5 Warga Binaan Lapas Tasikmalaya Bebas di HUT ke-72 RI

Ilustrasi/MUHAMMAD ADNAN HARADE

KURNIAWAN (45) hanya dapat berucap syukur karena tepat pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Republik Indonesia ini, ia dapat meninggalkan jeruji Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Tasikmalaya, Kamis, 17 Agustus 2017. 
Terpidana kasus penggelapan mobil perusahaan ini mengaku bahagia karena bisa menghirup udara bebas dan meninggalkan pengapnya ruang tahanan di Lapas yang sudah ia tempati sejak 5 tahun lalu. 

Sejak tercatat sebagai warga binaan Lapas Kelas II A Tasikmalaya, Kurniawan memang cukup berperangai baik. Kurniawan dengan telaten menjalani masa hukumannya tanpa berbuat kegaduhan. Akhirnya masa itu pun tiba. Kurniawan akhirnya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya setelah mendapatkan remisi khusus kemerdekaan sebanyak 3 bulan. 

"Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Saya sangat bersyukur bisa mendapat remisi dan bisa keluar lebih cepat dari vonis yang ditentukan," ucap Kurniawan. 

Selama dalam penjara, Kurniawan banyak mendapatkan pengalaman berharga yang bisa ia terapkan dalam kehidupannya nanti kelak. Berbagai ketrampilan yang diajarkan di Lapas Tasikmalaya sudah ia kuasai. Kurniawan pun siap memantapkan diri untuk kembali bekerja demi keluarganya. 

"Saya ingin bekerja kembali, ingin menebus semua kesalahan saya masa lalu," kata Kurniawan. 

Selain Kurniawan, pada HUT RI ke 72 kali ini, sebanyak empat warga binaan Lapas Kelas II A Tasikmalaya juga dinyatakan bebas.  Mereka di antaranya Enuh (remisi umum 1 bulan), Iin Solohin (remisi 1 bulan), Agus Triana (remisi 2 bulan), dan Adit (remisi dua bulan). 

Sementara itu, sebanyak 121 warga binaan Lapas Kelas IIA Tasikmalaya juga mendapatkan remisi dengan jangka waktu bervariasi mulai dari 1 hingga 5 bulan. 

"Ada sekitar 163 yang kami ajukan untuk dapat remisi, namun hanya 121 yang bisa mendapatkan remisi, paling banyak potongan remisi 1 bulan 51 orang, yang remisi 5 bulan juga ada dua orang," ucap Kepala Lapas Kelas II A Tasikmalaya Julianto Budhi Prasetya seusai upacara penyerahan remisi HUT RI ke 72 di Lapas Kelas II Tasikmalaya, Kamis, 17 Agustus 2017.

Julianto memastikan para warga binaan yang mendapatkan remisi merupakan warga binaan yang taat menjalani masa hukuman. Lapas Kelas II A Tasikmalaya juga sudah membekali para narapidana dengan pembinaan mental dan rohani agar saat mereka keluar dari penjara nanti tidak lagi melakukan tindakan kriminal. 

"Kami bangkitkan motivasi mereka dengan memberikan pembinaan mental dan rohani. Dua hal itu penting, karena jika mental dan rohani mereka kuat, saya optimistis mereka tidak akan lagi kembali untuk berbuat jahat," kata Julianto. 

Selain penguatan mental, Lapas Kelas II A Tasikmalaya juga membangkitkan sisi kemandirian para warga binaan melalui berbagai ketrampilan. Pembuatan kerajinan khas Tasikmalaya dipilih sebagai upaya agar warga binaan Lapas Tasikmalaya bisa mengembangkan potensi kerajinan produk Tasikmalaya selepas dari masa pembinaan. 

"Jangan salah, produk buatan mereka itu enggak kalah sama di pasaran. Cuma ya itu, kami kesulitan memasarkannya karena banyak pihak yang enggan menggunakan produk napi," ucap Julianto. 

Terlepas dari pemberian remisi, Julianto mengaku masih memiliki banyak pekerjaan rumah terkait pembinaan warga lapas. Salah satunya pembinaan bagi para terpidana kasus narkoba. Julianto tidak memungkiri jika selama ini peredaran narkoba di dalam lapas masih terjadi. Saat ini Lapas Tasikmalaya dihuni oleh kurang lebih 76 napi kasus narkoba. Tidak menutup kemungkinan mereka masih menjalankan aksinya meskipun di balik jeruji besi. 

"Kami berupaya untuk menekan hal itu, walaupun sulit harus dilakukan. Langka utamanya ya zero handphone karena melalui ponsel ini, mereka melakukan transaksi," kata Julianto.***

Baca Juga