kondisi tanahnya," katanya.

Terowongan biaya tinggi

Pembangunan terowongan di jalan tol, dinilai lebih ramah lingkungan ketimbang membuat jalan di atas permukaan tanah. Selain tidak ada pengerjaan membelah bukit dan mengikis tebing, juga tidak merusak ekosistem makhluk hidup yang ada. Tidak ada penebangan pohon.

Meski demikian, risiko membuat terowongan biayanya lebih besar. Untuk membangun terowongan tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp 700 miliar. "Terowongan ini nantinya akan dilengkapi ventilasi udara melalui pemasangan blower, penerangan jalan, dan drainase," ucapnya.

Wida tak memungkiri, pembangunan terowongan di jalan Tol Cisumdawu, rencana awal akan dibangun dua unit di dua lokasi berbeda. Panjang terowongannya pun, masing-masing 1 kilometer. Akan tetapi, karena keterbatasan anggaran, sehingga pembangunan terowongannya hanya satu unit. Dari satu unit itu pun, panjang terowongannya dikurangi menjadi 472 meter.***

Baca Juga

Krisis Air, Warga Mengais Genangan Air Sungai Cihonje

SUMEDANG, (PR).- Warga Dusun Sembir, Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, mengalami krisis air imbas musim kemarau. Sudah dua bulan ini, mereka kesulitan mendapatkan air bersih.

Sumedang Siap Gelar FKN, Jika Cisumdawu Beroperasi

SUMEDANG, (PR).-Kabupaten Sumedang bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan FKN (Festival Keraton Nusantara),  apabila projek pembangunan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) sudah kelar dan dioperasionalkan.

26.000 Warga Sumedang Belum Miliki e-KTP

SUMEDANG, (PR).- Jumlah penduduk di Kabupaten Sumedang yang sudah memiliki e-KTP (KTP elektronik), hingga pertengahan Agustus 2017 sudah mencapai sekitar 92% dari wajib KTP sebanyak 860.000 jiwa.

toren BPBD sumedang krisis air.JPG

Pemkab Sumedang Tetapkan Siaga Bencana Kekeringan

SUMEDANG, (PR).-Meski belum ada laporan masyarakat yang mengalami krisis air bersih imbas kemarau saat ini, Pemkab Sumedang sudah menetapkan status siaga bencana kekeringan.