Para Pejuang Emansipasi Ini Justru tak Peduli Hari Kartini

"Kartini" Pembuat Genteng/TATI PURNAWATI
SEJUMLAH buruh perempuan tengah bekerja di pabrik genteng di Desa Burijul, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jumat 21 April 2017.*

MAJALENGKA, (PR).- Tak semua perempuan menyadari Hari Kartini yang jatuh Jumat 21 April 2017 ini. Ironisnya, mereka justru merupakan perempuan yang sangat menjunjung nilai emansipasi, nilai yang dijunjung tinggi RA Kartini. Tak hanya itu, para perempuan ini juga menjadi pejuang bagi keluarganya.

Mereka adalah para perempuan buruh pembuat genting di Kabupaten Majalengka. Melalui hasil wawancara singkat dengan para buruh genting perempuan Jatiwangi, sentra pembuatan genting di Majalengka, tak seorang pun peduli dengan Hari Kartini. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa bekerja dengan baik agar dapat menghasilkan uang untuk keluarga.

Sebut saja tiga pekerja pembuat genting ini, Yeni, Mutiah dan Yayat. Warga Desa Burujul, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka ini justru merupakan Kartini sejati yang rela banting tulang dari pagi hingga siang untuk membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Tak hanya bekerja membuat genting, mereka juga berperan penting di keluarganya sebagai ibu rumah tangga.

Mereka mengaku sudah belasan tahun menjadi buruh pabrik genting. Peran mereka di pabrik genting sebagai tukang kerat dan angkut genting. Mereka bekerja dalam tim bersama sejumlah buruh laki-laki sekampungnya.

"Kami tidak pernah memperingati Hari Kartini. Bahkan, kami juga tidak pernah mengingat kapan Hari Kartini," kata Mutiah (51). Ia mengaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Meski demikian, Mutiah mengaku ingat bahwa ia pernah memperingati Hari Kartini saat duduk di sekolah dasar dulu. Setelah itu, ia langsung bekerja di pabrik genting bersama puluhan perempuan lainnya. Tujuannya satu, mencari nafkah untuk keluarga.

Tak perlu emansipasi lagi

Hal senada disampaikan Yeni yang sudah 12 tahun menjadi butuh pabrik genting. Hal menarik adalah saat ia ditanya soal peran Kartini untuk memperjuangkan hak perempuan. Ia berpendapat, emansipasi tak perlu diperjuangkan lagi karena perempuan kini sudah bekerja menyamai laki-laki. Ia mencotohkan dirinya sendiri sebagai buruh pabrik yang bekerja bersama laki-laki.

Meski harus berkotor-kotor setiap hari dengan tanah liat saat membuat genting, mereka mengaku tak pernah gengsi. Mereka hanya tersenyum saat membahas tentang peringatan Hari Kartini. Ujung-ujungnya, mereka justru menjawab "Teu terang Hari Kartini (tidak tahu Hari Kartini)," ungkapnya.

Ternyata, tak hanya Hari Kartini yang tak mereka pedulikan. Mereka bahkan tak terlalu ngeh dengan penanggalan kalender Masehi. Yag mereka pedulikan hanyalah akhir minggu, saat mereka menerima upah mingguan. Besaran upah mereka adalah Rp 35.000 per hari yang diakumulasikan setiap minggu.

Mereka hanya berharap, pabrik genting tempatnya bekerja, bisa terus beroperasi. Para perempuan ini menggantungkan harapannya pada pabrik ini agar keluarganya tetap bisa makan setiap hari. Ia juga berharap, pemerintah bisa turun tangan meringankan beban mereka. Salah satunya dengan membebaskan iuran BPJS agar kesehatan keluarga mereka terjamin.***

Baca Juga

Bale Malang, Kampung Dengan Hanya 7 Rumah dan tak Pernah Bertambah

MAJALENGKA, (PR).- Sejak dulu, rumah di Blok Bale Malang, Kabupaten Majalengka tidak pernah bertambah. Kampung yang terletak di Desa Balagedong, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka itu hanya dihuni tujuh rumah. Bahkan kini telah berkurang menjadi lima rumah.

Anak Diperkosa Ayah Tiri Berulang Kali

MAJALENGKA,(PRLM).- Seorang ayah tiri AA (50) warga Ligung, Kabupaten Majalengka tega cabuli anak tirinya SRA (15) berulang kali disertai ancaman. SRA ingin melaporkan tindakan itu, sejak diperkosa pertama kali, namun takut terhadap ayah tirinya yang terkenal tempramental.

Pencuri Sepeda Motor Tewas Masuk Jurang

MAJALENGKA, (PR).- Edi Kacang (30) warga Blok Rabu, Desa Majaselatan, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, tewas setelah melompat dari jurang dengan ketinggian sekitar 50 meter. Ia tewas di kawasan gua lalay, Blok Bujur Munding, Desa Sukasari Kaler, Kecamatan Argapura, Rabu, 17 Mei 2017.