Ratusan Siswa dan Guru Madrasah Unjuk Rasa Tolak Full Day School

Tolak Full Day School/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
RATUSAN siswa, guru, dan anggota Ormas NU berunjuk rasa menolak Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang Full Day School di Kantor NU Kota Tasikmalaya, Sabtu, 12 Agustus 2017. Mereka berharap pemerintah mencabut kebijakan Full Day School karena mengancam keberadaan madrasah.*

TASIKMALAYA,(PR).- Ratusan siswa, guru madrasah, dan anggota Organisasi Masyarakat Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor NU Kota Tasikmalaya, Jalan dr. Soekardjo, Kota Tasikmalaya, Sabtu, 12 Agustus 2017.  Mereka berunjuk rasa untuk menolak Peraturan Pemerintah Pendidikan dan Kebudayaan nomor 27 tahun 2017 tentang sekolah sehari penuh atau full day school.

Dari pantauan "PR", unjuk rasa berlangsung sejak pukul 09.00. Para siswa membawa belasan spanduk dan berjajar di Jalan dr Soekardjo. Sementara beberapa perwakilan dari NU, dan kepala sekolah madrasah melakukan orasi secara bergantian di panggung yang didirikan di depan Kantor NU.  Akibat aksi tersebut, sebagian Jalan dr Soekardjo menuju ke Alun-alun Tasikmalaya diblokade sementara. 

Ketua OSIS Masrasah Aliah Nadhlatul Ulama Tasikmalaya Alya Rahman mengatakan,  kebijakan full day school tidak cocok diterapkan di Kota Tasikmalaya. Sejak full day school diterapkan, waktu siswa untuk belajar pendidikan agama berkurang. Selain itu, beberapa kegiatan ekstrakulikuler juga dihapus karena siswa sudah terlalu lelah belajar. 

"Saya sebagai siswa menolak adanya full day school karena kami merasa lelah. Waktu bermain kami berkurang. Seharusnya kebijakan ini tidak paten diterapkan di seluruh sekolah di Kota Tasikmalaya, jangan menekan peserta didik, " kata Alya. 

Kepala SMA NU Asep Sutanto dalam orasinya juga berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak memaksakan diri untuk menerapkan full day school. Menurut Asep,  kebijakan sekolah sehari menbuat sekolah agama lambat laun mulai ditinggalkan. Padahal, Pemkot Tasikmalaya memiliki Peraturan Daerah terkait kebijakan sekolah agama di madrasah diniah. 

"Di sini banyak selolah agama, banyak pesantren, kalau sekolah full day school, kapan mereka ngaji? Jangan ngomong pendidikan berkarakter, tetapi pendidikan agama malah ditinggalkan," ucap Asep. 

Mengancam madrasah

Ketua Perkumpulan Guru Madrasah Kota Tasikmalaya Asep Rizal As'ary menuturkan, Pemkot Tasikmalaya perlu meninjau kembali penerapan full day school di Kota Tasikmalaya. Pasalnya Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan jika kebijakan full day school tidak perlu diterapkan di semua sekolah. 

"Perlu ada sosialisasi lebih mendalam terkait kebijakan full day school ini, termasuk di tasikmalaya. Daerah harus tegas, karena kita ini punya madrasah. Jumlahnya ada 900 madrasah di Kota Tasikmalaya," ucap Rizal. 

Menurut Rizal, kebijakan full day school lambat laun mengancam keberadaan madrasah diniah. Para siswa yang bersekolah di sekolah yang menerapkan full day school mulai meninggalkan madrasah diniah. 

"Bagaimana mereka bisa sekolah agama di madrasah diniah kalau sekolahnya saja sampai sore. Sekolah sampai jam 3, sementara diniah mulai jam 1. Kalau terus diterapkan, lama-lama full day school bisa menyingkirkan madrasah diniah," ucap Rizal. 

Meskipun Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan jika full day school tak wajib. Namun fakta dI lapangan, kebijakan tersebut tetap dijalankan. 

"Hanya istilahnya saja diganti, jadi penambahan jam kerja bagi guru. Tetap saja ujung-ujungnya sekolah sampai sore, murid jadi korban. Kami tunggu Disdik Kota Tasikmalaya, Wali Kota, dan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya untuk menyikapi penolakan kami," kata Rizal. 

Ketua PC GP Ansor Kota Tasikmalaya Ricky Assegaf menyebut pemerintah telah menghapus sejarah kesuksesan pendidikan madrasah yang susah payah mengeluarkan Indonesia dari zona keterbelakangan. 

"Ini namanya mengkebiri pendidikan madrasah. Permendikbud ini tidak memberikan kemaslahatan karena ada yang dirugikan dan cenderung dipaksakan. Mudah-mudahan pemerintah dalam hal ini Presiden, Mendikbud, termasuk pemerintah daerah dapat berpikir rasional dan memahami arti kemaslahatan secara utuh," ucap Ricky.***

Baca Juga

Swafoto di Langit Payung Geulis, Yuk!

 SENYUM Riska (25) merekah saat berdiri di bawah ribuan payung geulis yang terpajang di langit-langit pelataran Taman Kota Tasikmalaya, Jumat, 13 Oktober 2017. Sambil tersenyum, Riska mengarahkan ponselnya ke arah wajahnya.