Cara Kaum Depok Lama Merawat Ingatan Sejarah

Tumpeng/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Sejumlah tumpeng berderet dalam peringatan hari jadi Kota Depok ke-303 tahun di pelataran Kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Jalan Pemuda, Minggu, 16 Juli 2017. Peringatan tersebut mengangkat tema persaudaraan kaum Depok lama dan pentingngnya merawat sejarah kota.*

NASI tumpeng telah berderet sepanjang bangku - bangku menunggu disantap. Namun, sejumlah pria justru tenggelam dalam obrolan santai siang itu. Sesekali gelak tawa berderai ketika mereka saling bercanda.Mereka seperti saling melepas rindu setelah jarang bertemu.

Demikian peringatan hari jadi Kota Depok ke-303 tahun dirayakan dengan sederhana di lapangan Kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Jalan Pemuda, Pancoran Mas, Depok, Minggu, 16 Juli 2017. Peringatan hari jadi Depok atau Depokse Dag menjadi ajang kaum Depok lama berkumpul dan menggelar ibadah syukur.

Kaum Depok lama merupakan sebutan bagi keturunan 12 marga eks budak tuan tanah Cornelis Chastelein. Eks Tenaga Pembukuan VOC itu membebaskan para budak yang mengelola lahannya di Depok pada 28 Juni 1714. Selain membebaskan budak, Chastelein juga mewariskan lahan lahan dan banguan miliknya.

Dua belas marga bekas budak itu adalah Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, Zadokh. Peringatan Depokse Dag urung dilaksanakan pada 28 Juni 2017 karena masih dalam suasana lebaran. YLCC akhirnya memilih memundurkan hari pelaksanaannya.

Hari pembebasan tersebut juga dirayakan sebagai hari lahirnya Kota Depok. Pasalnya, keturunan eks budak Chastelein yang mula - mula membangun dan mengelola Depok dalam sebuah sistem pemerintahan otonomi setelah tanah partikelir Chastelein diwariskan. Bahkan, Depok sempat memiliki presiden sendiri dalam bentuk gementee bestuur atau pemerintah kota praja. Peringatan hari jadi ke-303 tahun menjadi ajang kaum Depok lama merawat ingatannya agar sejarah kota tak gampang dilupakan.

Ketua Pengurus YLCC Eduard Jonathans menuturkan, peringatan hari jadi ke - 303 mengangkat tema bersatunya kaum Depok lama yang sebagian keturunannya berdiaspora ke wilayah lain di Indonesia dan Belanda. "Supaya mereka menjadi satu," ucap Eduard mengutip pesan Chastelein kepada para pewarisnya.

Alih generasi

YLCC, lanjutnya, juga memikirkan proses alih generasi. Generasi muda yang bakal menjadi pengurus yayasan dan segala asetnya tengah dipersiapkan. 

Para generasi muda bakal menjadi pemegang estafet selanjutnya yang kebagian tugas merawat sejarah Depok di masa silam. Eduard menuturkan, anak-anak muda telah dilibatkan dalam kepanitian perayaan hari jadi Depok.

Keterlibatan mereka membawa pengaruh yang signifikan dalam cara pandang hingga bentuk acara yang ditampilkan. Di tangan anak-anak muda, perayaan tak semata berkisar ibadah dan temu kangen semata. Eduard mengungkapkan, bentuk perayaan lanjutan Depokse Dag pada 29-30 Juli 2017 di Lapangan Kamboja bakal mengangkat budaya tradisional setempat. Permainan-permainan tradisional lama tak luput ditampilkan bersama dengan pengolahan kuliner tradisional Depok.

Kehadiran wahana permainan dan pengolahan makanan tempo dulu menjadi cara merawat sejarah Depok. Meskipun sejarah Depok versi YLCC belum sepenuhnya diakui pemerintah kota, Eduard tak mempersoalkannya.

Persoalan hari jadi Depok menjadi contoh. Hari jadi Depok dalam versi pemerintah merujuk pada pemisahan Depok dari Kabupaten Bogor pada 1999. Sedangkan kaum Depok lama memiliki versi sejarah yang lebih lama. Eduard mengaku siap memberikan bukti betapa panjangnya sejarah kota yang dikenal dengan ikon buah belimbingnya tersebut.  

YLCC, tuturnya, memiliki bukti dokumen surat wasiat Chastelein kepada para budaknya. Keberadaan bangunan bersejarah yang dibangun pada 1800-an juga menjadi bukti fisik Depok berdiri sejak ratusan tahun lalu. YLCC pun sering kedatangan para mahasiwa yang ingin mempelajari sejarah tua Depok.

Merawat sejarah lewat Ciliwung

Pentingnya merawat sejarah kota  disampaikan oleh warga Depok lama lainnya,  Mario Joseph Isakh (52). Mario mengaku masyarakat, terutama generasi muda mesti melek terhadap sejarah tempatnya tinggalnya. "Kalau melihat usia (Depok), beda tipis denga ibu kota negara," ujarnya.

Untuk itu, Mario merancang kegiatan lain sebagai alat pewarisan sejarah kepada generasi muda. Salah satu gagasan kegitan tersebut adalah arung Ciliwung. Dengan bekerjasama dengan pegiat lingkungan, warga bisa mengarungi Ciliwung dari Jembatan Grand Depok City hingga Panus.

Ciliwung pernah menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Depok di masa lalu. Di masa itu, warga yang bepergian ke Batavia atau Jakarta menggunakan moda angkutan sungai tersebut. Generasi muda tak cuma butuh cerita, kehadiran sungai, perahu, rakit, gedung tua, permainan lama membawa sejarah lebih lekat dalam ingatan mereka.***

Baca Juga

Gowes dan Jalan Kaki untuk Selamatkan Rumah Cimanggis

SEPASANG pria dan wanita menarik perhatian para pengunjung bangunan bersejarah Rumah Cimanggis pagi itu. Keduanya mengenakan pakaian putih dengan topi bak meneer dan noni Belanda di masa lalu.

Waspadai Pelecehan Seksual di Jalan Raya

DEPOK, (PR).- Aksi pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi di Jalan Kuningan Datuk, Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Kota Depok.