Wartawan Kontributor atau Koresponden Berhak Mendapat THR dari Perusahaan Media

Ilustrasi Wartawan/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Para wartawan mewawancarai tersangka peredaran narkoba di Mapolresta Depok, Jalan Margonda Raya, Jumat 12 Mei 2017. Sepekan sebelum lebaran, sejumlah pewarta Kota Depok berstatus kontributor/koresponden belum mendapatkan THR dari perusahaan medianya.*

DEPOK, (PR).- Sepekan sebelum lebaran, sejumlah wartawan Kota Depok yang berstatus kontributor atau koresponden dan stringer ‎tak kunjung mendapatkan THR atau tunjangan hari raya. Para pewarta mendesak perusahaan media segera memenuhi kewajibannya memberikan THR.

Wartawan dengan status pekerja lepas atau tidak tetap berhak mendapatkan THR. Merujuk Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No 6 Tahun 2016, pemberian THR menjadi kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan tanpa membeda-bedakan status pekerjanya.

Pasal 2 peraturan tersebut menyatakan, pengusaha wajib memberikan THR keagamaan kepada pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja satu bulan secara terus-menerus atau lebih. Namun, status pekerja tak tetap yang disandang pewarta menjadi dalih perusahaan tak memberikan THR.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Kelompok Kerja Wartawan Kota Depok Miftahul Khoer. Sebagian pewarta yang tergabung dalam Pokja itu tak mendapat THR karena persoalan status kepegawaian. ‎"Padahal pemerintah berulang kali telah mengingatkan bahwa THR adalah hak bagi seluruh pekerja termasuk pekerja media," kata Miftahul saat dihubungi, Senin 19 Juni 2017. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan juga jelas menyebutkan, ‎THR diberikan kepada pekerja yang mempunyai hubungan kerja perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau waktu tertentu.

Oleh karena itu, kategori pekerja lepas seperti kontributor dan koresponden masuk sebagai penerima THR. ‎"Nyatanya, hingga hari ini sebagian besar koresponden media terutama di Depok tidak menerima THR dengan alasan status mereka bukanlah pegawai tetap," tutur Miftahul.

‎Dia menegaskan, pihaknya mendorong perusahaan media bisa menunaikan kewajibannya memberikan THR kepada koresponden/kontributor. "Tak ada alasan untuk tidak memberikan THR karena aturannya sudah cukup jelas. Bahkan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri beberapa kali mengingatkan," ucapnya.

Banyak hak tak terpenuhi

Menurut Miftahul,‎ perusahaan media tidak perlu takut rugi gara-gara memberikan THR kepada koresponden/kontributor. "Toh selama menjadi kontributor, hak-hak yang diperoleh wartawan daerah tidak semua terpenuhi mulai dari BPJS Kesehatan, Ketenagakerjaan dan tunjangan lainnya seiring pendapatan mereka hanya diperoleh sesuai jumlah berita yang tayang," tuturnya.‎

Pemerintah juga didesak menegakkan aturan Permenaker No 6/2016 terkait hak THR kontributor/koresponden. "Jangan sampai peraturan hanya dipandang sebagai imbauan belaka tanpa tindakan yang tegas," ucap Miftahul.

Hal senada dilontarkan Ady, wartawan media online di Depok. Dia mengaku, belum ‎‎menerima THR dari perusahaannya hingga kini. Padahal, masa kerjanya sudah mencapai satu tahun. Dia berharap, hak-hak para wartawan mendapatkan THR dipenuhi perusahaan media. Tak hanya itu, perusahaan juga wajib memberikan kehidupan yang laik bagi pekerja media. "Agar risiko dengan hasil yang yang didapat (penghasilan) pun setimpal," ucapnya.‎

‎Imam Hamdi, pe‎warta Depok lainnya setali tiga uang. Menurutnya, tidak terpenuhinya hak wartawan mendapat THR oleh perusahaan media berdampak terhadap profesionalitas kerja sang pewarta. "Jangan sampai karena dia tak mendapat THR dari kantornya, (dia) mencari THR di tempat lain," tuturnya. Kode etik jurnalistik pun diterabas karena persoalan kebutuhan hidup yang meningkat menjelang Ramadan.***

Baca Juga

Polisi Gagalkan Tawuran Remaja di Depok

DEPOK, (PR).- Aparat Kepolisian Sektor Pancoran Mas, Kota Depok membubarkan sekelompok remaja yang diduga akan melakukan tawuran di Kampung Rawageni, RT/RW 2, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Selasa, 30 Mei 2017. Seorang remaja dita

Margonda Tercoreng Semrawutnya Kabel

DEPOK, (PR).- Kondisi kabel-kabel yang melintang di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, sangat semrawut. ‎Selain mengotori wajah kota, keselamatan warga juga terancam karena kabel yang centang perenang tersebut.