Punya Nama Unik, Abah Kanjut Bertemu Bupati Purwakarta

Dedi Mulyadi dan Abang Kanjut/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan pesilat Abah Kanjut.*

Meski sudah berusia 85 tahun, seorang laki-laki tua memperagakan gaya silatnya di hadapan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Tak disangka tangannya masi kuat bahkan ketika Bupati mencoba melakukan tes sparing. Bupati dikejutkan dengan kuda-kuda kuat laki-laki tersebut.

Ternyata lelaki itu dulunya adalah seorang jawara di kampungnya. Lelaki itu berasal dari Desa Waluya, Kecamatan Waluya, Kabupaten Karawang.‎ Tetapi bukan jawaranya yang bikin dia bisa terkenal, Namun namanya, yang memang tak lazim didengar. Lelaki tua tersebut bernama Kanjut, nama yang terdengar tabu di kalangan masyarakat Sunda. Dianggap tabu karena kanjut dalam bahasa Sunda berarti alat reproduksi milik pria.

Nama saat dilahirkan Abah Kanjut sebenarnya bukan itu. Menurut penuturan Abah, awalnya dia bernama Rashid. Tetapi dia sakit-sakitan sewaktu namanya masih Rashid. Lalu tokoh masyarakat menyarankan agar Rashid kecil diubah namanya menjadi Kanjut. Saat itu Rashid sakit kuning parah, hingga perutnya membuncit. Namun saat diganti nama, tak lama Rashid langsung sembuh.

Ternyata ada pula cerita di balik terkenalnya Abah Kanjut.‎ Hal itu bermula saat pihak rumah sakit yang memotret KTP-nya. "Mulanya saya datang ke rumah sakit, karena sakit, tapi ternyata KTP saya difoto‎ oleh perawat di sana. Sekarang saya tiba-tiba dipanggil oleh Kang Dedi Mulyadi yang terkenal itu," kata Abah Kanjut dengan berbahasa Sunda, di Rumah Dinas Bupati Purwakarta, pada Kamis 27 Juli 2017.

Abah Kanjut juga melanjutkan, selain menjadi jawara di Kampungnya, dia juga pernah melanglangbuana hingga Cikarang Bekasi. Akibat kehebatannya itu, tak ayal dia digandrungi wanita-wanita pada saat itu. "Istri saya yang sekarang pun, mulanya pacaran sama orang. Tapi saya cabut golok, dan akhirnya pacar istri saya ketakutan. Istri saya pun akhirnya mau sama saya," ujarnya dengan tawa yang khas.

‎Tetapi zaman berganti, kini Abah Kanjut, bekerja selayaknya orang desa. Meski dia juga beternak kambing, tetapi kerja serabutan tetap dilakukannya. Seperti menjadi buruh tani di sawah sekitar kampungnya.

Tetapi kini dia merasa bahagia, karena Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi berikan hadiah spesial untuknya. Hadiah ini berupa kambing besar yang bisa menggantikan kambing-kambing kecil milik Abah Kanjut.

Hal ini dikarenakan ternak kambing miliknya selalu hasilkan kambing-kambing dengan berat tak seberapa. Sehingga dibutuhkan bibit kambing besar agar hasil ternak kambing yang dihasilkan juga besar.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pun dengan tawa mengatakan bertemu Abah Kanjut ada sebabnya. "Saya sering mengeluarkan kata kanjut kalau sedang bercanda. Tapi kan ada kata-kata sunda dari kanjut, seperti kanjut kundang yang berarti dompet kecil. Lalu kan‎jut na tarang, yang artinya malu dan sebagainya," ucapnya.

Dedi pun berikan apresiasi yang besar pada Abah Kanjut. Di usianya yang mencapai 85 tahun, Abah Kanjut masih bertenaga. Bahkan saat melakukan peragaan silat bersama Dedi Mulyadi, Abah masih cekatan lakukan tangkisan dan pukulan.

Oleh karenanya Dedi pun berharap, Abah Kanjut dapat menikmati masa tuanya, dengan bahagia. Selain itu Dedi juga harapkan taraf hidup Abah Kanjut bisa meningkat dengan bantuan yang diberikannya.

"Pas pulang saya suruh, sopir saya untuk mengantarnya. Hal ini dilakukan agar warga sekitar kampung Abah Kanjut bangga dengan ‎ Abah. Bahkan sopir saya, saya suruh mengantar Abah dengan mobil sedan," ujarnya.***

Baca Juga

Habib Luthfi Terkesan dengan Budaya Purwakarta

PURWAKARTA, (PR).- Ra'is Am Jamiyah Ahlu Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdiyah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, merasa  senang dan bahagia bisa berkunjung ke Kabupaten Purwakarta.